Syamsu S Soeid, Seniman Pemburu Permainan Kuno


MALANG - Empat anak muda ini tergesa ingin mendapatkan kesempatan memegang batang bambu yang di tengahnya diberi orang-orangan sawah. Mereka ingin memastikan, bambu itu benar-benar bisa ‘gila’ dan bergerak kemana-mana.
“Pejamkan mata kalian,” ujar Syamsu S. Soeid, seniman asal Ngaglik. Keempat anak itu pun memejamkan matanya. Saat mata terpejam, mereka mulai merasakan bambu yang awalnya ringan, terasa semakin berat dan mulai bergerak. Perlahan, cepat, kemudian menggila.  Empat anak itu terhuyung. Bayangkan!, empat anak tak kuat menahan bambu yang terus bergerak.
Apa yang dilakukan anak-anak bersama Syamsu bukanlah sesuatu yang berbahaya. Mereka sedang bermain. Memainkan dolanan zaman dulu, Bambu Gila, yang sekarang telah hilang. Belum punah, tapi menjelang dilupakan oleh game-game dalam gadget.    
Syamsu mengajak anak-anak itu bermain dalam Festival Kampung Anyar, Sabtu (5/7/17) lalu. Tahun sebelumnya, pada festival yang sama, Syamsu mempertunjukkan permainan Nyi Putut. Di mana sebuah boneka besar yang menggunakan kurungan ayam, bisa bergerak ke sana kemari, padahal digotong oleh banyak orang.
 “Semua itu adalah permainan yang dibuat oleh leluhur kita yang sudah hilang. Saya coba memunculkan kembali, agar anak-anak kita tahu. Sekaligus menjawab pertanyaan saya ketika masih kecil dulu,” ujar Syamsu.
Seniman kelahiran 19 April 1960 ini terus mencari berbagai permainan dan dongeng anak yang dulu pernah ada. Salah satu yang ditemukannya adalah Nyi Putut, Bambu Gila dan Dongeng Kentrungan.
Syamsu melihat permainan Nyi Putut pertama kali pada 1968, saat ia masih kelas 2 SD. Waktu itu Mbah Sari’a dan anaknya Mbah Muk, setiap bulan Purnama selalu memainkan Nyi Putut di bawah Pohon Nangka besar di belakang rumah Syamsu.
Sebuah boneka yang terbuat dari kurungan ayam dan gayung yang terbuat dari batok kelapa disusun sedemikian rupa, hingga mirip sebuah boneka raksasa. Konon, gayung yang dibuat Nyi Putut adalah gayung hasil curian milik tetangga. Di tengah areal permainan, lengkap ada dupa dan sesajen.
Di bawah sinar purnama, Mbah Sari’a dan Mbah Muk menunjukkan permainan Nyi Putut dengan begitu bagus. Kala itu, Nyi Putut yang dipegang oleh Syamsu dan teman-temannya pun bergerak menggila. Bukannya takut, anak-anak makin antusias dan bersemangat memegang Nyi Putut. Mengikuti pergerakannya. Ke sana ke mari. Lelah dan keringat makin membuat permainan terasa asik.  
“Selain bergerak, Nyi Putut begitu berat. Kami yang masih kecil paling suka dengan cerita horor dan berbau mistis. Nyi Putut ini sangat kental mistisnya, makanya begitu terkenan di benak saya,” ujar Syamsu.
Hari dan tahun berganti, Syamsu tak lagi mendapati permainan Nyi Putut. Purnama pun lewat begitu saja, tanpa ada kenangan dan aktivitas yang membuat purnama ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun jalan hidup rupanya “mempertemukan” Syamsu dengan Nyi Putut kembali. Tahun 2007, 10 tahun lalu, Syamsu melihat lagi permainan ini dimainkan di Cembo. Ingatan Syamsu tentang Nyi Putut pun keluar lagi. Ditambah saat itu, ia melihat tiga orang asing trans (kesurupan) saat Bantengan Nuswantara.
 “Pertanyaan saya waktu itu, masak sih ada arwah yang masuk di Nyi Putut. Saya semakin tidak yakin ketika melihat pola trans orang asing dari beberapa negara berbeda-beda,” ujarnya.
Dari apa yang ia lihat, Syamsyu yakin bahwa, ketika permainan itu dimainkan, bukan karena energi luar memasuki tubuh manusia hingga membuat mereka kesurupan. Namun lebih pada energi manusia yang membuat boneka itu bergerak, bukan karena ada arwah yang mengisi boneka Nyi Putut tersebut.
 “Nyi Putut maupun bambu gila ini bergerak, kala ada lebih dari dua orang yang memunculkan energi berbeda, hingga terjadi tarik menarik. Satu menarik, yang lain merasa berat dan menahannya, hingga terjadi tarik menarik memunculkan kesan ada yang menggerakkan,” ujar Syamsu menjelaskan secara logis.
Dari pemahaman itu, Syamsu mengatakan bahwa orang dahulu selalu membuat permainan yang penuh filosofi dan tujuan. Pada dua permainan tersebut, para leluhur sebenarnya ingin membangkitkan kesadaran anak-anak, bahwa ada kekuatan dahsyat pada anak.
 “Dalam setiap permainan yang dibuat ada maksud dan pesan moral. Orang sekarang nyaris tidak mampu membuat permainan seperti yang dilakukan orang dulu,” ujar Syamsu.
 Dalam setiap permainan selalu ada kebersamaan, mengajarkan kepekaan sosial dan olah rasa. “Anak-anak sejak kecil diajari olah rasa lewat pemainan mereka, sekarang tidak ditemukan lagi,” ujarnya.
Karena itulah, Syamsu terus berburu permainan tempo dulu untuk dibangkitkannya kembali. Namun ia selalu memberikan sentuhan pendekatan akal, hingga ada satu edukasi yang didapatkan.
Termasuk ia berani melepas pakem permainan tradisional tersebut, agar memunculkan kecerdasan serta kreativitas dan kepekaan anak-anak itu sendiri. Sekaligus ingin menghilangkan kebiasaan orang tua yang selalu menyalahkan anak-anak mereka.
Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Syamsu dalam mencari permainan tempo dulu yang sudah hilang, karena ia masih begitu ingat setiap permainan yang pernah diikutinya. Namun, sampai saat ini ia masih sulit menemukan literasi terkait dengan permainan-permainan tersebut.
 “Saya mencoba membukukannya, tidak hanya permainan, ada dongeng geguritan 16 judul dan cerita anak lima judul yang sedang saya siapkan menjadi buku,” ujar Syamsu.(dan/han)

Berita Lainnya :

loading...