Noerman Rizky Alfarozi, komposer sekaligus musisi muda Malang nan moncer


ALIRAN musik kontemporer terus berkembang. Kombinasi antara seni tradisional dan modern kian bertumbuh di kalangan musisi non mainstream dan indie. Noerman Rizky Alfarozi, musisi asli Malang tersebut tampil sebagai music director sekaligus pemain musik muda yang meniti perjalanan seninya lewat jalur gamelan seni karawitan kontemporer.
Suara saron bergemericik di antara gebukan kenong dan kendang. Sesekali, tiupan suling terselip di antara dentuman gong. Noerman Rizky Alfarozi, duduk membelakangi penonton, dengan memakai udeng dan baju hitam. Tangannya menari. Suara musik gamelan berdansa di antara jemarinya.
Sesaat cepat, tak jarang juga melambat. Musik karawitan pun merancak seperti langkah lari, kadang melembut seperti suara angin yang menerpa bumi. “Duh, duh aduh nyai dewi. Naliko ingsun nyawang sliramu Ingkang tresno jroning penggalih. Lindhu bhumi gunjing gegirih.” Sepetik lirik yang terlantun dari penyanyi di antara pemain karawitan, menggambarkan atmosfer kekaguman terhadap Ken Dedes.
Begitulah kira-kira, aroma khas karawitan kontemporer yang disajikan Djomblo Ensemble dalam karya musik Dedes A Kidnap. Sebagai komposer, Noerman mampu memandu pagelaran musik dan mengundang riuh tepuk tangan begitu suara karawitan berakhir. Kepiawaian Noerman sebagai komposer inilah, yang akhirnya menancapkan namanya dalam produksi film terbaru yang bertema Malang.
Dalam waktu dekat, nama Noerman akan muncul dalam credit title film Darah Biru Arema 2 bulan depan di bioskop-bioskop Kota Malang. Karena, pemuda asal Blimbing tersebut merupakan music director yang ditunjuk produser untuk terlibat dalam proses editing dan mixing dalam post produksi film sekuel dengan title yang sama.
Noerman mengatakan proses produksi DBA 2 sudah finish dan sekarang sedang memasuki tahap mixing sound dan editing video. Keterlibatannya dalam DBA 2 sebagai music director adalah hal yang membanggakan sebagai Arek Malang. Karena dia pemuda asli Bhumi Arema, Noerman siap memberikan kontribusi profesionalnya untuk film bertema suporter itu.
Dia berharap keahliannya dalam mengkomposisi musik, membuat film bertema Arema semakin digemari Aremania-Aremanita sejagad raya. Kendati demikian, bukan hal aneh bila Noerman mendapat kepercayaan sebagai music director muda dalam proses paska produksi film. Pasalnya, sebelum terlibat dalam film tersebut, Noerman sudah memiliki cukup banyak pengalaman sebagai komposer dan music director.
Pada usianya yang baru 25 tahun, Noerman telah terlibat dalam berbagai pementasan seni di berbagai daerah. Dengan pondasi kuat sebagai komposer seni karawitan dan gamelan, Noerman yang menguasai saxophone telah mencicipi pagelaran musik berkelas. Misalnya saja, Jazz Gunung.

Berita Terkait

Berita Lainnya :