Wall Decor dari Tali yang Hasilkan Jutaan Rupiah

 
Ilmu tali temali ternyata tidak hanya bisa berguna untuk pelajaran bertahan hidup seperti yang diajarkan dalam Pramuka, nyatanya tali temali bisa juga menghasilkan pemasukan yang dapat menunjang kehidupan ekonomi. Inilah yang dilakukan Heni Rina Sulistyowati, ibu rumah tangga yang belajar kerajinan makrame, simpul menyimpul tali secara otodidak. Ia dapat menghasilkan jutaan rupiah dari kerajinan yang hanya mengandalkan tangan tanpa alat bantu apapun.
“Saya belajar makrame hanya dari Youtube saja, lima tahun lalu,” papar perempuan yang akrab disapa Heni ini kepada Malang Post, kemarin.
Dari ketekunan belajar secara otodidak ini, tiap bulannya Heni dapat menjual puluhan hasil kerajinan yang rata-rata dibandrol mulai Rp 300 ribu sampai jutaan rupiah. Makarame sendiri, menurut Heni merupakan kerajinan yang belum banyak diketahui orang-orang pada umumnya.
Kerajinan makrame masih kalah populer dengan kerajinan rajut ataupun handicraft lainnya. Akan tetapi, Heni dengan beraninya meluangkan waktu yang tidak sebentar untuk mempelajari teknik makrame. Ia mengaku mempelajari seni kerajinan yang berbeda dari yang lain karena merasa seni tersebut sangat minim modal.
“Hanya pakai tangan, tidak pakai alat untuk pengerjaannya. Memang butuh waktu untuk mempelajari teknik untuk membentuk motif, tapi bisa dilakukan dan ternyata sangat menarik,” tandasnya.
Makrame sendiri mulai digemari masyarakat dalam dua tahun terakhir ini. Hal ini dikarenakan tren perumahan dan dekorasi rumah yang kian naik. Mengapa begitu?
Heni menjelaskan, makrame memang menjadi kerajinan yang cocok dipasangkan dengan bidang dekorasi. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Teknik Sipil ini menuturkan, harga kerajinan makrame memang tidaklah murah.
“Karena bahan kainnya harus baik dan kuat. Jadi saya pilih Katun Rope yang harganya lumayan. Tetapi, bahan ini yang memang disukai,” paparnya. 
Heni melanjutkan, kerajinan makrame yang ia buat sendiri ini juga menjadi perhatian masyarakat luar negeri. Seperti Jepang dan Pakistan. Kerajinannya diminati warga sana dan permintaan tersebut terus datang kepadanya.
Permintaan rutin dari Jepang dan Pakistan ini pun ini didapat karena ketidaksengajaan. Ketika kawan dan sanak saudaranya membawa kerajinan tangan makrame hasil karyanya saat sedang studi di dua negara tersebut.
“Katanya, banyak teman mereka yang senang. Lalu tanya beli dimana dan mereka mau. Akhirnya pesan terus, katanya bagus untuk dekorasi rumah mereka. Dan di luar (negeri) sekarang memang sedang booming seni makrame ini,” tandasnya.
Ia mengirim hasil karya makrame ke luar negeri dengan ukuran dan harga yang berbeda-beda sesuai permintaan. Tentu saja harga yang dibandrol untuk ekspor melebihi standar yang dijual di dalam negeri.
Heni mengatakan, kerajinan makrame yang ia tekuni secara otodidak ini juga dilirik dan diberi perhatian oleh Pemerintah Kota Malang. Sejak 2016 lalu, ia secara pribadi selalu menjadi salah satu perajin langganan Kota Malang dalam beberapa event besar di kota ini.
“Apeksi di Batu kemarin, saya diundang untuk ngisi expo. Sebelumnya Apeksi di Lombok beberapa tahun lalu juga diajak Pemkot Malang, lalu Apeksi yang di Malang juga saya diikutkan. Alhamdullilah dari situ saya makin banyak orderan,” ungkap perempuan kelahiran Madiun ini.
Tidak hanya partisipasi aktif dalam event itu saja, Heni menegaskan dia juga turut aktif dalam kegiatan undangan untuk memberikan pelatihan kerajinan. Sejak dua tahun terakhir, pemilik Galeri Thalikoe Handmade and Souvenir ini secara rutin menjadi pengisi materi di sekolah-sekolah di Surabaya. 
“Diajak kerjasama dengan salah satu EO di Surabaya. Katanya mereka melihat hasil-hasil karya saya di medsos hingga akhirnya diajak isi pelatihan. Khususnya untuk anak-anak sekolah yang ada mata pelajaran kerajinannya,” tutur Heni. 
Ia juga memberikan pelatihan kerajinan makrame di beberapa event sosial di Kota Malang khusus bagi ibu-ibu PKK yang membutuhkan kerajinan. Heni pun mengingat, dulu dirinya pun berawal dari coba-coba (belajar membuat makrame) dengan harapan membantu ekonomi keluarga.
Dengan banyaknya ibu rumah tangga di Kota Malang yang berkeinginan sama, Heni terus bersemangat untuk mendorong ibu-ibu lain untuk dapat menghasilkan pemasukan sendiri. “Memang perlu waktu belajar, tapi bila ditekuni, pasti bisa.
Seni ini akan berkembang pesat karena di luar negeri sudah populer, saya yakin di sini juga akan begitu. Nilai ekonomisnya pun tinggi jika teknik yang dimiliki semakin banyak, asal sering latihan saja,” pungkasnya. (sisca Angelina/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :