Jongky Goei, seniman kelahiran Malang warga Jerman, Keliling Dunia Kenalkan Budaya Indonesia


Jongky Goei, bukan nama yang familier di telinga warga Kota Malang. Kalangan seni Malang saat ini pun mungkin tak pernah melihat karyanya ditampilkan di Malang. Namun, pria kelahiran Malang keturunan Tionghoa ini, sudah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia sebagai produser seni panggung. Pria yang juga pianis klasik di Jerman ini membungkus Ramayana dan Kecak sebagai karya seni budaya di atas panggung dunia dan melambungkan Indonesia.
Malang Post, menemui Jongky di Jalan Wilis 21, sore kemarin. Jongky masih sibuk mengajar piano klasik di masterclass Lembaga Pendidikan Kesenian Dwipantara (LPKD). Jongky tengah membagikan dasar-dasar yang harus dimiliki pianis klasik kepada muridnya bernama Rasyad. Dengan antusias, Jongky memberi pedoman dasar untuk memahami musik klasik Eropa.
“Saya tidak ajarkan teknik secara terpisah. Saya ajarkan pedoman komplet pianis klasik. Gak bisa belajar klasik hanya jasmani saja. Saya juga tak ajari main cepat, ini seni bukan olahraga tangan. Kalau bisa menjiwai piano klasik, kecepatan itu akan datang dengan sendirinya,” kata Jongky kepada siswanya.
Sesekali, Jongky membolak-balik partitur yang dikomposisi oleh Mozart. Dia lalu memberi contoh dengan menekan tuts piano. Dengan penuh perhatian, Rasyad tampak berusaha menyerap pelajaran dari masterclass ini. Selama kurang lebih satu jam 15 menit, Jongky memberi dasar kepada siswanya untuk terjun di dunia musik klasik.
“Harus tahu soal rasa terimakasih kepada orangtua karena diberi kesempatan belajar musik klasik, yang mahal dan butuh ongkos ini. Harus bisa apresiasi dan sadar juga untuk mengenal musik klasik. Setelah dua hal ini dipenuhi, baru sanggup mendalami musik klasik,” sambung Jongky, sebelum menutup sesinya bersama siswa di masterclass tersebut.
Usai mengajar satu siswa lagi, Jongky akhirnya menemui Malang Post dan mulai bercerita soal kisahnya, sebagai warga Malang yang mengadu nasib di Jerman. Jongky, dikenal bukan sebagai pianis. Namun, pria alumnus SMA Kolose Santo Yusuf Blimbing ini, merupakan manajer dan produser panggung untuk pertunjukan seni tari kelas dunia yang mengusung perpaduan Eropa dan Indonesia.
Sejak tahun 1988, Jongky yang lulus sekolah musik di Musik Hochschule, Stuttgart, dipertemukan dengan balerina Marcia Haidee asal Brasil. “Saya diminta menjadi manajer dan pada akhirnya jadi produser juga untuk Marcia. Kami tampil di berbagai belahan dunia, semacam duta pertukaran seni budaya. Saya bawa tari Eropa ke Amerika, Amerika ke Asia, Asia ke Australia, seluruh benua sudah saya datangi,” kata Jongky kepada Malang Post.
Setelah 12 tahun menjadi manajer balerina sekaligus menyajikan seni panggung pertukaran budaya di berbagai penjuru dunia, Jongky akhirnya pulang ke Indonesia. Bersama Marcia, dia menggandeng 60 seniman tari kecak dari Bali serta satu koreografer asal Swedia yang cinta kebudayaan Bali, untuk menghelat panggung pertama Jongky di Indonesia.
“Itu adalah world premiere. Marcia, dikelilingi 60 seniman tari kecak Bali, menceritakan soal Ramayana dengan gaya blend Eropa dan Indonesia. Tahun 2000, karya ini sukses dan akhirnya sebagai gantinya, saya bawa mereka untuk tur manggung di Jerman,” terang bungsu dari delapan bersaudara ini.
Jongky menjadi satu dari sedikit seniman yang sukses membawa Indonesia keliling dunia. Dia juga menyebut karya yang mengangkat namanya di panggung seni pertunjukan dunia, adalah Ramayana dengan versi yang lebih komplet. Jongky tak menghadirkan happy ending Rama yang menyelamatkan Shinta dari cengkraman Rahwana.
“Tapi, saya buat penonton terhenyak, dengan chapter akhir saat Shinta pulang dan dituduh tak suci oleh rakyat Rama. Shinta akhirnya buktikan kesuciannya dengan terjun ke dalam api, serta membuat klimaks yang tragis. Kalau bikin happy ending, karya ini bakal gampang dilupakan,” jelas Jongky.
Karena kontribusinya ini, Jongky menjadi warga negara Jerman. Bahkan, saat sudah pensiun seperti sekarang, Jongky masih menerima uang pensiun dari pemerintah Jerman. Dia saat ini, pulang ke Malang untuk mendatangi sekolahnya saat SMA, menyajikan konser serta memberi motivasi bagi para siswa serta para alumni Kolose Santo Yusuf.
“Kebetulan ketemu dengan pak Agung (LPKD Malang), akhirnya saya beri masterclass tanpa dibayar, tujuannya agar muncul seniman klasik dari Malang. Senin saya ke Surabaya. Harusnya, saya pulang September, tapi Oktober saya diminta manggung di Konsultat Jerman,” tambah Jongky.
Pria berkacamata yang sudah tuntas sebagai manajer seni pertunjukan, ternyata sudah menunjukkan minat terhadap seni panggung sejak kecil. Pada era Sukarno, Jongky mengaku punya pengasuh yang tiap hari bersamanya, melebihi waktunya bersama sang mama. Pengasuh Jongky adalah wanita Jawa.
Sehingga, tiap hari Sabtu saat libur, Jongky diajak oleh pengasuhnya ini, ke gedung Flora yang sekarang menjadi kompleks pertokoan di Jalan Zainul Arifin. “Dulu, saat masih kecil, saya ingat selalu diajak ke gedung Flora untuk nonton wayang orang tiap hari Sabtu oleh pengasuh saya,” kenang Jongky.
Dari sinilah, bakat dan minatnya terhadap seni pertunjukan mulai tumbuh. Namun, Jongky muda masih belum sadar benar bahwa dia akan hidup dari seni saat itu. Dia juga bertemu dengan guru piano klasik Von Romer, warga keturunan Belanda yang tinggal di Malang. Dari Von Romer inilah, Jongky menemukan bakat seninya.
Dia diperkenalkan kepada para penggubah musik besar, seperti J.S Bach, W.A Mozart, L.v Beethoven hingga komponis Polandia, Frederic Chopin yang jadi favoritnya. Namun, setelah lulus SMA di Santo Yusuf tahun 1973, Jongky memilih untuk kuliah di Stuttgart Jerman, serta mengambil jurusan arsitektur.
“Tapi, guru piano kakak saya menyebut bahwa saya punya bakat di bidang seni. Akhirnya, saya ikut ujian masuk ke Musik Hochschule, Stuttgart dan diterima. Saat kuliah, saya sudah menjadi guru piano, dan sudah mengadakan konser di Jerman. Saya juga sempat ke Polandia,” kata Jongky.
Dia mendalami sosok Chopin, komposer dan pianis jenius dari Polandia yang dikenal karena komposisi-komposisinya yang romantis. Jongky mendalami karya-karyanya secara langsung di Polandia. Namun, pada akhirnya Jongky merasa tersiksa profesi pianis yang soliter dan tidak membutuhkan orang lain untuk bisa tampil atau perform.
“Saya bahkan sempat vakum 1,5 tahun dari piano karena saya jawaban lain dari pertanyaan hidup saya,” tambahnya. Dia merasa sulit harus sendirian berlatih piano selama 8 jam setiap hari. Tipikal karakternya yang ekstrovert dan lebih senang bergaul serta bersosialisasi, membuatnya berpikir untuk mencari jalan hidup lain.
“Saya tetap mengajar piano selama 40 tahun terakhir. Tapi, pianis bukan jiwa saya. Baru setelah saya bertemu dengan Marcia, saya terjun ke seni panggung dan secara tak langsung jadi aktivis seni budaya sampai sekarang hingga keliling dunia, ,” tutur Jongky.
Dia berharap, sepenggal ceritanya di dunia pertunjukan maupun seni musik klasik, bisa menginspirasi anak muda maupun generasi penerus di Malang, untuk mencintai musik dan seni. Karena itulah, Jongky juga tidak segan mengajar di masterclass karena berharap bisa menginspirasi seniman muda yang cemerlang di Kota Malang.
“Suatu saat nanti kalau saya sudah tidak lagi ada, dari sedikit yang saya ajarkan kepada mereka, bisa memuncul ratusan seniman yang punya jiwa dan menghidupkan Malang serta Indonesia,” tutupnya.(fino yudistira)

Berita Terkait

Berita Lainnya :