Luluhkan Hati Anak Muda Dengan Akhlak


MALANG – Sebagai seorang mubalig muda, Gus Mamad pemimpin Ponpes Darul Falah 2 Karangpandan Pakisaji dan penceramah di Darul Falah Plaosan Blimbing, memiliki perhatian khusus untuk anak muda. Pasalnya, Gus Mamad juga mulai terjun sebagai pengajar umat sejak 2006 lalu dalam usia yang sangat muda, yaitu 25 tahun.
Gus Mamad berujar bahwa dia membuat sebuah majelis bernama Rhotibul Haddad di Darul Falah 2 Karangpandan Pakisaji yang berisi anak-anak muda. “Majelis ini khusus anak-anak muda, pemuda sekitar yang murni masyarakat umum bukan santri. Alhamdulillah saya bisa diterima oleh anak-anak muda sekitar,” kata Gus Mamad kepada Malang Post.
Menurut alumnus Ponpes Lirboyo Kediri tersebut, berdakwah kepada anak muda memiliki perbedaan mencolok dibandingkan berdakwah kepada kalangan dewasa. Menurut Gus Mamad, seorang mubalig harus bisa diterima secara pergaulan oleh para anak muda, sebelum menyisipkan ilmu kehidupan.
“Sesepuh yang merasa cocok dengan ceramah, enak didengar, bisa langsung terima ilmu. Tapi, ini tak bisa diterapkan kepada anak muda. Mereka tak akan mendengar apapun kata saya, kalau pribadi saya belum diterima oleh mereka. Saya harus diterima dulu secara pribadi oleh mereka,” terang Gus Mamad.
Sebagai seorang mubaligh, Gus Mamad tidak mencoba berpakaian gaul seperti arek nom-noman pada umumnya. Gus Mamad memilih pakaian yang sopan dan rapi untuk berkumpul dengan anak-anak muda di sekitarnya. Setelah itu, ada kunci lain yang membuatnya diterima sebagai seorang mubalig di hati anak-anak muda.
“Pakaian terbaik seorang anak muda adalah akhlak. Itu satu-satunya senjata yang diajarkan nabi Muhammad untuk meluluhkan hati banyak orang. Alhamdulillah saya bisa diterima. Setelah penerimaan, baru saya bisa memberi ilmu kehidupan kepada mereka,” ungkap putra dari KH Abdurrahman Qomari pimpinan Darul Falah Plaosan itu.
Gus Mamad memaparkan lebih jauh tentang perbedaan antara ngopeni umat yang sudah dewasa dan remaja-pemuda. Menurutnya, anak muda pada umumnya, selalu bergelut dengan fase pengidolaan yang berujung dengan peniruan karakter dan sikap. Pasalnya, Gus Mamad menyebut anak muda adalah kaum yang berjuang untuk mendapatkan identitas diri sebelum menjadi dewasa.
Tidak mengherankan bila kehidupan anak muda tak lepas dari pencarian idola-idola. Gus Mamad mencontohkan, band Inggris The Beatles memiliki begitu banyak penggemar di dunia. Tak terkecuali anak-anak muda di Indonesia. Kendati demikian, Gus Mamad menyebut pemuda muslim seharusnya mengidolakan orang-orang yang baik dan sudah terbukti khusnul khatimah.
“Tandanya orang khusnul khatimah itu kalau sudah meninggal namanya semakin harum. Saya pun mendorong anak muda untuk meneladani dan mengidolakan orang-orang baik terdahulu. Siapa yang mereka idolakan, itu juga yang akan membentuk karakter dan identitas diri mereka,” tambah Gus Mamad.
Dia menyebut anak muda adalah kertas putih yang masih bisa dicoret dengan berbagai warna. Pilihan untuk meneladani dan mengidolakan sangat menentukan masa depan dari pemuda tersebut. Gus Mamad menambahkan, seorang muslim akan dibangkitkan pada hari kiamat dan akan bersama dengan orang yang dicintai dan diidolakannya.
“Seorang muslim akan dibangkitkan di hari penghakiman bersama orang yang dicintai dan diidolakannya. Karena itu, sangat baik bila seorang pemuda mengidolakan orang-orang baik yang sudah terbukti khusnul qotimah,” sambung ulama muda yang gemar mendengarkan kicau burung peliharaannya di waktu senggang itu.
Selain soal idola, Gus Mamad juga mengatakan media sosial adalah pedang bermata dua yang mengancam masa muda para remaja masa kini. Menurut Gus Mamad, media sosial tanpa arahan yang baik pasti akan memberi buah yang tidak baik. Penggunaan media sosial oleh remaja harus mendapatkan pengawasan dan arahan.
Biasanya, anak muda juga selalu galau dan dicurahkan ke media sosial. Menurut Gus Mamad, media sosial jangan lagi menjadi tempat untuk mengumbar kegalauan. Cara anak muda Islam menghadapi kegalauan, adalah tidak pernah meninggalkan salat.
“Kembali ke ulama, dan jangan pernah tinggalkan salat. Salat itu kunci, seperti orang mandi yang disegarkan tiap waktu,” ujarnya.
“Insya Allah, jika masih ingat salat, maka pemuda tidak akan jatuh dalam perkara yang dialami orang tidak salat. Galau, sumpek dan kelabilan anak muda, insyaallah tidak akan ada bila selalu ingat salat. Karena salat adalah cara tawakal, menyikapi dunia dan pergaulannya yang liar,” tutup Gus Mamad.(fin/habis)

Berita Lainnya :

loading...