General Manager The 1O1 OJ Hotel Malang, Anzar Maulana


MALANG _ Sebelum berada di jajaran Top Management, General Manager The 1O1 OJ Hotel Malang, Anzar Maulana pernah mengalami jatuh bangun. Memulai karier sebagai resepsionis membuat Anzar mempelajari banyak hal.
Pria asal Makassar ini keliling Indonesia untuk menekuni dunia hotelier. Selama perjalanan panjang tersebut, Anzar pernah bertanggung jawab terhadap para tamu ketika Bom Bali I terjadi. Semua kisah karier Anzar di dunia perhotelan ini diawali sekitar tahun 1994. Kala itu Anzar gagal dalam tes prajurit angkatan bersenjata dan memutuskan untuk putar haluan ke dunia perhotelan. Bertepatan dengan adanya lowongan kerja besar-besaran untuk salah satu hotel yang ada di Balikpapan.
“Pada kesempatan tersebut, saya berhasil diterima kerja sebagai resepsionis dan bertahan hingga 2,5 tahun. Posisi terakhir sebagai night auditor,” terang dia kepada Malang Post.
Pada 1996, Anzar kembali ke kota kealahirannya dan berdinas di sebuah Hotel di Makassar selama satu tahun. Setahun kemudian ia berpindah ke Solo dan bekerja di Hotel Novotel. Singkat cerita, pada 1998, terjadi kerusuhan dan hotel tempatnya bekerja nyaris diserang demonstran.
Pada saat genting tersebut, seluruh tamu hotel diasingkan ke Yogyakarta dan seluruh karyawan hotel tidak ada yang boleh pulang. “Ketika sedang diserang. Para karyawan yang berjumlah sekitar 120 orang dan jajaran top management membuat pagar betis. Kami bergandengan melindungi hotel agar tidak diserang oleh para demonstran. Alhamduliah, semua berhasil dan kami semua selamat,” papar dia.
Hal tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Setelah kerusuhan berakhir, pihaknya bekerja keras untuk mengembalikan okupansi kamar. Anzar mengaku, proses rekondisi tersebut memakan waktu hingga tiga bulan. “Satu bulan pertama tidak ada tamu sama sekali. Rasanya sedih kalau ingat. Perlahan, kondisi mulai membaik dan pada 1999. Kemudian, di tahun yang sama, saya mendapat nominasi sebagai department of the year,” jelas dia.
Setahun berselang, sekitar tahun 2000, Anzar pindah ke Pulau Dewata. Namun tahun 2002, insiden Bom Bali I ikut mewarnai perjalanan karier Anzar. “Ketika bom bali pertama meledak, saya bertugas sebagai Manager On Duty (MOD) dan bertanggung jawab terhadap ribuan tamu. Ketika semuanya panik, saya harus tenang dan memastikan semua tamu berada di dalam hotel. Ketika dicek, semuanya selamat dan sedang makan malam. Posisi hotel kami jauh dari lokasi,” jelas dia.
Pasca kejadian tersebut, banyak orang yang merasa trauma untuk datang ke Bali. Menurutnya, trauma masyarakat masih melekat tajam selama kurang lebih satu tahun. Namun seiring dengan berjalannya waktu, promosi dan gerakan yang dilakukan untuk memulihkan wisata di Bali, para wisatawan mulai kembali datang dan okupansi kamar kembali penuh.
“Perlu kerja keras untuk menarik hati tamu. Ketika itu, hotel menawarkan berbagai macam promo andalan dan juga mengadakan acara charity,” lanjut ayah tiga anak ini.
Anzar menuturkan, bukan hal mudah melakukan recovery hotel setelah masa genting. Ya, pasca insiden Bom Bali I, Anzar bersama timnya susah payah menyusun segala strategi agar okupansi tetap stabil di tengah suasana genting. “Saat seperti itu, kami menawarkan berbagai macam promo. Membangun kepercayaan kepada masyarakat bahwa wilayah kami aman. Perlu kerja keras,” kata dia.
Setelah Bali berhasil di-recovery, Anzar melanjutkan perjalanan kariernya ke beberapa hotel. Seperti Tangerang, Batam, Makassar, Papua, Medan, Balikpapan, Manado, Bali, Yogyakarta, Cikarang dan berakhir di Malang. “Untuk beberapa kota saya singgahi lebih dari satu kali. Ini merupakan perjalanan yang menyenangkan. Ditempatkan ke beberapa daerah dan mempelajari berbagai macam budaya dan karakter orang di sana,” lanjut lulusan D3 Universitas Tadolako, Palu, Sulawesi Tengah tersebut.
Anzar menambahkan, berbagai perjalanan dan pengalaman hidupnya tersebut meninggalkan beberapa kesan dan pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, menjadi orang sukses bukanlah hal mudah dan banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. “Dalam meraih sukses, harus ada kerjasama tim. Dalam membangun sebuah tim, harus ada visi, misi dan tujuan yang ditanamnkan di dalamnya. Dalam bisnis perhotelan, semua departemen saling bahu membahu dan merangkul agar bisa menjadi tim yang solid. Kalau tim solid, hotel akan maju pesat dan hal tersebut merupakan sukses kita bersama,” tandas Anzar.
Selain itu, Anzar juga menegaskan, dalam membangun kekompakan tim, pihaknya harus menanamkan visi misi ke dalam hati setiap karyawannya. Menurutnya, masing-masing karyawan harus memahami pasar dan juga harus memahami karakter setiap departemen yang dimiliki. “Kalau hal itu sudah terjalin, kerja tim bisa lebih ringan. Harus satu visi misi dulu agar bisa membangun hotel. Bagi saya, bekerja dengan jujur, disiplin dan fokus adalah hal utama. Lebih penting lagi, jangan lupakan sang pencipta. Tanpa doa dan usaha, kita tidak bisa sukses,” tegas Anzar.(tea/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :