Rizka Alya Putri, Mahasiswi UMM di Global Engagement Summit 2018


MALANG - Pernah menjadi korban bullying selama tiga tahun, membuat Rizka Alya Putri memiliki passion yang luar biasa pada mental health. Dimulai dari membuat proyek praktikum event “teman bicara” bersama delapan rekan lainnya, menjadikan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM ini beruntung sebagai satu-satunya yang mewakili Indonesia dalam program Global Engagement Summit 2018 bulan ini di Amerika Serikat.
Bersekolah di salah satu SMP favorit di Kota Malang, mahasiswi berjilbab ini pernah merasakan perundungan selama tiga tahun. Imbasnya, Rizka menjadi pribadi yang tertutup dan kehilangan berbagai kesempatan bersosialisasi. Ia bahkan tidak bisa berprestasi karena takut tidak diterima di lingkungan sosial.
“Saat SMP saya sempat sakit selama satu minggu dan tidak masuk sekolah. Pas saya masuk sekolah, entah kenapa saya sudah dijauhi sama teman-teman dan guru tidak ada yang tahu. Sejauh itu, saya tidak mampu berkembang,” ungkap mahasiswa semester delapan ini di kantor Malang Post.
Terbangun dari rasa traumanya sebagai korban bullying saat remaja, Rizka mulai bangkit untuk kembali bersosialisasi dan berprestasi. Seminar “teman bicara” yang diselenggarakan di Medical Center daerah Dau dengan menggandeng para psikolog dan psikiater ini menjadi awal mula pergerakannya di dunia social impact. Proyek praktikum yang dikerjakannya pada semester enam ini, mengedukasi masyarakat untuk tidak menutup diri dari lingkungan sosial khususnya untuk mengonsultasikan permasalahan yang erat kaitannya dengan kondisi mental. “Saya ingin mengubah stigma masyarakat yang merasa canggung untuk pergi berkonsultasi ke psikolog. Padahal datang ke psikolog atau ke psikiater bukan berarti gila. Justru dapat menangani permasalahan yang dihadapi,” ungkapnya.
Untuk meneruskan langkah yang lebih besar, ia tak hanya berhenti pada seminar teman bicara saja, tapi Rizka juga mendaftarkan proposal support group dalam program Global Engagement Summit 2018. Menurutnya, isu kesehatan mental mampu dikembangkan lagi karena bersifat jangka panjang. Melalui support group dia dapat merangkul masyarakat yang membutuhkan konsultasi, terlebih tak hanya menggandeng psikolog maupun psikiater saja, tapi juga dosen berlatarbelakang psikologi. “Alhamdulillah, pada 23 Januari, proposal saya diterima. Saya berangkat ke Amerika pada 15 April dengan menempuh perjalanan 20 jam, belum termasuk transit,” tuturnya.
Di sana, Rizka bertemu dengan 37 mahasiswa dari 20 negara yang memiliki passion sama dalam dunia sosial impact. Semua kebutuhan akomodasi, biaya makan, hingga tempat tinggal ditanggung oleh Global Engagement Summit 2018 selama satu minggu hingga 22 April.
“Hari pertama saya di sana, sebagai salah satu muslim, tentu kendalanya adalah mencari makanan halal,” papar gadis penyuka nasi padang ini.
Tiga hari awal, putri dari Nandhe Ali Satambe ini menikmati rangkaian acara mulai dari berkeliling museum, taman, hingga kuliner. Dilanjutkan dengan sesi diskusi yang membahas tentang business model, project structure, media champaign, hingga design thinking. Salah satu hal yang tak pernah dilupakannya yakni dapat berdiskusi masalah sosial ini dengan tim sukses Barack Obama, para ahli di Harvard dan Amal Kassir, muslim Syiria Amerika.
“Saya beruntung sekali, di sana tak hanya Tim Sukses Barack Obama, saya juga membahas design thinking dengan para ahli di Harvard melalui impact suistainable. Begitu pula dengan Amal Kassir, muslim Syiria Amerika yang begitu hangat menyambut saya,” bebernya berbunga-bunga.
Rizka merasa memiliki peluang besar untuk mengembangkan support groupnya, karena dia dapat berkonsultasi dengan pendampingan mentorship Communities in Schools Chicago, Kai Lokken, bahkan setelah kembali ke Indonesia. Dia menargetkan untuk segera melaunching dan rebranding support group tersebut untuk memiliki partnership yang luas.
“Tantangan mengembangan support group ya menyamakan visi misi dengan tim yang bertugas mengedukasi terkait kesehatan mental. Saya juga berharap dapat mempunyai mentorship lain, yang dapat membimbing tanpa sebelah mata,” imbuh mahasiswa yang berkeinginan kuliah S2 di Australia ini.(mg3/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :