Campur Bakteri dan Air Kelapa, Lebih Efektif Dibanding Fogging

 
Selama ini, nyamuk aedes aegypti atau yang dikenal dengan nyamuk demam berdarah seringkali dibasmi lewat fogging atau obat abate. Secara ilmiah, keduanya sebenarnya belum bisa efektif dalam membasmi nyamuk demam berdarah, sebab ada dampak yang ditimbulkan pada lingkungan. Fogging yang mengandung bahan kimia bisa menyebabkan hewan serta tanaman di sekitar lingkungan yang disemprot, ikut mati. Sedangkan abate yang dimasukkan ke air, juga akan mencemari air bersih menjadi kotor.
Melihat hal tersebut, Zulfaidah Penata Gama, S.Si, M.Si, Ph.D, dosen Biologi Universitas Brawijaya (UB) mencoba untuk membuat terobosan. Ia memanfaatkan bakteri, yang selama ini dianggap sebagai penyebar virus, yang ternyata justru bermanfaat untuk mengusir virus penyebab penyakit. Bakteri yang tumbuh liar berjenis Bacillus Thuringiensis bisa digunakan sebagai pembunuh nyamuk aedes aegypti. Ia mengemasnya dalam bentuk cairan kelapa yang nantinya diaplikasikan pada air tempat nyamuk berkembang biak.
Dalam ilmu biologi, bakteri itu memang dikenal sebagai bakteri yang efektif membasmi serangga. Zulfaidah mengatakan, sudah ada beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan bakteri ini pada serangga. Namun, tidak untuk nyamuk. Selama ini, bakteri tersebut hanya digunakan secara ilmiah oleh peneliti untuk membunuh serangga sejenis kumbang, lalat dan kupu-kupu.
“Kalau untuk nyamuk, memang memerlukan penelitian lebih lanjut. Sudah pernah ada, mungkin beberapa saja, tapi mereka hanya melakukan penelitian lalu selesai. Belum sampai pada tataran aplikatif lebih lanjut,” terang dosen yang mengambil program S3 di Hiroshima University Jepang itu.
Zulfaidah memilih mencampurkan bakteri ke dalam larutan air kelapa, karena kandungan protein pada air kelapa yang sudah sesuai dengan kadar keamanan media air (kolam, Red) tempat larva nyamuk berkembang biak. “Sejauh ini, penggunaan larutan air kelapa bercampur bakteri itu masih cocok untuk di kolam. Terbukti, 50 persen sudah berhasil melalui uji lab,” ulas Sekretaris Jurusan Biologi UB itu.
Namun, ia berharap dalam waktu dekat bisa menindaklanjuti hasil air kelapa yang dicampur dengan bakteri ini. Tentu saja, sebagai ahli biologi ia berharap bisa membantu masyarakat untuk mengurangi jumlah penderita penyakti DB.
Bakteri dalam air kelapa ini sudah lolos uji lab tahap pertama, yakni bisa efektif membunuh nyamuk tanpa merusak lingkungan dan ekosistem di sekitarnya.  Uji lab yang dilakukan adalah dengan memotong bagian usus larva nyamuk secara melintang setelah nyamuk ditetesi oleh bakteri. “Bakteri ini diuji, efektif atau tidak dalam  membunuh nyamuk. Ternyata usus nyamuk berlubang ketika terkena bakteri ini. Lubang pada usus larva ini lama kelamaan akan melunak dan mengembang kena air, lalu saluran pecah. Pecahnya saluran ini yang mengakibatkan larva nyamuk mati,” terangnya.
Produk inipun nantinya harus diaplikasikan untuk larva nyamuk. Karena pada masa larva inilah, perkembang biakan nyamuk bisa dengan cepat dikendalikan. “Karena masih dalam bentuk larva, populasi mereka masih bisa dikendalikan. Larva umumnya hidup di air. Kalau nyamuk dewasa, umumnya memang menyebar di rumah atau dimanapun sesuka mereka hidup,”terang dia. 
Ia akan menjual produk itu dengan range harga Rp 5.000 – Rp 10.000 tergantung kemasan. Ia pun berharap, nantinya masyarakat sudah tidak lagi menggunakan fogging dan juga abate untuk membasmi demam berdarah. Karena seperti yang sudah ia jelaskan, produk ini bisa membasmi 50 persen populasi larva nyamuk. (sin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :