Mantan Napi Berkarya di Rumah Singgah


Malang Post, Pernah mencoba mie yang terbuat dari buah naga, sawi atau jeruk?. Jika belum, kuliner unik ini ternyata dapat dengan mudah dinikmati di Kota Malang. Tidak hanya bahannya yang unik, pembuatnya adalah mantan penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas).
Selayaknya seorang koki meracik bahan di dapur, beberapa mantan napi dengan lihai mengolah adonan berwarna pink dengan rona ungu yang menjadi ciri khas. Warna ungu tersebut didapat dari olahan buah naga yang diracik sedemikian rupa ke dalam adonan.
Usai adonan berwarna pink keunguan ini siap, mereka pun langsung mengolahnya kembali. Melumat adonan lebih tipis agar dapat dibentuk dan dimasukkan ke dalam alat penggiling. Sampai pada proses pengirisan dan menjadi adonan mie yang utuh.
Itulah sedikit pemandangan sehari-hari eks napi di Rumah Singgah mantan anak didik lembaga permasyrakatan di Jalan Cakalang 311-H Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing Kota Malang saat dikunjungi Malang Post belum lama ini. “Saya suka membuat mie ini. Membantu hidup,” ungkap Temi Nicholas salah satu mantan napi Lowokwaru yang saat ini bekerja di rumah singgah tersebut.
Temi memang terlihat ahli mengolah mie berwarna ungu itu. Maklum saja, ia sudah empat tahun tinggal di rumah singgah. Temi tidak memiliki fisik yang lengkap, kaki kanannya sudah tidak ada, sehingga ia harus memakai kruk untuk beraktivitas.
Temi tidak menceritakan detail bagaimana kehidupannya sebelum ini, akan tetapi ia merasa sangat bersyukur dapat bergabung di rumah singgah yang menjadikannya ahli membuat mie.  “Saya dari Bangka Belitung. Perjalanan saya panjang sampai akhirnya masuk Lapas Lowokwaru dan sampai di sini," ujar pria ramah ini.
Ia menceritakan, adonan mie berwarana ungu, terkadang terlihat berwarna pink ini merupakan kreativitas penghuni rumah singgah. Perasan air dari buah naga dengan kadar tertentu dicampur dalam adonan mie sebelum diolah. Alhasil, warna mie sangat unik dan menarik hati.
Temi menjelaskan, mie buatannya dan kawan-kawannya ini juga dijual di beberapa kantin. Mulai dari kantin rumah sakit maupun sekolah di Kota Malang.  Selain Temi, ada pula Yusman mantan napi lainnya yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Yusman yang baru sebulan tinggal di rumah singgah itu terlihat baru memulai belajar membuat mie.
Yusman adalah mantan penghuni Lapas Nusakambangan. Pada Agustus 2017 lalu, Ia mendapatkan grasi bebas dari presiden. Ia ditangkap polisi tahun 2012 dan mendapatkan vonis hukuman mati atas kasus pembunuhan. “Waktu itu usia saya 15 tahun. Kemudian saya didampingi Kontras (lembaga HAM, red). Agustus kemarin dapat grasi bebas, syukur sekali. Saya ingin sekolah lagi. Lalu berlatih supaya bisa menjadi pengusaha," tegas Yusman.
Rumah singgah saat ini dihuni empat orang mantan napi. Mereka setiap hari mengolah antara 8-10 Kg bahan mie. Selain mie buah naga, ada pula mie cabe, mie sawi dan mie jeruk. Jadi tidak hanya mie berwarna ungu dan pink saja yang dihasilkan, ada mie warna kuning lalu hijau dan oranye seperti jeruk pun ada.  
Pengelola rumah singgah, Andreas Nurmandala Sutiono mengaku tidak membatasi mantan napi yang hendak berlatih dan tinggal di rumah singgahnya. Ia mendirikan rumah singgah karena prihatin dengan keadaan eks napi pada umumnya.
 "Tidak melihat agama, suku, juga kasusnya apa. Siapapun mantan napi, kalau mau ke sini kami terima. Kami ingin menunjukkan kalau eks napi bukan sampah masyarakat. Ketika keluar dari Lapas, bisa memiliki kemampuan usaha dan layak diterima kembali di masyarakat," ujar Andreas saat ditemui.
Hal ini didasarkan masih adanya stigma negatif kepada mantan narpidana. Tidak hanya dalam sosialnya saja, dalam urusan pekerjaan pun banyak perusahaan yang tidak mau menerima eks napi.  Maka dari itu skill wirausaha menjadi salah satu bekal penting bagi mantan napi.
Andreas mengerti betul akan hal ini, karena ia sendiri adalan mantan napi. Ia mengaku pernah menghuni Lapas Metro, Lampung di tahun 1992-1993. Ia memiliki skil membuat olahan mie, karena dahulu juga mendapat pelatihan pengolahan mie selama di lapas.  "Karena itu, rumah singgah ini akan membekali mantan napi dengan bekal skill. Karena industri kuliner tetap akan hidup dan tidak akan mati, maka saat ini pengolahan mie inilah yang kami berikan. Intinya rumah singgah ini dari napi, oleh napi, dan untuk napi. Bahkan bisa untuk masyarakat luas juga," tegasnya.
Dia berharap keberadaan rumah singgah dimanfaatkan secara maksimal oleh mantan napi yang ingin berubah, memiliki kemampuan dan bisa menjadi wirausaha. Ia mencontohkan, seorang chef eks napi di salah satu depot di Kota Malang yang juga alumni rumah singgahnya.
"Dia sekarang menjadi chef yang sukses. Di sini, jika ada tempat usaha yang membutuhkan tenaga kerja, biasanya kami salurkan. Tetapi ada juga yang kembali ke lapas. Beberapa di antaranya kasus narkoba," cerita pemilik rumah singgah yang didirikan sejak 2009 ini.
Andreas juga melatih pembuatan mie di beberapa lapas di Indonesia, termasuk Lapas Lowokwaru. Ia juga sudah berkeliling ke 42 lapas di wilayah Jawa untuk memberikan pelayanan di penjara. Napi yang datang ke rumah singgah ini akan diberi pelatihan dan tidak dipungut biaya apapun. Bahkan ketika hasil produksi laku, mereka mendapatkan komisi masing-masing sesuai yang terjual di hari itu. (sisca Angelina/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...