Tekad Bulat Berhijrah, dan Mendalami Ilmu Agama


 
MALANG - Di tengah proses hijrah yang dilakukan Mary Jona, ia mengalami jatuh bangun. Namun karena sudah bertekad berubah, Jona terus berupaya berbenah, meski sempat dianggap sok suci oleh temannya. 
Jona resmi menikah dengan Luthfiandi Choroni, seorang pelaut pada 2015. Awal mulai berhijrah inilah, kedua pasangan ini sempat mengalami kesulitan. Apalagi ia memilih resign dari pekerjaan sebelumnya, yakni seorang Public Relation di sebuah klub malam.
Sehari-hari, Jona berkutat dengan dunia marketing dan vendor-vendor untuk meramaikan suasana klub. Tak jarang, ia pulang pagi kalau ada event tertentu. Dulu, Jona juga hobi dugem, sehingga membuat dia akrab dengan dunia malam seperti rokok, dan alkohol. 
"Saya melakoni pekerjaan itu sejak 2013 hingga 2016 awal. Setelah itu, bertekad untuk hijrah dan memutuskan untuk resign," terang dia kepada Malang Post. 
Ketika hobi dugem dulu, salah seorang teman Jona, yang bernama Andi Yulianto sempat mengingatkan Jona dengan dakwahnya. Pria yang berprofesi sebagai seorang DJ tersebut pernah memberikan Jona mukena ketika sedang dugem.
"Dia sering menyindir saya dan kata-katanya nampol. Dia bilang nakal boleh, ibadah harus terus jalan. Meskipun DJ, dia rajin salat dan ikut pengajian rutin," papar dia. 
Setelah keluar dari pekerjaan tersebut, ia mengalami kesulitan ekonomi. Jona langsung meninggalkan kebiasaan buruknya, mulai berhenti minum alkohol dan berhenti merokok. Setelah resign, sang suami masih belum memiliki penghasilan. Sehingga, untuk beli kebutuhan hijab juga sulit.
"Sementara, saya pinjam pakaian ibu dan dapat lungsuran dari teman-teman," kata dia. 
Ketika berproses, beberapa teman lama masih sering mengajak Jona untuk dugem.
"Alhamdulilah, saya kuat untuk tidak balik lagi. Sempet di nyinyirin teman-teman dan dibilang sok suci," papar dia.
Dalam perjalanannya, Jona mulai mengaku senang mendengar ceramah dari Ustad Hanan Attaki. Menurutnya, ceramah tersebut sangat mengena di hatinya yang baru berhijrah, apalagi seusianya merasa termotivasi untuk berubah. Setelah itu, Jona mencoba untuk belajar Islam.
“Kemudian, saya memutuskan untuk berhijab. Awalnya, suami saya tidak setuju. Sebab, dia takut suatu saat saya copot lagi. Saya berusaha meyakinkan suami kalau saya benar-benar ingin berubah,” tegas ibu dua anak tersebut. 
Ternyata perjalanan hijrah tersebut tak selalu mulus. Sesekali, ia sering cek cok dengan sang suami terkait kaidah dan aturan.
“Sering sih cek cok pendapat. Tapi setelah itu, kami sama-sama mendapat ilmu baru dan itu semakin mendekatkan kami kepada Allah,” kata dia.
Saat ini, Jona juga tergabung dalam majelis Malang Berhijrah, majelis tersebut berisi perempuan muda yang belajar berhijrah. Kisah hijrahnya juga bermacam-macam. “Alhamdulilah, mereka mau menerima saya. Saudara baru bagi saya,” kata dia.
Tak hanya dunia gemerlap, Jona juga sudah menghindari teman-temannya di masa lampau. Apalagi, rata-rata teman-temannya tersebut juga seorang laki-laki. Saat ini, hidupnya jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
“Hati saya jauh lebih tenang dan tentram. Berapapun rezeki yang didapat, insya Allah menjadi berkah. Hati tidak gusar dan dekat dengan Allah semua terasa mudah,” tandas dia.
Jona menambahkan, saat ini hidupnya juga jauh lebih nyaman sebab lebih dekat dengan teman-teman salihah yang berasal dari Majelis Taklim Ummar Bin Khattab, Kepanjen.
"Sehingga, kami bisa fokus istiqomah. Alhamdulillah perjalanan ini bisa menjadikan pelajaran agar kami saling mensupport dalam hal kebaikan," papar dia. (tea/udi)

Berita Lainnya :