Mohamad Fariz, Pembuat Replika Senjata dari Barang Bekas


MALANG - DI TANGAN Mohamad Fariz, pipa paralon bekas, besi berkarat dan limbah kayu bernilai mahal. Dari tiga material tersebut, Fariz mengolahnya menjadi replika senjata yang digunakan pada Perang Dunia II. Beberapa karya warga Kelurahan Sumbersari ini pernah ditawar dengan harga Rp 30 juta oleh pembeli asal luar negeri. Namun pecinta sejarah itu tak menjual karyanya.
Daya kreativitas Fariz berawal dari hobinya mengoleksi replika senjata yang digunakan pada Perang Dunia II. Sebut saja M1 Garand dan Thompson yang digunakan tentara Amerika Serikat sekitar tahun 1936 hingga tahun 1950-an. Tapi harga jual replika senjata tersebut tak ramah dompet.  
“Replika M1 Garand dan Thompson harganya Rp 6 juta. Itu belum termasuk bea masuk. Pernah ada teman mencoba beli, termasyk bea jadinya Rp 11 juta,” kata Fariz. Karena tak bisa membeli sendiri, pria ramah ini putar otak. Naluri seninya pun muncul.
Lalu barang bekas di tempat sampah terlintas dibenak  alumnus jurusan Teknik Elektro ITN ini. Selain bisa diolah agar bermanfaat, ide Fariz ini juga ramah lingkungan. Awal tahun 2007 ia mulai membuat replika senjata Perang Dunia II.
“Untuk paralon bekas biasanya saya minta ke petugas sampah karena tak laku dirombeng. Sedangkan kayunya memakai dari bekas peti kayu buah. Biasanya ada langganan khusus dan beli cuma Rp. 18.000 per kilogram,” kata pendiri Komunitas Reenactor Malang ini.
Dari material yang didapat secara mudah itu, Fariz mulai merakit dengan berbagai sentuhan seni. Pertama kali dia berhasil membuat replika senjata mesin Bren dan MP28. Bersama Komunitas Reenactor, komunitas pecinta sejarah, Fariz mengenalkan replika senjata hasil karyanya kepada publik Malang. “Saat itu di acara Malang Tempo Doeloe tahun 2007,” kenangnya.  
Tak diduga, ternyata banyak yang mengapresiasi apa yang dilakukan Fariz. Ia lantas tidak langsung berpuas diri. “Karena saya perhatikan ternyata rancangan saya yang pertama dari bentuknya yang masih kasar dan ala kadarnya,” tambahnya.   
Berbekal ruangan 5x4 meter dan peralatan seadanya seperti gergaji tangan, bor, gerinda dan las listrik, pria 44 tahun ini mulai membentuk replika senjata dengan skala asli pada tahun 2009.
Bermodal besi bekas yang dibeli seharga Rp. 15.000 per kilogram serta berbagai referensi, Fariz menghasilkan lima macam senjata yang berbeda. “Saat itu membuat Garand, Thompson, Bren, Sten, dan Grease Gun tapi ternyata sama saja dengan yang pertama masih kurang detailnya,” kenangnya.
Baru tahun 2010 menjadi langkah baru untuk memulai segalanya. Detail persenjataan menjadi unsur utama ketika membuat replika senjata. “Takut kalau tidak diperhatikan detailnya malah menjadi bahan tertawaan Komunitas Reenactor dalam negeri maupun luar negeri,” beber pria kelahiran Malang ini.
Dengan beragam referensi dan berkunjung ke sejumlah museum, ia perlahan mulai memperhatikan satu persatu detail senjata. Dan untuk detail yang paling susah adalah senjata dari Jepang. “Karena tiap lekukan walau dikatakan sangat sepele namum memiliki makna, sama dengan pedang samurainya,” ungkapnya.
Meski terbilang susah Fariz akhirnya dapat mewujudkannya dalam bentuk replika. “Untuk negara Jepang kita mereplika dua senjata Arisaka, satu SMG Type 100 dan senapan mesin Taisho Type 11. Bahkan ada dua buah mortir Tekidanto kaliber 50 mm,” bebernya.
Sebenarnya dia hanya membuat replika senjata dari negara -negara yang pernah menjajah Indonesia. Tetapi ternyata senjata replika tersebut mulai beragam jenisnya. Mulai dari buatan Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, dan Amerika. “Sten, Thompson, Bren, MP 40 hingga MG 42 ia buat sendiri, “jelasnya.   
Tanpa ia sadari, saat ini sudah menghasilkan 40 replika senjata dari ukuran kecil sampai dengan ukuran besar. “Yang paling besar replika meriam anti tank 47 mm buatan Belanda dan di Indonesia setahu saya hanya di Malang yang mampu membuatnya,” terangnya.
Fariz bisa menciptakan replika senjata dari barang bekas dalam waktu sepekan. Sebenarnya untuk barang bekas tidak ada masalah. Tetapi yang susah adalah mencari bekas gear sepeda motor  yang digunakan untuk mengatur elevasi replika meriam. “Kalau sudah begitu agak susah satu minggu langsung jadi,” tambahnya.
Kelebihan replika senjata karya Fariz yakni warnanya sangat menyerupai asli. Beratnya pun hampir sama dengan senjata asli. Selain itu bisa berbunyi seolah-olah dapat menembak kalau pelatuknya ditarik.  “Sebenarnya itu hanya efek suara dan cahaya saja. Sesungguhnya tidak bisa menembak seperti aslinya. Caranya menggunakan petasan yang dimasukkan ke laras kemudian kita nyalakan,” bebernya.
Karya Fariz pun kini terkenal hingga ke luar negeri. Di antaranya Selandia Baru, Jerman, Prancis dan Jepang. Sejumlah penggemar replika senjata bahkan pernah ingin membeli karya Fariz dengan harga Rp 25 juta hingga Rp 30 juta. Tetapi tawaran yang menggirukan
itu ditolaknya secara halus. Alasannya sedari awal tujuan ia membuat replika senjata hanya untuk kegiatan komunitasnya saja.
“Juga ini merupakan karya seni. Jadi  meskipun dihargai berapa saja tidak akan mungkin dibuatkan,” terangnya.  .
Apalagi saat ini ia masih fokus menambah beberapa replika senjata untuk dipamerkan di Museum Reenactor Malang yang berlokasi tidak jauh dari tempatnya tinggal. Salah satunya merancang replika meriam penangkis serangan udara. (mg5/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :