Sarung Tenun Lawang Mas, Berkarya dengan Nafas Terakhir


Kabupaten Malang ternyata memiliki pabrik sarung legendaris. Namanya, Sarung Tenun Lawang Mas, terletaknya di Jalan Dr. Soetomo Kecamatan Lawang. Lokasinya bersebelahan dengan Fly Over Lawang. Sarung Tenun legendaris ini sudah berdiri sejak tahun 1940 dan masih eksis hingga sekarang. Sarung tenun itu milik warga keturunan Arab benama Assegaf.

Lantaran menyandang predikat sebagai sarung legendaris, maka pembuatannya juga menggunakan mesin kuno. Assegaf memiliki beberapa mesin tenun tua, penggunaannya secara manual. Mesinnya berjajar rapi di bangunan lama yang digunakan untuk memproduksi sarung tersebut. Setidaknya ada delapan mesin tenun di tempat itu. Mesin tenun itu digunakan membuat sarung dengan bahan dasar benang.
Menurut Assegaf, ada tiga jenis sarung yang dibuatnya. Pertama Sarung Tenun Sutra, kemudian Sarung Tenun Goyor serta Sarung Tenun Kembang. “Kalau yang paling diminati adalah Sarung Goyor ini. Karena kainnya dingin dan tidak kasar. Selain itu, kondisi kainnya juga tidak kaku,” ujarnya kepada Malang Post.
Untuk membuat satu sarung tenun, kata dia, rata-rata membutuhkan waktu setidaknya seharian penuh. Maklum, peralatan mesin yang kuno memang membutuhkan waktu lama. Belum lagi yang mengoperasikan mesin terebut, adalah para orang usia lanjut. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam membuat sarung tenun tersebut.
“Dalam seminggu ia bisa membuat sarung rata-rata sebanyak tujuh hingga delapan buah,” kata pria berusia 69 tahun ini.
Satu sarung tenun itu, dijual seharga Rp 120 ribu. Sedangkan untuk pembelinya mayoritas adalah para pedagang Makam Sunan Ampel di Kota Surabaya. Kemudian sarungnya dijual kembali kepada peziarah.
“Kalau pemesanannya, harus dilakukan sejak jauh hari. Karena dibutuhkan waktu untuk proses pembuatannya,” terangnya.
Lanjut Assegaf, pembuatan sarung yang digunakan untuk Lebaran, biasanya sudah dipesan sejak jauh hari. “Biasanya enam bulan sebelum bulan Ramadan sudah banyak yang pesan. Karena membuatnya manual, makanya dibutuhkan waktu. Bulan Ramadan ini, biasanya pemesannya antara 30-80 buah untuk sarung tenun manual,” tuturnya
Sedangkan pemesanan biasanya rata-rata mencapai per bulan mencapai 10-15 buah. Ia mewarisi usaha ayahnya bernama Abdurahman ini juga membuat sarung dengan mesin otomatis.

“Sarung yang dibuat mesin juga ada. Tapi, pemesan lebih banyak memesan sarung tenun yang dibuat manual ketimbang sarung yang dibuat oleh mesin.
Dia mengatakan, sebenarnya kualitas sarung tenun buatannya tidak kalah dengan tempat lainnya. Apalagi saat proses pembuatannya tidak hanya menggunakan mesin tenun, melainkan menggunakan mesin. Namun, sarung tenun yang dibuat menggunakan mesin, tidak ada motif alias polos. Sedangkan sarung tenun bermotif proses pembuatannya secara manual.
“Sarung buatan saya banyak yang memesan untuk digunakan pada momen Lebaran seperti sekarang. Biasanya digunakan untuk oleh-oleh,” terangnya.
Bisa dikatakan, saat ini sarung tenun Lawang Mas berkarya dengan nafas terakhir. Sebab, satu mesin sarung tenun kata kakek tiga cucu ini dioperasikan satu orang. Mayoritas karyawan yang mengoperasionalkan mesin tenun merupakan warga sekitar berusia 55 tahun ke atas.
“Yang mengoperasikan mesin tenun ini usianya tua, berpendidikan rendah dan sebelumnya memang tidak memiliki pekerjaan,” terangnya
Sedangkan total pegawainya berjumlah lima orang semuanya  berusia lanjut. Maka dari delapan meisn tenun, terdapat tiga mesin yang tidak terpakai.
Dia mengatakan, yang menjadi kendala adalah belum adanya penerus pembuatan sarung tenun ini. Sedangkan dirinya merupakan generasi kedua penerus pembuatan sarung tenun warisan dari orang tuanya.
“Tentunya saya berharap ada para pemuda mau berlatih membuat sarung tenun ini, supaya keberadaannya terjaga dengan baik,” pungkasnya.(Binar Gumilang/ary) 

Berita Lainnya :