Darsono, Perajin Emas Tradisional yang Masih Bertahan


Darsono, 43 tahun, adalah salah satu dari belasan perajin emas tradisional yang masih mempertahankan pekerjaannya sejak tahun 1992. Di tengah arus globalisasi yang semakin kencang, ia tetap mampu berdiri tegak. Meski saat ini telah banyak berdiri pabrik-pabrik besar yang memproduksi emas dengan berbagai model baru dan massal.
Bangunan rumah klasik dengan lebih banyak pondasi kayu dan jendela yang mengitari rumahnya. Ia terlihat sibuk sedang melebur emas di ruang depan rumahnya yang sederhana itu. Untuk kemudian mempersilahkan masuk dan memberi waktu kerjanya untuk mengobrol tentang kerajinan emas yang telah digelutinya selama 25 tahun itu.
Memulai obrolan dengan remeh temeh, Darsono menjelaskan, jika saat ini pesanan yang biasanya diterima dari toko-toko emas semakin menurun. “Pesanan dari pedagang tidak pernah stabil. Kadang banyak kadang sedikit dan malah pernah menganggur selama dua minggu,” keluhnya.
Waktu berselang, dan ia bercerita semakin banyak. Sembari memberi sedikit senyuman dibalik perjalanannya sebagai perajin emas. Menurutnya, sepinya permintaan dari toko atau pedagang emas karena perkembangan zaman yang semakin pesat. Sehingga orang hanya perlu kecepatan untuk mencari kuantitas dari sebuah barang.
“Produksi emas sekarang sudah bermacam model dan cepat berganti dengan model baru. Dengan jumlah permintaan yang banyak. Sehingga pabrik menjadi solusi permasalahan tersebut,” paparnya.
Darsono, sangat merasakan imbas dari perkembangan tersebut. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Apalagi alat-alat yang digunakannya masih tradisional. Berbeda dengan pabrik. Selain itu, yang membuatnya sulit berkembang adalah modal yang pas-pasan. Bahkan bisa dikatakan, setiap hasil yang didapatnya dari mebuat emas hanya cukup untuk makan selama satu bulan.
Selama ini, ia telah membuat berbagai jenis perhiasan dari emas. Diantanya cicin, kalung dan gelang. Yang kebanyakan adalah pesanan dari toko. Setiap pengerjaannya ia dibayar dengan harga Rp 25-35 ribu untuk cincin. Sedangkan untuk pesanan pribadi ia bisa mendapat uang sebesar Rp 150 ribu per pesanan.
Dengan pesanan yang semakin tidak menentu, saat menganggur ia berlaih menjadi petani di beberapa petak sawah milik ibunya. “Mau bagaimana lagi, saat ini perajin emas bukanlah pekerjaan formal. Jadi ya bertani untuk menambah pendapatan,” ucapnya.
Wajar jika jumlah perajin emas tradisional ini terus menurun, dan nyaris punah. “Kira-kira perajin emas saat ini sekitar tinggal lima orang. Mungkin tahun demi tahun akan datang semakin berkurang,” pungkas Darsono. (mg20/bua)

Berita Terkait

Berita Lainnya :