Tinggalkan Dunia Jurnalis, Dirikan Majelis


Sebagai ustadz yang baru tiga tahun berdakwah, Gus Hisa Al Ayyubi memiliki latar belakang yang spesial. Bagi para pejabat senior Pemkot Malang maupun DPRD Kota Malang, Hisa dulunya lebih dikenal sebagai wartawan. Sebelum meraih pencerahan di tahun 2015, Hisa adalah jurnalis TV dengan pengalaman kerja 11 tahun.
“Sejak tahun 2002 sampai 2013, saya bergelut dengan industri media. Saya dikenal orang sebagai pekerja media, pernah menjadi cameraman, reporter, presenter sampai MC program acara. Saat itu, hidup saya kerja dari pagi pulang pagi,” kenang Hisa saat diwawancarai Malang Post di masjid Baitul Makmur Jalan Bareng Kartini gang 3G.
Seperti lagu Armada Pergi Pagi Pulang Pagi, Hisa terhisap dalam dinamika dunia wartawan yang tak kenal waktu. Suami dari Rosa Indah Azizah tersebut telah membangun jaringan komunikasinya, baik dengan para pejabat, politisi serta rekan-rekan wartawan dari media lain. Pasalnya, saat masih berlabel wartawan, Hisa biasa melakukan peliputan di DPRD dan Pemkot Malang.
Namun, Hisa mengaku jenuh dengan gemerlap industri media yang penuh dengan mobilitas tinggi. “Saat merasa sudah mencapai titik jenuh dan merasa berada di puncak karir, saya berhenti. Saat itu, orangtua saya mengingatkan tentang dasar atau basic saya sejak kecil, yakni agama,” sambung alumnus MI Attaroqi Embong Arab ini.
Hisa membenarkan bahwa sejak kecil dia tumbuh besar dalam lingkungan agamis. Ia mengikuti pengajian di sana-sini ketika mengenyam bangku sekolah. Dia pernah merasakan ajaran Ponpes Annur Al-Muqrinin pimpinan KH Muhammad Yasin Hasyim.
Saat beranjak remaja, Hisa yang alumnus MTS-MA Mualimin Jagalan, acapkali menginap di panti asuhan Mabarrot Sunan Giri Mergosono. “Saat itu saya sudah mulai melihat kehidupan anak yatim dalam panti asuhan,” tandas Hisa. Hanya saja kala itu Hisa belum terlalu aware bahwa ada anak-anak yatim non panti yang juga membutuhkan perhatian.
Setelah lulus MA dan mengenyam bangku kuliah di Unisma, Hisa mulai mengenal dunia wartawan. Dia akhirnya diterima bekerja di salah satu TV lokal Malang Raya dan bertahan selama 11 tahun. Paska pensiun dari industri media, Hisa ternyata tak langsung berubah 180 derajat menjadi ulama mubalig.
“Saya sempat berbisnis konsultan IT dan iklan. Tapi, saya tidak menemukan apa yang saya inginkan di dunia itu. Akhirnya, tahun 2013 saya mencari jawaban dengan berhenti bertemu orang lain selama dua tahun. Pada masa-masa inilah, saya putuskan memulai perubahan diri,” sambungnya.

Berita Lainnya :