Modal Percaya, Gaet 300 Klien Perusahaan


Penipuan berkedok bisnis online terus menghantui Kota Malang. Polres Makota bahkan menerima 30 laporan selama 2017 terkait penipuan online. Situasi ini, tidak mengendurkan pengusaha online Farco Leather Gallery, Fadil Arif, guru SMKN 4 Malang. Dia sudah melewati pasang surut melakoni bisnis sejak tahun 1996 dan kini menjalin lebih dari 300 perusahaan nasional dan internasional sebagai pengorder rutin.
Saat diwawancarai Malang Post tentang isu penipuan online, Fadil menyebut bahwa masih banyak pengusaha online yang punya kredibilitas dan bisa dipercaya. Fadil pun memakai modal kepercayaan dan reputasi untuk memastikan pelanggan atau kliennya tak pernah kecewa dengan barang pesanan darinya.
“Berbisnis online itu memang mengandalkan kepercayaan. Banyak klien yang tak pernah ketemu langsung dengan saya. Hanya lewat sambungan telepon, saya biasanya langsung dapat pesanan dari mereka,” kata Fadil kepada Malang Post kemarin. Menurut pria yang juga guru Matematika di SMKN 4 Malang tersebut, menjaga kepercayaan inilah yang membuatnya bertahan 300-an lebih perusahaan lokal maupun internasional.
Farco Leather Gallery merupakan bisnis online yang menjual berbagai macam produk olahan kulit, seperti dompet, jaket, tas, suvenir, sampul buku, agenda, sampul paspor, kantong identitas, gantungan kunci sampai vest atau rompi. Fadil menyebut bahwa perusahaan yang mengorder produk kulit darinya, bukan perusahaan sembarangan.
Sebaliknya, institusi pemerintahan hingga BUMN, pernah memesan produk dari toko onlinenya. Pertamina, Mahkamah Konstitusi, Dirjen Pajak, BRI, Kementerian PUPR, PLN, Kementerian Agama, BNI, Kementerian Agraria, Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan, adalah beberapa nama besar yang mengorder produknya.
“Mereka sama sekali tak pernah temui saya. Tapi, ada satu cara untuk menjaga kepercayaan. Saat mereka order, kita kirim contoh atau sampel barang,” kata pria yang tinggal di Jambearjo Tajinan ini. Cara tersebut, terhitung efektif. Apalagi, pengelola website grosirkulit.com itu juga mencantumkan order yang masuk di internet.
Lewat unggahan order di websitenya, para pengorder bisa mengetahui keaslian perusahaannya. Meskipun saat pagi hingga siang mengajar matematika di SMKN 4 Malang, Fadil langsung jadi pebisnis online di sore hari. Pria kelahiran 1964 tersebut menjelaskan, kepercayaan yang dihimpun dari klien membuat nama perusahaannya makin meluas.
Produk kulit perusahaan onlinenya, merangkak ke pasar internasional. “Produk Farco juga meluas hingga luar negeri. Saya pernah kirim order ke Timur Tengah, Timor Leste, hingga Asia Tenggara,” sambung bapak dua anak tersebut.
Dia mengatakan, meskipun saat ini sentimen negatif diarahkan kepada bisnis online karena banyaknya kasus penipuan online di Kota Malang, Fadil tetap yakin dengan perusahaannya. Dia juga tetap yakin orderan tidak akan surut karena tiap bulannya minimal ada pesanan dari belasan klien langganan.
“Seberat-beratnya bisnis online, jualan lewat internet itu lebih besar peluangnya ketimbang jualan secara offline,” tambah Fadil. Metode pemasaran serta jangkauan bisnis online memang jadi keuntungan dan kelebihan yang dimiliki Farco Leather Gallery saat ini. Namun, alumnus UMM ini tetap berpegang pada prinsip, kualitas barang sama pentingnya dengan kemasan.
Sehingga, Fadil mengawasi rincian produk kulit perusahaannya dengan sangat detail. “Saat ini saya gandeng 4 pengrajin home industry untuk memenuhi order normal dari perusahaan-perusahaan klien. Kita punya standar dan ini yang bikin produk kita beda dan disukai, ” kata Fadil.
Untuk memenuhi pesanan, Fadil juga mengambil bahan baku kulit sapi maupun kambing dari dua kota luar daerah, yaitu Magetan dan Garut. Walaupun saat ini usahanya sudah stabil, Fadil tak langsung mengecap kesuksesan seperti sekarang. Pada tahun 1996, Fadil mulai menekuni bidang produk kulit namun bukan pengusahanya.
“Saya mengawali dari jualan, pakai jual titip dari toko ke toko. Tapi, saat saya lihat pasar yang menjanjikan, akhirnya saya berpikir untuk mendirikan perusahaan sendiri daripada harus menjual barang orang lain. Saya ajak perajin kulit, dan buka toko di Malang dan Jatim,” kenang Fadil.
Tokonya sempat berdiri di Matos hingga Kendensari, Tanggulangin Sidoarjo. Krisis moneter yang mengguncang Indonesia pada 1998, ikut menggoyang usahanya. Demi menyambung usahanya, Fadil mendatangi koperasi-koperasi untuk kembali menerapkan sistem titip penjualan barangnya, di penjuru Kabupaten Malang.
Upayanya ini berhasil. Bisnisnya mampu bertahan melewati badai krismon. Hanya saja, tahun 2006, usahanya dihadapkan pada kesulitan bahan baku. Dia pun sempat tertipu oknum sales yang menggelapkan barang dagangannya. Pukulan demi pukulan dalam bisnis ini, membuatnya tahan banting.
Fadil akhirnya mulai mengenal bisnis dan manajemen, dan memutuskan bahwa bisnis modern bukan lagi offline, tapi online. Dengan bergabung bersama komunitas, Fadil belajar tentang online shop, serta website gratis maupun berbayar. Setelah mengawali jualan online secara gratis lewat blog, Fadil membeli website berbayar tahun 2010 untuk mempromosikan produk kulit hingga perusahaannya punya nama seperti sekarang ini.(fino yudistira)

Berita Lainnya :