anwar Sempat Terhuyung, Tapi Akhirnya Menangi Tinju


UPPERCUT keras yang dilepas Faris, petinju Jateng ini sempat menembus double cover yang dilakukan Zanwar Irfani. Siswa kelas 2, SMAN 2 Batu ini sempat terhuyung dan bersandar di tali ring untuk beberapa saat.
Dari hidung petinju kelahiran Blitar ini, mengucur darah segar. Tak sadar pukulan keras Faris, petinju yang berbadan kekar ini mampu menembus perlindungan dua tangan Zanwar. Hingga wasit meminta kepada tim medis untuk memeriksa kondisi Zanwar. 
Jika saat itu, wasit memerintahkan pertandingan berhenti, ceritanya mungkin lain. Karena itu Zanwar sangat bersyukur wasit tetap membolehkannya untuk bertanding, hingga akhirnya ia memenangkan pertandingan perdananya dalam Kejuaraan Nasional Yunior and Youth 2017 di Kupang, NTT pekan lalu.
“Double cover saya tembus, hingga hidung saya pecah, untuk gak berhenti disitu, saya sempat berpikir kalah, ternyata saat pengumuman, ternyata saja menang angka, saya juga kaget,” ujar Zanwar.
Dia memenangkan pertandingan karena beberapa kali memukul Faris pada lokasi yang tepat. Sementara Faris meskipun pukulannya sangat keras, pukulannya sering melenceng tidak pada sasaran.
Berbekal kemenangan ini, beberapa pertandingan selanjutnya pun diselesaikan dengan baik oleh Zanwar. Hingga akhirnya ia masuk final dan harus bertemu dengan petinju tuan rumah Albertus Tarandu.
Saat itu, Zanwar sempat dibingungkan dengan waktu pemanasan. Karena saat naik ring, mendadak terdengar bunyi lonceng yang menandakan istirahat, hingga akhirnya ia harus menunggu satu jam.
“Waktu mau pemanasan, ternyata lawan sudah naik. Saya kaget dan sempat memiliki perasaan takut saat main. Malah ronde kedua nafas saya sudah habis, karena pemanasan kurang, tubuh belum hangat,” ujar dia. Merasa tertinggal angka pada ronde pertama dan kedua, ronde ketiga atau ronde terakhir ia berjibaku habis-habisan. 
Ia berusaha untuk memperoleh point penuh dalam ronde terakhir tersebut. “Saya menyangka kalah, ternyata saya menang. Kemenangan ini untuk Jawa Timur, Kota Batu, untuk pelatih dan pengurus Pertina dan orang tua saya di rumah,” ujarnya.  
Fani dan Fatonah, kedua orang tua Zanwar yang tinggal di Blitar  justru mengetahui kalau anaknya menang setelah diberitahu tetangganya yang melihat di FB. Petinju kelahiran 4 Mei tahun 2000 ini sama sekali tidak terbayang akan menjadi seorang juara tinju nasional. 
“Saat bertemu kita, Zanwar belum bertinju. Ia hanya berlatih di sasana tinju yang banyak di desa-desa di Kabupaten Blitar. Waktu kita datangkan ke Kota Batu, banyak yang sangsi, apalagi melihat tubuhnya yang kurus, saat itu berat badannya hanya 35 kilogram,” ujar Ismail Ngabalin, Ketua Harian Pertina Kota Batu.
Hanya pengurus Pertina yang yakin kalau Zanwar akan menjadi petinju nasional. Melihat dari postur tangan, meskipun tubuh Zanwar sedikit kurus dan motivasinya. Dengan gemblengan keras Randi Ngabalin, pelatihnya, dalam waktu setahun serentetan prestasi direbut oleh anak ragil dari tiga bersaudara ini. (dan/mar)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...