Dra Karmini, Guru SLB yang Juga Pembina Pramuka


Hari ini (14/7/17), tepat peringatan 56 tahun Hari Pramuka. Banyak pegiat Pramuka yang tetap menjadi pembina di tengah aktivitas lain, termasuk Dra Karmini. Anak Pramuka yang ia bina sangat istimewa, yaitu anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang bersekolah di SLB BC Kepanjen.
Panas terik matahari yang menyengat kulit sore itu, tidak menyurutkan aktivitas puluhan anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti Jambore Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa) di SLB Dharma Wanita Pakisaji. Mereka sibuk mendirikan tenda. Ada juga yang mempersiapkan diri mengikuti upacara pembuka.
Seluruh aktivitas ABK tersebut didampingi guru maupun pembina masing-masing. Dari semua tenda yang ada, ada satu yang menarik perhatian. Yaitu tenda perkemahan milik SLB BC Kepanjen. Di bawah arahan guru yang sekaligus pembina pramuka Dra Karmini, mereka sukses membangun tenda unik dengan menambahi hiasan empat bunga plastik berwarna-warni, sehingga enak dipandang.
Usai mengikuti upacara pembukaan Jambore Perjusa, Dra Karmini lalu memberikan instruksi kepada anak didiknya di dalam tenda. Tak seperti pembina Pramuka pada umumnya yang memberikan instruksi dengan suara tegas,  perempuan berusia 50 tahun ini memberikan instruksi melalui isyarat tangan. Maklum, mayoritas anak didiknya di SLB tersebut merupakan tuna rungu serta tuna wicara.
Kedua tangannya lihai “berbicara” menyampaikan instruksi. Anak-anak itupun bersemangat menjalankan instruksi yang disampaikan Karmini.
Karmini mendapatkan ilmu bahasa isyarat saat berkuliah di Universitas Negeri Jember (UNEJ), dia memang mengambil konsentrasi Pendidikan Luar Biasa (PLB). Jalan takdir lah yang membawa Karmini menjadi pembina Pramuka anak-anak istimewa itu. Mulanya, perempuan yang berdomisili di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen ini, merupakan seorang Guru Tidak Tetap (GTT) di SMPN 3 Kepanjen. Selama beberapa tahun, dia mengajar anak normal pada umumnya hingga tahun 2000.
Kala itu, aktivitas Karmini beralih di desa saat ia dipercaya menjadi Bendahara di Desa Sukoharjo hingga 2003. Kala menjadi bendahara dan lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat, Karmini melihat kondisi banyak anak-anak berkebutuhan khusus di desanya yang sekolah di SLB BC Kepanjen.
Ia trenyuh melihat kondisi anak-anak di sekolah tersebut, hingga kemudian memutuskan menjadi guru SLB. “Tepatnya awal tahun 2001 saya menjadi Guru SLB BC Kepanjen ini,” ucap Karmini kepada Malang Post.
Dia mengakui, saat pertama kali menjadi Guru SLB dan Pembina Pramuka tidaklah mudah. Lantaran yang dibina adalah anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sehingga, metode yang diajarkan berbeda dari anak normal pada umumnya. “Saya memakai pendekatan hati,” imbuh Karmini.
Dia dituntut mampu berkomunikasi memakai hati serta mengerti perasaan mereka. Sedangkan media perantaranya selain bahasa isyarat, ada;ah gambar dan tulisan. Karmini pun berkomunikasi melalui tulisan serta gambar yang mudah dimengerti oleh seluruh anak berkebutuhan khusus.
“Jadi, saat berkomunikasi, saya kombinasikan antara bahasa isyarat dengan tulisan maupun gambar,” tuturnya sembari mencontohkan cara berkomunikasi di hadapan empat siswa SLB BC Kepanjen.
Untuk memberikan instruksi saat ektrakurikuler Pramuka, Karmini harus memeragakan di depan anak didik. Supaya mereka lebih mengerti dan memahami dan dapat meniru gerakan tersebut. Termasuk, Karmini juga memberi contoh lewat peragaan saat mengikuti upacara pembukaan Jambore, Perjusa.
Tampak saat itu, Karmini memeragakan upacara dengan cara berlari di hadapan anak didik. Dengan penuh kepolosan, seorang anak didik menirukan gerakan Karmini dengan begitu cepat ke tengah lapangan. Spontanitas ini sontak menimbulkan gelak tawa dari para hadirin, lantaran tingkahnya sangat lucu.
“Ya harus dibutuhkan kesabaran. Lantaran tidak bisa sekali memberikan contoh, melainkan harus berulang kali,” terangnya.  
Menurutnya, pendidikan kepramukaan sangat penting bagi mereka untuk meningkatkan semangat dalam beraktivitas dan menumbuhkan kreativitas bagi seluruh anak-anak berkebutuhan khusus.
“Apalagi Pramuka merupakan ektrakurikuler wajib. Anak-anak didikan saya, juga sudah hafal Pancasila, Lagu Indonesia Raya dan Sapta Darma Pramuka,” tuturnya.
Selain memberikan pendidikan Pramuka, dia juga mengajarkan kepada mereka merangkai bunga plastik dan berbagai macam kerajinan daur ulang dari sampah plastik. Hasilnya pun sangat membanggakan. Selama 16 tahun, Karmini berhasil mendidik anak-anak berkubutuhan khusus dengan sukses.
Takaran kesuksesan tersebut, menurut Karmini, anak-anak didiknya dapat mandiri dan banyak diterima pekerjaan di perusahaan. “Ada yang di Bentoel, Gudang Baru dan beberapa perusahaan lain. Tentunya saya bangga, mereka bisa diterima di perusahaan bonafit sekelas Bentoel, meski memiliki keterbatasan,” terangnya.
Dari pengalamannya selama 16 tahun menjadi guru SLB dan pembina Pramuka, memberinya banyak pelajaran hidup.  Bahwa mereka yang memiliki kekurangan dalam fisik maupun mental, kata dia, sebenarnya memiliki keistimewaan dan kelebihan yang tidak diketahui banyak orang.
Karmini pun berharap, masyarakat dapat memberi perhatian lebih kepada anak-anak berkebutuhan khusus ini. “Termasuk juga pemerintah harus memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus, melalui program yang pro terhadap mereka,” tutupnya. (big/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :