Miliki Tiga label, Produksi Meningkat di Musim Hujan



SENTRA pembuatan kerupuk di Kepanjen, ada di Kelurahan Penarukan. Di tempat tersebut, terdapat tiga merek kerupuk ternama. Yakni kerupuk berlabel Idola, Sahabat dan Andalas yang digemari masyarakat Kota Kepanjen dan sekitarnya. Daerah tersebut menjadi sentra kerupuk sejak tahun 2004 silam dan semakin berkembang hingga saat ini.

Siang itu sinar matahari hanya muncul sesekali di Kota Kepanjen dan sekitarnya. Meski cuaca kurang mendukung untuk menjemur adonan kerupuk, beberapa orang tetap melakukan aktivitas tersebut. Beberapa orang tampak sibuk menata adonan kerupuk untuk dijemur. Sedangkan dua orang lain sedang menata kerupuk yang mulai mengering.
Ya tempat itu merupakan sentra pembuatan kerupuk yang memiliki tiga label, yaitu Idola, Sahabat dan Andalas. Sedangkan pemilik usaha tersebut adalah Suroyo. Suroyo merupakan warga Jogjkarta yang banyak menghabiskan waktu di Kabupaten Malang.
Dia megawali usaha membuat kerupuk pada tahun 2004. Secara perlahan usahanya membuahkan hasil. Dari tiga pabrik kerupuk itu, Suroyo akhirnya memiliki rumah dan tempat usaha kerupuk sendiri sampai saat ini, yang diberi label Andalas. Sedangkan kerupuk merek Idola dan Sahabat, diserahkan kepada adik dan pamannya.

Kerupuk Andalas milik Suroyo ini, sudah dikenal oleh masyarakat luas. Rasanya yang enak, gurih dan renyah membuat orang suka. Dan dari yang semula dikerjakan sendiri secara manual, kini Suroyo telah memiliki sekitar 50 karyawan. Kerupuk Andalas, diedarkan di seluruh Malang Raya, mulai dari Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu
Termasuk di semua pelosok, ada kerupuk merek Andalas milik Suroyo. “Usaha kerupuk ini memang keahlian saya. Lantaran sejak di Jogjakarta, saya sudah menjalani usaha pembuatan kerupuk ini,” ujar Suroyo kepada Malang Post. Dia menjelaskan, untuk produksi, setiap harinya menghabiskan sekitar 5 kwintal tepung untuk bahan kerupuk.
Namun ketika musim hujan, produksinya malah meningkat sampai menghabiskan sekitar 7 kwintal tepung. “Saya menjual dalam dua jenis kerupuk. Dalam bentuk mentah yang masih keras, atau sudah matang dan digoreng,” kata dia. Keberhasilan membuat kerupuk itu, dia tularkan kepada warga lain yang ada di sekitar rumahnya.
Sehingga, masyarakat bisa secara mandiri membuat kerupuk untuk dijual kembali. “Saya malah senang bisa berbagi kesuksesan dalam mengembangkan usaha kerupuk ini. Lantaran saya memang sengaja menularkan kesuksesan dalam membuat kerupuk ini,” terangnya. Dia mengatakan, jangan menganggap remeh usaha kerupuk tersebut.
Karena usaha kerupuk yang bagi sebagian masyarakat dinilai tidak menjanjikan, ternyata dapat memberikan keuntungan dan peningkatan perekonomian. “Apapun usahanya, apabila ditekuni secara serius dan tidak kenal menyerah, juga disertai doa, saya yakin ada hasilnya. Karena tuhan tidak akan menutup mata dengan upaya itu,” tuturnya. (big/bua)

Berita Terkait

Berita Lainnya :