Ninggar Anak Tukang Sedot WC, Hera Tak Pernah Malu Bertanya

Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (15/7) hari ini, menggelar prosesi wisuda untuk program studi S1 dan pasca sarjana. Sebanyak 18 wisudawan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Predikat menjadi wisudawan terbaik adalah impian setiap mahasiswa.

Namun tidak semua mahasiswa bisa meraih predikat tersebut. Membutuhkan perjuangan untuk meraihnya, juga kerja keras

Ninggar Resti Cahyani, salah satu mahasiswa terbaik dalam gelaran wisuda Universitas Brawijaya (UB), hari ini. Mahasiswi, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.82 ini adalah anak tukang sedot WC yang mempunyai semangat luar biasa untuk berprestasi.
Masuk melalui jalur seleksi bidikmisi, membuat mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan Manajemen ini bekerja keras untuk mempertahankan IPK nya yang ia dapatkan sejak semester 1.
“IPK saya tidak jauh dari 3,82. Saya memang kuliah dengan tuntutan karena bidikmisi yang mengharuskan saya mempunyai IPK stabil dari semester 1 hingga terakhir,” terang Ninggar.
Ia pun tidak ingin kalau beasiswa bidikmisinya dicabut. Karena kemampuan orang tuanya dalam membiayainya kuliah.
“Ayah saya hanya seorang tukang sedot WC, lalu bagaimana saya seandainya kalau dicabut saya takut malah tidak bisa kuliah,” beber dia. Rasa takutnya jika tidak bisa berkuliah lagi, membuatnya terpacu dan bersemangat untuk terus mempertahankan prestasinya itu.
Ia mengakui, mempertahankan lebih susah daripada mendapatkan. Itulah yang ia rasakan. Merasakan tuntutan, namun ia tetap tenang dan menghilangkan rasa tertekan itu dengan rasa tanggung jawab yang harus ia laksanakan.,
“Saya mempunyai tanggung jawab untuk memberikan prestasi kepada orang tua saya. Karena itu, saya harus sungguh-sungguh target tetap ada. Tapi proses juga harus berjalan dengan baik agar saya bisa belajar dari sebuah proses,” katanya.
Ninggar menganggap kuliah adalah jembatan ia menuju kesuksesan. Segala proses perkuliahan ia ikuti dengan baik. Disiplin, adalah kunci suksesnya mendapatkan nilai memuaskan dalam setiap mata kuliah.
“Saya rasa sama seperti mahasiswa pada umumnya. Kalau ada tugas dikerjakan sebaik mungkin, jangan asal-asalan. Itulah yang saya lakukan. Ingat orang tua, menanti hasil terbaiknya,” kata dia.Walaupun ia hanya anak seorang tukang sedot WC, tapi ia harus bisa sukses melebihi orang tuanya. “Selain tanggung jawab pada orang tua, saya juga punya target bisa sukses melebihi prestasi orang tua,” tandasnya.

Ia bercita-cita, bisa bekerja di bagian keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perusahaan bergengsi itu adalah keinginannya untuk masa depannya.
Lain Ninggar, lain pula Hera Ayu Saputri. Wisudawan terbaik dari Fakultas Hukum yang meraih IPK 3.88 memilih aktif berkomunikasi sebagai kunci kesuksesannya.
“Jangan malu bertanya kepada siapapun. Kalau tidak bisa entah itu tanya ke teman sendiri atau dosen. Kerjakan sebaik mungkin tugas-tugas kuliah. Jangan terlalu pasif di kelas karena dosen akan menilai keaktifan kita,” kata mahasiswa asal Rembang Jawa Tengah ini.
Dia sebagai mahasiswi yang cukup pendiam jika berada di lingkungan baru, menilai, belajar berkomunikasi itu susah. Membutuhkan keberanian dan juga komitmen untuk menjadi mahasiswa yang aktif.
“Susahnya memang ketika kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bangku kuliah yang awalnya baru saya rasakan. Diajar oleh professor, dan dosen berpendidikan memang membuat saya yang pendiam ini sedikit minder. Namun, tetap dalam diri saya harus bisa aktif berkomunikasi,” jelasnya.
Sebab, menurutnya komunikasi adalah cara bagaimana dia menunjukkan potensinya. “Saya memang pendiam, kadang di lingkungan baru. Tapi sebenarnya saya bisa kalau saya sudah beradaptasi, jadi intinya, harus beradaptasi baru bisa belajar berkomunikasi,” terang dia.
Terlebih, di jurusan yang ia ambil ini membutuhkan kecakapan berkomunikasi dan berinteraksi.
“Kalau di dunia hukum memang harus pandai berkomunikasi dan interaksi. Kelemahan saya adalah berinteraksi dengan lingkungan baru. Tapi saya berusaha keras. Latihan terus setiap hari, sampai-sampai kadang saya tidak fokus kuliah, karena ingin mengembangkan diri di lingkungan baru saya,” tandasnya.
Ia menjelaskan, terkadang ia sering melupakan akademik. Karena harus mengikuti organisasi demi untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasinya. Namun, lanjut dia, itu hanya terjadi di semester awal. Ketika menginjak semester 4 ke atas, ia pun sudah memetik hasilnya.
Hera bisa meraih nilai sempurna untuk setiap mata kuliah, karena aktif dalam kelas. Ia tidak malu bertanya dan mengkaji setiap kasus. “Dari situ saya merasa puas dengan kuliah saya. Yang saya harapkan memang bisa menjadi tenaga hukum yang aktif dan peka dalam setiap masalah. Dan ternyata bisa berkomunikasi dengan baik, bisa melahirkan rasa kepekaan itu,” pungkasnya.
Hera bercita-cita menjadi seorang notaris. Dengan kemampuan yang ia gali di bangku kuliah, ia optimis bisa menjadi seorang notaris yang peka dengan setiap kasus. Serta mempunyai karakter yang baik pula dalam melayani masyarakat. (sin/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :