Pegang Teguh Amanat Abah untuk Meneruskan Majlis Riyadlul Jannah


Malang Post, "Menjaga akhlaq dan adab yang bagus kepada siapa saja. Karena akhlaq lebih utama dari ilmu. Ketika mencari ilmu, banyaklah berdoa, karena doa orang yang mencari ilmu itu mustajabah,"
Kutipan di atas, selalu diingat dan dipegang teguh oleh Gus Rofi'ul Hamid Himzi dalam setiap melangkah mencari ilmu. Itu dilakoninya setelah ia ditinggal abahnya empat tahun lalu, KH Abdurrochim bin Achmad Syadzili selaku pendiri Majlis Riyadlul Jannah.
Pendidikan adalah hal sangat penting bagi Gus Rofiq, sapaan yang kerap dilontarkan pada guru muda berusia 24 tahun oleh santri hingga jamaah Majlis Riyadlul Jannah. Namun, pendidikan bukanlah yang utama, karena ia selalu mengingat pesan terkahir dari guru sekaligus orang tuanya.
"Memang bagi saya pendidikan sangat penting. Namun yang utama adalah akhlaq seseorang yang akan menuntun pada kebaikan. Baik bagi diri sendiri maupun umat yang lainnya," ujar Gus Rofiq meneruskan ceritanya.
Ia menceritakan, tahun 2014 lalu, sebelum sang Abah meninggal. Ia sempat akan menempuh studinya di Madinah. Dengan harapan ingin khidmat mencari ilmu di kota Rasulullah SAW tersebut. Semuanya telah dipersiapkan, mulai dari segala kelengkapan surat-surat untuk kepentingan studi hingga perbekalan. Namun, kenangnya, keadaan berkata lain yang secara mendadak Abah memanggil dan berpesan kepadanya.
"Tidak usah ke Madinah, khidmat saja ke Abah," Pesan itu dipatuhinya tanpa banyak bertanya. Karena ia telah yakin dengan apa yang dikatakan memiliki makna tersembunyi.
"Saat itulah, setelah abah berpesan kepada saya. Studi ke Madinah saya urungkan. Ternyata benar, sebulan setalah abah memberikan pesan tersebut beliau masuk rumah sakit sampai akhirnya wafat," kenangnya Gus Rofiq.
Alumni MTs Daruttauhid ini melanjutkan cerita, ternyata pesan yang dikatakan abahnya tersebut adalah isyaroh bahwa Gus Rofiq mendapat amanah untuk meneruskan dan memimpin Majlis Riyadlul Jannah menggantikan Abah. Dari situlah, guru muda yang saat ini belajar di Jurusan Tafsir Al Quran dan Tafsir Hadist, UIN Sunan Ampel Surabaya harus melakukan apa yang belum dilakukan oleh Abahnya.
"Memang tidak mudah dan tidak mungkin menjadi pengganti Abah. Karena beliau adalah sosok yang tak tergantikan," imbuhnya.
Namun, kata dia, yang terpenting saat ini adalah meneruskan perjuangan sang guru atau abah yang belum terwujud. Ia mengungkapkan, perjuanagan yang harus dilakukannya adalah membangun pondok pesantren yang lebih besar lagi bagi umat muslim. Selain itu melebarkan sayap dengan membentuk koordinasi daerah di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri.
"Apa yang saya lakukan saat ini niatnya hanya satu. Membahagiakan orang tua. Karena apa yang telah didirikan oleh abah harus saya kembangkan. Itupun untuk kebaikan umat muslim," papar anak pertama dari lima bersaudara ini.
Tak hanya itu, sebagai pemimpin muda, Gus Rofiq selalu menekankan pentingnya pendidikan bagi jamaahnya dan setiap orang yang ditemuinya. "Kalau pendidikan itu ‘Tholabul 'ilmi faridhotun 'alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi ' Yang artinya ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim sejak dari lahir hingga liang lahat," bebernya.
Karenanya, juga ada pepatah yang berbunyi belajarlah hingga negeri China. Karena dengan banyak belajar, ada banyak proses akan dilalui. Dari hal itulah, ia berpesan seorang manusia menjadi pribadi yang syukur nikmat, tafakkur dan berbudi pekerti.
"Tetapi sekali lagi, yang perlu diingat adalah mengutamakan akhlaq. Karena orang pintar tak berakhlaq akan menjerumuskan dirinya sendiri dan tidak memiliki manfaat bagi sekitarnya. Sebaliknya orang berakhlaq sudah pasti pintar," paparnya.
Dalam menutup obrolannya, Gus Rofiq selalu mengingatkan kepada Jamaah Riyadlul Jannah untuk selalau Khidmat pada guru yang mendidiknya. Seperti istiqomah di jalan guru, mengingat pesan yang disampaikan, menjaga dan melindungi majlis seperti menjaga dan melindungi guru.(eri/ary)

Berita Lainnya :

loading...