Ketika Para Penjinak Peledak, Yon Zipur 5 Kepanjen Main Reog


PRAJURIT TNI Angkatan Darat (AD) Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) 5 Kepanjen, memang secara khusus dilatih untuk perang di medan tempur. Namun bukan berarti, mereka tidak memiliki keahlian lain selain strategi perang. Ternyata mereka juga piawai dalam memainkan kesenian reog.
Bau kemenyan pagi itu begitu menusuk hidung. Kemenyan tersebut dibakar di atas potongan genteng. Kepulan asapnya langsung menyebar di halaman Batalyon Zeni Tempur 5 Kepanjen. Seperti sudah menjadi syarat wajib, setiap ada kesenian reog ataupun kuda lumping, aroma kemenyan yang kuat selalu tercium.
Tak lama setelah kemenyan terbakar, tabuhan gamelan, gong dan alat musik lainnya langsung dimainkan secara bersamaan dan beriringan. Kemudian beberapa orang dengan memakai kaos dan celana doreng langsung menari layaknya penari reog sungguhan. Dengan memakai topeng dan reog, mereka menari di hadapan Pangdam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko, yang hadir di Yon Zipur 5 Kepanjen.
Ada sekitar 15 orang yang saat itu memainkan alat musik serta memperagakan tarian Reog Ponorogo. Mereka itu bukanlah orang umum atau pelaku seni reog asli, tetapi adalah para prajurit Yon Zipur 5 Kepanjen. Meski bukan pelaku seni asli, namun mereka sudah sangat piawai dalam bermain kesenian Reog.
Tidak hanya berlenggak-lenggok memainkan reog yang sangat berat, mereka juga menampilkan atraksi berjalan menggunakan kedua tangan dengan posisi kedua kaki di atas. Tidak ada rasa takut ataupun grogi, meski baru terbentuk namun mereka menampilkan kesenian reog dengan penuh percaya diri.
“Tugas kami sebagai anggota Yon Zipur 5 Kepanjen, memang spesialis penjinak bahan peledak. Bertempur dan membangun rumah atau jembatan. Tetapi kami juga bisa berkreasi lewat seni, seperti kesenian Reog ini,” terang Staf Intel Yon Zipur 5 Kepanjen, Sersan Satu Sugianto.
Kesenian Reog yang berada di bawah kendali Dan Yon Zipur 5 Kepanjen, Letnan Kolonel Chotman Jumei Arisandy, S.E ini, memang masih belum diketahui banyak orang. Karena kesenian reog ini, baru terbentuk sekitar tiga bulan lalu. Anggotanya adalah para prajurit yang sebelumnya pernah tergabung dalam kesenian Reog ataupun kuda lumping.
Mereka berlatih secara otodidak. Hanya sesekali mendatangkan orang luar untuk membantu mengarahkan kesenian reog. Setelah mereka menguasai, maka para anggota Yon Zipur ini langsung menggelar latihan sendiri.
“Kebanyakan anggota kesenian Reog adalah anggota yang pernah tergabung dengan kesenian reog ataupun kuda lumping. Sehingga mereka hanya tinggal memoles lagi dan tidak perlu lama untuk belajar,” ujarnya.
Selama tiga bulan ini, kesenian Reog milik anggota Yon Zipur 5 Kepanjen baru sekali saja tampil di Jakarta, di hadapan para Jenderal. Meski begitu, kesenian Reog tersebut langsung go International. Pada 14 Agustus, para prajurit Yon Zipur 5 Kepanjen yang terpilih Operasi Satgas Kompi Zeni TNI Konga XXXVII-D/Minusca CAR TA. 2017, berangkat untuk tugas Operasi Perdamaian Dunia PBB selama setahun.
Kesenian reog tersebut, akan ditampilkan di Afrika Tengah, bersama dengan kesenian lainnya. Seperti tarian Gatotkaca, tari Cakil serta tari Kecak.
“Selain tugas perdamaian PBB, kami juga akan mengenalkan kesenian tradisional Indonesia di Afrika Tengah,” tuturnya.
Untuk peralatan kesenian reog, selain sebagian membeli sendiri, juga bantuan swadaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang. Karena harapannya, kesenian reog tersebut selain bisa terus dikembangkan, sekaligus bisa menjadi event tahunan di Kabupaten Malang.(agung priyo/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :