MC Berpengalaman 34 Tahun, Suaranya Terdengar di Tiap Lampu Merah


TUGAS sebagai polisi tak membuat Inspektur Dua Ni Made Seruni Marhaeni kehilangan passion dalam bidang komunikasi. Sejak menempuh pendidikan Polwan, Marhaeni telah menunjukkan bakat sebagai master of ceremony. Pasca lulus sebagai bintara polisi, Kepala Sub Bagian Humas Polres Makota ini, terjun dalam dunia protokol dan mengumpulkan segunung pengalaman selama 34 tahun sebagai MC.
Pembawaannya santai, senyumnya pun selalu terpulas ketika menemui tamu yang datang ke ruang Sub Bag Humas Polres Makota. Dengan suara renyah dan bulat, Ni Made Seruni Marhaeni menyambut orang yang datang ke ruang kerjanya. Bahkan, tawa lantang sesekali terdengar dari luar ruang kerjanya.
Begitulah pembawaan wanita yang akrab disapa Heni itu. Dengan gaya yang luwes dan tenang, Marhaeni menunjukkan kebiasaannya sebagai seorang pembawa acara veteran. Ketika berbicara dengan orang, dia selalu melihat ke arah lawan bicara. Marhaeni juga memulaskan senyumnya ketika mengobrol.
“Ya seperti ini juga syarat menjadi pembawa acara yang baik. Kesan pertama ketika naik ke atas panggung, suara dan ekspresi kita ketika kali pertama memandang tamu undangan yang kita sambut lewat pelantang, sangat penting bagi seorang MC. Kesan pertama sudah harus baik,” ungkap Marhaeni kepada Malang Post.
Dia memaparkan, telah 34 tahun terjun dalam dunia protokol, ia sendiri memulai dari akademi Polwan angkatan 1984. Kata dia, kesan pertama harus sudah meyakinkan, adalah kunci sukses dari semua pembawa acara. Jika seorang MC sudah belepotan sejak naik ke atas panggung, maka dia tak memiliki power di hadapan audiens untuk memandu acara itu.
“Busana, cara berjalan ke atas panggung saja sudah dinilai oleh audiens ketika kita maju. Kalau cara berjalan saja belepotan, kita akan kesulitan memandu acara. Dari atas sampai bawah, kita harus tampil elegan. Bahkan, posisi kaki pun menentukan kesan kita di hadapan audiens,” urainya sembari mempraktikkan posisi kaki kanan yang berada di depan kaki kiri ketika berdiri.
Apabila seorang pembawa acara sukses menampilkan kesan pertama yang meyakinkan, Heni mengatakan acara yang dibawakan bisa berjalan lancar dan sukses. Dia menambahkan, seorang pembawa acara juga tidak boleh berapologi selama acara berlangsung. Permintaan maaf atas kata-kata yang salah, sebaiknya diucapkan saat akhir acara.
“Tidak boleh berapologi saat acara masih berlangsung, karena itu kekeliruan harus diminimalkan, kalau bisa tidak ada kesalahan. Persiapan yang matang dan memahami struktur acara juga penting. Kalau pun ada kesalahan, harus diperbaiki dengan cara yang halus,” tutur mantan anggota Patroli Jalan Raya Sabhara Polda Bali itu.
Tips menjadi MC yang baik ini, diutarakan oleh Heni berdasarkan pengalamannya menjadi master of ceremony selama 34 tahun. Sejak lulus pendidikan sampai sekarang, dia telah memandu berbagai jenis acara. Polwan kelahiran Tabanan Bali itu pun sudah memandu acara yang dihadiri oleh berbagai jenis orang.
“Saya sudah pernah menjadi MC upacara dengan protokol ketat, acara informal, wedding, serta berbagai jenis acara lain. Saat masih bintara yang baru lulus, saya sudah pernah menjadi MC acara yang dihadiri oleh Kapolri langsung. Saya pun pernah menjadi MC untuk acara Menteri,” ungkap Heni.
Polwan yang pernah bertugas di Polres Lumajang itu menerangkan, Heni sudah melanglang buana sebagai MC sejak masih bintara. Dengan izin atasannya, wanita yang didapuk sebagai Kasubbag Humas terbaik di Polda Jatim tahun 2018 itu, dibon oleh protokol pemerintah kota atau kabupaten untuk memandu acara.
Dia pun pernah diminta menjadi master of ceremony untuk acara dari institusi TNI, serta pemandu acara yang dihadiri diva seperti Krisdayanti.
“Walaupun saya Polwan, saya pernah dibon menjadi MC acara rekan TNI. Pernah, saat saya bertugas di suatu daerah, pemerintah kota daerah itu meminta kepada Kapolres saya, untuk ngebon saya sebagai MC acara Pemkot. Padahal ada protokol Pemkot, tapi saya yang diminta,” tutur polwan yang pernah bertugas di Polres Magetan ini.
Mantan pengasuh di Sekolah Polisi Negara (SPN) Mojokerto ini juga telah mendubbing suaranya untuk berbagai iklan layanan masyarakat (ILM) dari Polda Jatim. Suaranya juga direkam dan digunakan sebagai pengumuman polisi di tiap lampu lalu lintas se-Jatim. Karena itu pula, nenek satu cucu dikenal di kalangan polwan di Polda Jatim.
“Saat di Malang, saya pun sudah sering menjadi MC wedding di hotel-hotel berbintang dan dihadiri pejabat tinggi. Saat pak Buwas (Budi Waseso) datang, saya pun menjadi pembawa acara,” ujarnya. Tak hanya memandu acara, sulung dari lima bersaudara itu mampu menjadi seorang pembaca puisi yang andal.
Dalam suatu acara pengukuhan Paskibra di suatu daerah pada 16 Agustus, Heni sebagai pembawa acara, membacakan puisi. Di hadapan Forpimda dan para pasukan pengibar bendera pusaka, perwira dengan pangkat satu balok emas di pundaknya ini membuat para pemimpin daerah menangis.
“Saat saya baca puisi perjuangan, bapak-bapak Forpimda itu menangis,” tambahnya. Sejak bersekolah di SD Tabanan Bali, Heni sudah tampil di atas panggung. Sehingga, wanita kelahiran 6 Juli 1963 ini tak pernah merasa gugup ketika menjadi pembawa acara. Ketika dia merasa deg-degan, Heni selalu menerapkan trik menarik dan menghembuskan napas panjang selama satu menit.
Baginya, MC sudah menjadi hobi yang berhasil dijalani dengan baik sepanjang karirnya di kepolisian. Kendati demikian, sebagai seorang kartini Indonesia, Heni tidak hanya piawai dalam memandu acara. Dia telah meraih berbagai juara di bidang menembak dan pidato.
“Saya pernah menjadi juara 1 menembak dan dihadiahi air pistol. Sebagai Kartini, kita wanita Indonesia harus multitalenta, menjadi ibu, istri, serta warga negara yang mengabdi bagi bangsa,” tutup Heni.(fino yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...