Dirikan Sekolah dan Ponpes karena Swadaya Masyarakat

 
Metode An-Nashr adalah cara belajar menerjemahkan Alquran dengan mudah dan cepat, menggunakan pola 4-3-2-1. Dalam kurun waktu 3 tahun, anak bisa terjemahkan 30 juz Alquran. Namun siapa sangka, nama An-Nashr yang artinya pertolongan ini, ternyata juga membawa berkah bagi Ustad Muhammad Taufik. Mimpinya untuk mendirikan Pondok Pesantren dan lembaga sekolah terwujud, meskipun awalnya ia hanya lulusan MTs (SMP).
“Sebetulnya saya ini hanya lulusan MTs. Tetapi kemudian saya harus ikut kejar Paket C, lantaran diminta mengajar di SMK. Dan baru menempuh kuliah tahun 2010,” ungkap Ustad Muhammad Taufik, tentang pendidikannya.
Nama An-Nashr yang artinya pertolongan, bukan sekadar nama yang tiba-tiba muncul begitu saja. Tetapi melalui proses yang cukup panjang.
Nama An-Nashr, terpikirkan ketika Ustad M Taufik menemukan pola 4-3-2-1 pada tahun 2004, yang dianggapnya enak dan mudah dalam penerapan belajar penerjemahan Alquran. Ia merasakan bahwa penemuan pola 4-3-2-1 tersebut, benar-benar karena merupakan pertolongan dari Allah SWT.
Pasalnya sebelum menemukan pola itu, M Taufik harus melewati proses perjalanan yang bermacam dan pengorbanan selama beberapa tahun. Yakni, mulai dari menyalin tulisan Arab beserta artinya pada 300 lembar kertas folio, lalu kehilangan Alquran yang sudah diberi terjemahannya, hingga gagal dalam mempraktikkan pembelajaran awal pada anak-anak. 
“Namun begitu saya menemukan pola 4-3-2-1, yang hanya dalam hitungan beberapa pekan, akhirnya saya berpikir bahwa campur tangan Allah SWT lebih besar, dari pada ikhtiar saya selama beberapa tahun. Semuanya karena pertolongan Allah SWT,” ucapnya.
Alumni Ponpes Al Huda Wajak ini pun bercerita, bahwa untuk mendirikan pondok pesantren dan lembaga sekolah yang diberinama An-Nashr pada tahun 2010 lalu, juga penuh perjuangan. Karena Taufik, yang hanya putra seorang imam tahlil di Dusun Patuk Rekesan, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, sama sekali tidak memiliki biaya ataupun lahan.
Selain itu, ia hanya lulusan MTs. Ibaratnya, mendirikan Ponpes dan lembaga sekolah, waktu itu hanya mimpi saja. Namun karena niat serta keyakinannya begitu kuat, bahwa metode An-Nashr yang diciptakannya bisa menjadi jalan untuk meraih impiannya. Taufik lantas mempromosikan metode An-Nashr itu ke sekolah-sekolah. Promosi itu ia lakukan sejak 2005.
“Saya mengajak anak ke sekolah, untuk menemui guru dan kepala sekolah meyakinkan bahwa anak SD dan SMP bisa mengartikan Alquran dengan cepat. Tetapi respons yang saya terima tak sesuai harapan, sama sekali tidak ada lembaga sekolah yang percaya,” terang bapak empat anak ini.
Namun Taufik, tidak putus asa. Pada 2007 ia mencoba mendirikan TPQ yang mengajarkan metode An-Nashr, untuk memberi bukti pada masyarakat. Hasilnya, begitu TPQ berdiri ternyata banyak TPQ lain dari beberapa daerah yang datang menemuinya untuk belajar metode An-Nashr.
Termasuk Kepala SMK Cendika Bangsa Kepanjen, Hasan Abadi, yang menemui Taufik, untuk mencoba mempraktikkan metode An-Nashr di tempatnya mengajar. Kebetulan, pada waktu itu SMK Cendika Bangsa juga baru berdiri. Taufik diminta menjadi pengajar (guru) di sekolah tersebut.
Usai menerima tawaran itu, jawaban ya dan tidak berkecamuk dalam hatinya, karena ia hanya lulusan MTs. Tetapi karena diminta dan demi mengenalkan metode An-Nashr, aufik pun menerima tawaran itu. “Dalam struktur sekolah, nama saya tertulis sebagai guru lulusan pondok pesantren,” ucapnya.
Kemudian untuk menyetarakan jenjang pendidikan, Taufik mengikuti Kejar Paket C. Baru tahun 2010, ia melanjutkan kuliah. “Itu (kuliah) pun bukan keinginan saya. Tiba-tiba saya didaftarkan kuliah oleh Kepala SMK Cendika Bangsa dan mendapatkan beasiswa. Sehingga mau tidak mau saya melanjutkan kuliah,” bebernya.
Selama sekitar dua tahun mempraktikkan pembelajaran An-Nashr di SMK Cendika Bangsa, ternyata pelajaran menerjemahkan Alquran dengan metode itu membuahkan hasil. Dari situ, Taufik semakin yakin bahwa metode An-Nashr bisa diterapkan di sekolah formal.
Akhirnya berbekal pengalamannya menjadi guru, Taufik mengutarakan keinginannya untuk mendirikan sekolah. Niatan itu disampaikan kepada ayahnya, serta salah satu tokoh masyarakat di desanya, termasuk kepada teman-temannya pada tahun 2010.
Keinginan Taufik pun disambut baik. Tokoh masyarakat di desanya, menghibahkan lahannya untuk didirikan sekolah. “Termasuk teman-teman saya yang menyatakan siap menyekolahkan anaknya di sekolah yang akan saya dirikan. Karena mendirikan sekolah, juga harus berfikir apakah ada anak yang mau sekolah. Dan alhamdulillah, waktu itu ada tujuh anak dari teman yang siap menjadi murid,” urainya.
Setelah dibangun melalui dana swadaya, pada tahun ajaran 2011/2012 Madrasah Ibtidaiyah An-Nashr pun resmi dibuka. Kemudian tahun berikutnya, ia mendirikan RA dan tahun ajaran 2017/2018 mendirikan SMP An-Nashr, sekaligus Pondok Pesantren An-Nashr. Semuanya dibangun dari dana swadaya.
Dari semula hanya 7 siswa pada MI, kini jumlah muridnya sudah ratusan. Ada murid dari Pasuruan dan Kalimantan. Termasuk dari sebelumnya tidak ada lembaga sekolah yang mau menerima pembelajaran metode An-Nashr, saat ini sudah ratusan lembaga sekolah yang menerapkan metode An-Nashr. Tidak hanya di Kabupaten Malang, tetapi juga sampai Lamongan dan Jombang.
“Sekolah-sekolah sampai sekarang masih memakai metode An-Nashr, karena menganggap bahwa metode ini sangat bermanfaat. Termasuk juga disenangi para guru, karena pelatihan metode ini tidak rumit. Mereka hanya latihan sehari atau lima jam saja, sudah bisa mengajar kepada anak-anak,” papar pengurus PC NU Kabupaten Malang ini.
Dia menambahkan, dengan adanya Pondok Pesantren, siswa SMP diwajibkan menetap di Ponpes. Karena targetnya, selama tiga tahun menimba ilmu di SMP An-Nashr, ketika lulus siswa sudah bisa menerjemahkan 30 juz Alquran, juga mampu memahami dan menerapkan ilmu Nahwu dan Shorof, termasuk memahami kitab lainnya.(agp/han)

Berita Lainnya :

loading...