Dulu Berkali-kali Bangkrut, Kini Mendirikan Yayasan Pondok Pesantren


GAGAL bisnis berkali-kali tak membuat Transbara Wahyu Firmansyah terpuruk. Pria berusia 21 tahun yang pernah jual roti goreng saat duduk di bangku SMK itu justru bangkit. Ia selalu percaya bahwa ketika manusia mengutamakan akhirat maka Allah SWT atau Tuhanmu akan mengurus duniamu. Kini Bara, sapaan akrab Transbara Wahyu Firmansyah mendirikan sebuah yayasan pondok pesantren dan sekolah bagi anak-anak kurang mampu.
Bisnis merupakan dunia Bara sejak kelas 10 SMK. Saat itu, tahun 2013 lalu, ia mulai jualan roti goreng di sekolah. Usaha sambil sekolah bukan tanpa alasan. Ia ingin menambah uang saku. Keberuntungan pun langsung menyertai Bara ketika awal merintis usahanya. Awalnya hanya membawa 20 potong roti goreng, kemudian permintaan meningkat hingga suatu hari bisa menjual hingga 250 potong roti goreng.  
Usaha yang dirintis Bara remaja membuahkan hasil. Dari semua hasil penjualannya, ia kumpulkan untuk menambah modal usaha. Karena kerja kerasnya usaha roting goreng  berkembang dengan memiliki tujuh reseller. Setiap reseller digajinya dengan kisaran Rp 200 hingga Rp 300 ribu per bulan.
Menekuni usaha sambil sekolah dilakoni penuh tantangan. Apalagi pihak sekolah pernah mengetahuinya lalu memberi peringatan. “Karena waktu itu saya membawa banyak kresek isi roti goreng, tas saya ketinggalan, sampai saya dipanggil satpam dan guru BK dua kali, dimarahin juga,” kenangnya.
Tak sekadar dimarahin, tapi guru memberinya target setiap semester harus rangking satu. “Alhamduillah saya berhasil mencapai target yang diberikan guru  BK tersebut,” kata Bara.
Selain menambah uang saku, motivasi kedua berjualan roti goreng juga ingin meringankan beban orang tua. Karena saat itu penjualannya lumayan, ia bisa mengantongi omset hingga Rp 5 juta per bulan. Untuk mencari tambahan uang saku, dia juga sempat menjadi joki kantin. Setiap anak yang memakai jasanya untuk membeli makanan di kantin membayarnya Rp 1000 per anak.
Naik kelas 11 SMK, Bara beralih jualan jersey online yang dipelajarinya dari salah seorang temanya di akun Fanpage. Pendapatannya jualan jersey terbilang lumayan. Bahkan memiliki banyak reseller di luar negeri. Setiap minggunya ia mengirim barang dagangannya ke Filipina, Singapura hingga Jepang.  Dia juga bergabung di salah perusahaan MLM.  
Kala berjualan jersey, Bara  merupakan satu-satunya siswa tingkat SMA dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam perusahan MLM. Bahkan berhasil merekrut siswa dari SMA lainnya untuk bergabung.
“Hingga suatu ketika perusahaan MLM yang saya ikut bangkrut, ownernya di penjara. Dari situ semuanya berantakan hingga membuat saya down, tidak ada keuntungan sama sekali hanya balik modal,” ujarnya.
Saat down itulah Bara bangkit lagi dan memulai semuanya dari awal. Berbagai macam pekerjaan dilakoni. Mulai jualan dibidang konveksi, jadi makelar hingga jualan HP. Setelah mampu bangkit disaat kelas 12 SMK, Bara mengambil franchise produk es krim durian.
Penjualan es krim durian bisa dikatakan berkembang dengan pesat. Banyak reseller yang tergabung bersamanya, hingga menuai omset mencapai Rp 20 juta per bulan.
Dalam perjalanannya tidak selalu mulus, beberapa kali Bara sempat ditipu mitra bisnisnya. Menghadapi dunia bisnis penuh persaingan, Bara tak pernah patah semangat. Ia selalu optimis.
Lulus SMK, memilih bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Namun Bara berhenti dari pekerjaannya itu llu bergabung dalam sebuah perusahaan semacam trading. Awalnya berharap bisa bertahan di Jakarta, ia malah merugi hingga Rp 20 juta.
Saat itulah hidupnya benar-benar di bawah. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Agar bisa menyambung hidup Bara mengambil pinjaman dan dana-dana lainnya. Untuk menutupi hutang-hutang yang semakin bertambah, dia rela berjualan es krim di sekolah-sekolah.
Jakarta tak bersahabat, Bara kembali ke Malang. Ia mendapat tawaran untuk mendirikan sebuah yayasan pondok pesantren dan sekolah bagi anak-anak kurang mampu. Tawaran dari ustadnya itu diiyakan walau kala itu Ia tidak memiliki dana atau ilmu keagamaan yang mumpuni. Tapi semangat untuk belajar mendorongnya memperkuat ilmu agama.
“Dalam waktu dua tahun akhirnya pondok pesantren dan sekolah bernama SMP Khalifah Islamic Boarding School berdiri. Meskipun dalam perjalanannya banyak mengalami masalah namun hingga kini kami terus berusaha menjadi lebih baik,” tandas Bara.
Disisi lain ia juga memiliki café di Malang yang didirikan bersama dua  orang lainnya. Namun itupun tidak berjalan sesuai perjanjian, hingga ia merasa dirugikan dan memutuskan untuk menyudahi kerjasama. Dari itulah Bara kemudian membuka kafe sendiri di daerah Lawang.
“Alhamdulilah atas kehendak Allah SWT, jalan saya dipermudah hingga saya jadi seperi sekarang ini. Bahkan saat ketika saya masih umur 17 tahun saya menuliskan di dream book ingin mengumrahkan umi, Alhamdulillah impian tersebut terwujud saat usia saya 20 tahun  atau tepatnya tahun lalu,” pungkasnya. (mg7/van) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :