Dongkrak Harga Jual, Harum Aromanya Hingga Berbagai Daerah

 
KOPI Hutan Pinus Bendosari mulai populer di kalangan penikmat kopi. Aromanya dinikmati di kota-kota besar hingga Malaysia. Cita rasa kopi kaki Gunung Kawi itu terangkat karena perjuangan Muhammad Khoirun SE. Kepala Desa Bendosari ini sempat susah payah mencari jalan agar Kopi Hutan Pinus Bendosari bermanfaat secara ekonomi bagi warganya. 
Sekitar tahun 1998 lalu, warga Desa Bendosari, Kecamatan Pujon menjual biji kopi secara langsung ke pasar. Di antaranya Pasar Pujon, Pasar Ngantang dan tengkulak yang datang ke petani di Desa Bendosari. Melihat cara berdagang tersebut, Muhammad Khoirun SE langsung prihatin.
“Karena dihargai murah,” ucapnya. 
Berawal dari keprihatinan itu, Khoirun membulatkan tekadnya.Yakni bagaimana caranya agar sebisa mungkin harga jual kopi di Desa Bendosari tak terlalu murah dan dapat bersaing di pasar.
“Akhirnya muncul ide mengapa tidak membuatnya langsung disangrai dan dijadikan bubuk,” terangnya.
Khoriun pun mulai berinovasi. Semula memang sulit karena di tempatnya tersebut tidak memiliki mesin roasting (sangrai). Dia sempat mencari mesin roasting hingga ke berbagai tempat di Kota Malang namun tak membuahkan hasil. Kesulitan tersebut tak membuat Khoirun putus asa.
“Langsung saja saya bawa ke Pare, Kediri untuk sangrai biji kopi. Selain dekat juga disana ada kenalan,” kata bapak dua anak ini. Khoirun sempat berbulan-bulan pulang pergi Pare-Bendosari hanya untuk sangrai biji kopi.  
Itu cerita lama yang dilakoninya, kini sudah berubah. Sejak akhir tahun 2017 lalu melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Maju Mapan Bendosari, pemerintah pusat  memberikan bantuan mesin roasting. Di Bumdes ini,  biji kopi dihargai Rp 30.000 per kg sementara kalau langsung jual ke pasar hanya Rp. 20.000 per kg. Tetapi harus ada syarat khusus. Biji kopinya harus benar - benar diseleksi. 
“Kita minta yang petik merah,” ungkapnya.
Sebab akan berpengaruh pada rasa yang dihasilkan. Setelah menaikkan harga jual kopi, Khoirun dihadapkan tantangan baru. Yakni  bagaimana caranya kopi hasil Bendosari laku keras di pasaran. Apalagi harga kopi bubuk olahan yang dibandrol harga Rp 45.000 per 200 gram. Harga tersebut sebenarnya harga wajar walau terkesan tak ramah kantong lantaran masuk kategori kualitas premium. Karena dianggap mahal, hanya beberapa orang saja yang sempat meliriknya. 
Berbekal media sosial, dia mencoba pasarkan. Mulai dari Facebook, Twitter, hingga Instagram dicobanya.  Gaya promosi kekinian yang diterapkan alumnus Unisma itu membuahkan hasil. Kedai- kedai kopi dan perorangan di Kota Malang hingga kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung hingga Jakarta tertarik. Penjualan pun langsung meningkat.
“Selama empat bulan ini sudah habis empat kuintal, sekarang masih mencari lagi stoknya,” katnya bangganya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...