Gus Muham, Pelatih Penari Sufi di Malang

Hari mulai sore, terlihat anak-anak dan pemuda sedang menari berputar-putar diikuti alunan suara musik khas Timur Tengah, pada salah satu rumah yang terletak di Desa Sukolilo, Jabung, Kabupaten Malang. Di dekat para penari-penari itu, terlihat seorang laki-laki muda sedang memperhatikan gerakan mereka, dan beberapa kali membenarkan gerakan untuk menyempurnakan tarian dari masing-masing penari.

Laki-laki itu adalah pelatih tari Sufi atau tarian dzikir, yang sedang dipraktikkan penari-penari itu. Muham Muhammad El-Muqtadir (25), pelatih tari sufi yang sudah sering berkeliling Indonesia hingga Malaysia dan Singapura, untuk menarikan tarian sufi.  Kegemarannya menari sufi menjadikan Gus Muham, sapaan akrabnya, ingin menularkan kepada masyarakat sekitar. Oleh karena itu, dia membuka sanggar gratis untuk anak-anak dan juga pemuda di desanya untuk belajar tarian yang diciptakan Jalaluddin Rumi pada abad ke-13 itu. Sampai saat ini, lebih dari 30 penari yang belajar tarian yang merupakan bagian dari meditasi diri yang dikaitkan dengan ajaran sufi dalam Islam.

 "Alhamdulilah peminatnya semakin banyak. Mulai dari kelas satu SD, sampai yang berumur 20 tahunan belajar menari di sini," kata laki-laki yang mengaku belajar menari di Pondok Pesantren Maulana Rumi, Bantul Yogyakarta ini. Gus Muham menggratiskan latihan dalam sanggar lantaran tidak ingin memberatkan orang tua mereka, yang memang mayoritas bekerja sebagai buruh tani. Bahkan untuk perlengkapan seperti kostum yang dipakai, dia membeli dengan uang pribadi. "Kostum saya belikan. Harganya lumayan mahal, untuk bajunya saja, paling murah Rp 500 ribuan. Belum yang lain-lain. Saya tidak mau menjadi beban orang tua mereka. Selama mereka semangat belajar, insya Allah rezeki ada aja," tambah laki-laki yang mencari nafkah sebagai pedagang baju di pasar Pakis ini. Melalui sanggar itu, ia juga ingin berbagi indahnya belajar tari sufi. Menurut Gus Muham, seseorang yang memahami serta piawai menari sufi, akan lebih religius dan lebih bijaksana dalam menghadapi hidup. Sebab, sejatinya tarian sufi (shema) sesungguhnya bentuk dzikir dengan iringan alunan musik dan tarian memutar searah dengan putaran thawaf mengelilingi Ka’bah. "Untuk bisa menarikan tarian ini, seseorang harus benar-benar melupakan duniawi dan fokus hanya kepada Allah. Di sinilah pentingnya berdzikir ketika menari. Jadi antara hati dan juga tarian akan menyatu, sehingga tarian menjadi indah dan juga menenangkan mereka yang melihatnya,” kata alumni UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta ini. Laki-laki asli Jabung ini juga menjelaskan, gerakan tarian sufi adalah memutar di tempat ke arah berlawanan dengan arah jarum jam. Dalam berputar, penari tidak memiliki patokan waktu tentang berapa lama ia harus berputar atau seberapa cepat putarannya. "Tetapi penari dituntut terus berputar hingga ia kehilangan emosi, dan menyerahkan diri sepenuhnya pada yang Maha Kuasa. Semakin dia pasrah, maka semakin bagus tariannya," ungkapnya. Menurut Gus Muham, putaran juga terjadi pada kehidupan manusia. Manusia berawal dari tidak ada, kemudian menjadi ada, dan pada akhirnya kembali tiada. “Namun setiap putaran kehidupan manusia, tidak ada yang sama. Semua yang berputar terus mengikuti aturan yang ada dan bergerak pada satu poros yang telah diciptakan oleh Allah," urainya. Ketika penari memutar seperti gasing, tangan kanannya diposisikan lurus ke samping dengan telapak tangan menengadah ke atas. Hal ini merupakan simbol seorang hamba yang memohon kedekatan diri kepada Sang Pencipta, sementara itu tangan kiri lurus ke samping menengadah ke bawah sebagai simbol khalifah, yang menyalurkan kasih kepada para makhluk lain. "Ini menyimbolkan adanya hubungan yang baik, antara makhluk dengan Sang Khalik. Dan hubungan antara makhluk dengan makhluk lain,” jelasnya. Selain itu, gerakan kaki para penari sufi juga memiliki beberapa makna tentang kehidupan. Kaki kanan yang melakukan putaran memiliki makna bahwa seseorang akan melangkah ke arah yang lebih baik. Ia menyimbolkan pilihan untuk melangkah ke arah yang benar, dan meninggalkan segala hal negatif yang tidak baik. "Kaki kiri sebagai tumpuan pun memiliki arti. Bahwa bagaimanapun seseorang bergerak asalkan memiliki tumpuan yang jelas, maka orang tersebut tidak akan terperosok ke dalam jurang kemaksiatan," tambahnya. Dari segi pakaian, kostum para penari sufi memiliki beberapa atribut yang sangat khas. Ada topi maulawi, jubah dan kuff. Topi penari sufi berbentuk memanjang melambangkan bentuk batu nisan, yang mengingatkan kepada penari maupun yang melihatnya akan kematian yang mutlak akan datang kepada siapapun, sehingga setiap hamba akan selalu mempersiakan diri menyambut kematian. Sedangkan kuff adalah alas kaki dari kulit. Gus Muham menyatakan, menari sufi memberikan manfaat besar. Dapat meningkatkan kosentrasi berfikir, peningkatan akhlak menjadi lebih baik, membuka aura diri, dan bahkan dapat menyembuhkan penyakit. "Beberpa pengalaman murid saya ada yang sembuh dari kanker payudara, setelah tak sampai enam bulan belajar menari. Tentunya juga dengan obat dokter. Selain itu anak-anak yang belajar menari sufi, juga lebih baik peringkatnya di sekolah, " tambahnya. Saat ini anak-anak didiknya sudah sering mendapat undangan untuk tampil di setiap acara. Tidak hanya di Malang, undangan juga sering didapat dari kota lain seperti Pasuruan, Semarang, Solo dan lain-lain. "Alhamdulilah dari tampil, gaji mereka juga bisa sedikit demi sedikit digunakan untuk membantu orangtuanya. Saya harap ke depan juga bisa menjadi ladang untuk memperoleh rezeki, serta mendapatkan berkah dari Allah," tandasnya. (yuyun/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...