Tujuan Awal Hijaukan Areal Makam, Laris Manis Pakai Label Kopi Tulang


MALANG POST - Di tengah Kota Malang, ternyata pohon kopi bisa tumbuh subur. Uniknya lagi, kebun kopi ini ada di Makam Sukun Nasrani. Ya, ratusan pohon kopi tumbuh dengan subur di sana, bahkan telah panen pertama di bulan Febuari lalu. Produk Kopi Tulang yang dihasilkan dari pohon kopi itupun telah habis terjual.
Siapa tokoh di balik ide menanam kopi di areal Makam Sukun Nasrani? Tak lain adalah Kepala UPT Makam Sukun Nasrani, Taqruni Akbar. Dialah yang mencetuskan ide menanam kopi itu di areal tempatnya bekerja.
”Waduh berlebihan kalau saya dibilang sebagai pencetus ide. Saya hanya ingin mengembalikan sejarah,’’ seloroh Taqruni kepada Malang Post sembari merendah.
Ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Roni begitu Taqruni Akbar akrab dipanggil menceritakan jika pada masa penjajahan dulu, area makam ditumbuhi dengan pohon kopi. Namun seiring waktu, pohon kopi tak lagi nampak. Dan keberadaannya tergantikan oleh pohon kamboja dan pohon-pohon lainnya.
”Sejarah bahwa kopi ditanam di area Makam Sukun Nasrani  terekam dari foto. Dan foto-foto itu sekarang tersimpan di TPU Samaan,’’ katanya.
Memang awalnya mantan Lurah Arjowinangun ini sama sekali tidak yakin, apakah pohon kopi bisa hidup di area makam. Terlebih, dia sendiri mengetahui umumnya pohon kopi ditanam di lahan yang ada di area ketinggian.  Sementara Kota Malang sendiri memiliki ketinggian 440—667 meter di atas permukaan air laut ini.
Namun demikian, sekalipun tidak merasa yakin, bukan berarti Roni patah semangat. Dia pun kemudian belajar, dengan mendatangi kebun kopi. Salah satunya yang didatangi adalah perkebunan kopi di wilayah Gunung Kawi, Kecamatan Kromengan.
Kepada pemilik perkebunan, Roni menanyakan beragam hal tentang kopi. Termasuk potensinya jika ditanam di area Kota Malang.
”Saya baru lega setelah pemilik perkebunan kopi itu mengatakan, bahwa sejatinya kopi dapat ditanam di mana saja,’’ katanya.
Mendapati kenyataan tersebut, keinginan Roni menanam pohon kopi kian kuat. Tapi demikian, dia sendiri tidak mau lancang. Terlebih area makam sendiri merupakan aset dari Pemkot Malang. Sehingga sebelum memutuskan untuk menanam, dia memilih untuk meminta izin kepada Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman, yang saat itu dijabat oleh Erik Setyo Santoso.
Tak disangka, saat itu ide menanam kopi disetujui oleh Erik. Ya, sekalipun saat itu dinas tak memiliki anggaran untuk membeli bibit kopi.
”Begitu disetujui, saya dengan kawan-kawan lainnya di Makam Sukun Nasrani memilih patungan untuk membeli bibit,’’ ungkapnya.
Roni sendiri tak menyebutkan berapa jumlah uang yang terkumpul dari hasil patungan dan dibelikan bibit. Tapi yang jelas, dari patungan itu, pihaknya bisa membeli 850 bibit. Dengan rata-rata tingginya 50 centimeter.
Tak lama setelah bibit datang, dia dan para pekerja jasa makam pun langsung menanam kopi tersebut. Area yang digunakan menanam adalah lahan-lahan kosong di sela-sela makam. Setiap hari pohon kopi yang ditanam itu dilihat perkembangannya. Mereka pun rajin menyiram.
Rasa puas dan bangga pun terpancar dari raut wajah Roni setelah melihat deretan pohon kopi di Makan Sukun Nasrani berbunga. ”Senang waktu itu. Ya meskipun waktu itu kita tidak tahu, apakah bunyanya berhasil menjadi buah atau tidak. Tapi setidaknya itu mematahkan image bahwa kopi tidak harus ditanam di dataran tinggi,’’ tambahnya.
Dia kian bangga setelah bunga itu berganti dengan buah. Dan dua bulan kemudian buah kopi itu dipanen.
”Kita panen sama-sama. Saat itu baru menghasilkan 10 kilo,’’ ungkapnya.
Begitu panen, biji kopi tak dijual, melainkan di produksi sendiri. Dimulai dengan mengeringkan biji kopi, hingga menggilingnya. ”Setelah digiling, biji kopi itu dapat menghasilkan 50 bungkus,’’ tambahnya.
Agar produk kopi itu aman dikonsumsi, Roni pun membawa sampel kopi ke laboratorium makanan di Surabaya. Dan hasilnya tidak ada zat yang membahayakan ditemukan pada kopi, alias kopi aman untuk dikonsumsi.
Setelah digiling, Roni dan rekan-rekannya pun mencari ide untuk nama produk kopinya. Saat itulah, kemudian tercetus nama tulang. Dan saat itu juga label Kopi Tulang pun direkatkan pada produk tersebut.
”Selain ingin mengembalikan sejarah, kami sengaja menanam kopi ini untuk penghijauan. Dan sesuai arahan dari pemerintah, bahwa pohon yang ditanam untuk penghijauan adalah pohon yang menghasilkan. Makanya kami memilih kopi,’’ tambahnya.
Selain itu, dengan tanaman kopi ini, maka dia pun dapat memberdayakan para pegawai dan para pekerja jasa makam. Saat mereka tak hanya menjadi pegawai, namun juga bisa membudidayakan kopi sebagai usaha.
”Kami hanya ingin membuat perubahan. Dengan pohon kopi ini, Makam Sukun Nasrani tak lagi menjadi gersang,’’ tandasnya.
Produk kopi tulang serta ide menanam kopi di area pemakaman pun mendapat pujian dari Plt Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Malang, Dyah Ayu Kusuma Dewi. Bahkan, Dyah pun berencana untuk memproduksi kopi tersebut secara masal. Tapi tentunya, jika biji kopi yang dihasilkan dari kebun kopi tersebut sangat banyak.(ira ravika/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :