magista scarpe da calcio Teliti Pola Konsumsi Makanan Tak Sehat, Sasar 1.880 Rumah Tangga


Teliti Pola Konsumsi Makanan Tak Sehat, Sasar 1.880 Rumah Tangga


Berkembangnya food modern retailer seperti hypermarket, supermarket dan minimarket, menarik minat Hery Toiba SP. MP. Ph.D untuk melakukan penelitian. Ia ingin melihat kaitan food modern retailer dengan pola konsumsi makanan yang tak sehat di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Hery meneliti 1.180 rumah tangga di tiga kota di Indonesia!
Ya, di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, supermarket memiliki penguasaan pasar hingga 10 sampai 15 persen. Memahami pentingnya sensitifitas terhadap kesehatan konsumsi makanan, Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini amat serius dalam penelitiannya. Ini untuk mengkaji hubungan antara perkembangan supermarket dengan pergeseran pola konsumsi makanan masyarakat.
”Meski tidak semua, namun penelitian di beberapa negara membuktikan revolusi supermarket ini bisa menggeser konsumsi ke arah pola kebaratan, atau transisi nutrisi dari yang dulu mengandung banyak serat dan sayuran, menjadi ke makanan tinggi garam, gula, dan lemak. Ketiganya bila dikonsumsi berlebihan maka tidak baik dan dapat menimbulkan penyakit jantung, darah tinggi, kanker dan seterusnya,” urai Hery.

Sebagai sampel, data diambil dari 1.180 masyarakat Indonesia dari tiga kota yang merepresentasikan kota besar, sedang dan kecil. Yaitu Surabaya, Bogor, dan Surakarta dengan pemilihan yang sangat acak. Di Surabaya contohnya, dipilih dua kecamatan yakni yang dekat dengan supermarket dan yang jauh dari supermartket. Di dua kecamatan tersebut, terdapat 20 kelurahan dan dari setiap kelurahan, diambil dua RT secara acak. Kuisioner dibagikan kepada 15 orang acak yang berada di masing-masing RT.
”Kami mengambil sample secara acak baik sampel rumah tangga dari masyarakat yang tinggal di komplek perumahan mewah, rumah dinas Angkatan Darat, dari orang kaya dan segala macam. Kami betul-betul mengambil sampel acak sehinga bisa dikatakan ini adalah representasi dari ketiga kota tersebut,” urainya

Hasilnya, ternyata tidak terdapat hubungan yang kuat antara orang yang banyak berbelanja di supermarket dengan konsumsi makanan yang tidak sehat di Indonesia, meski menunjukkan hasil yang berbeda di negara lain.
Sebelumnya, Hery juga meneliti kaitan antara jumlah uang yang dibelanjakan suatu rumah tangga di supermarket dan hubungannya dengan kesehatan. Namun, hasilnya masih diperdebatkan lantaran faktor kesehatan dalam penelitiannya dihitung dengan ukuran proxy Body Mass Index (BMI), atau ukuran proporsionalitas antara tinggi dan berat badan. Dengan dua objek penelitian, yakni anak-anak dan dewasa, hasil penelitiannya menunjukkan tidak adanya hubungan antara jumlah uang yang dibelanjakan di supermarket, dengan peningkatan BMI pada orang dewasa.
”Ini kemungkinan karena orang dewasa membeli makanan yang lebih mahal di supermarket, dan karena itu jumlah makanan yang dibeli di supermarket jadi lebih sedikit. Alasan lain, karena jumlah uang yang dibelanjakan di supermarket tidak mereprensentasikan pola diet yang sesungguhnya dan konsumsi makanan dari objek,” terangnya.
Namun ternyata, memang terdapat hubungan antara kedua faktor tersebut pada anak-anak, namun hanya pada sampel dari kategori masyarakat berpenghasilan tinggi. Anak-anak dari keluarga menengah ke atas, juga tidak terindikasi pola konsumsi makanan yang tidak sehat. Ini terjadi bila jumlah uang yang dikeluarkan untuk berbelanja di supermarket, rendah. Sehingga bisa dikatakan, kombinasi antara tingginya penghasilan dan banyaknya uang yang dibelanjakan di supermarket, cukup untuk mengubah pola diet dan menghasilkan prevalensi yang tinggi pada obesitas di anak-anak.
  Yang menarik, ternyata masyarakat sekarang ini lebih percaya belanja buah-buahan di supermarket, karena dinilai memiliki keamanan yang lebih tinggi. Serta adanya supervisi di supermarket. Sedangkan untuk belanja sayur, antara 80 hingga 90 persen masyarakat masih percaya belanja di pasar tradisional. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah pasar tradisional akan hilang?
Penelitian Hery membuktikan, bahwa pasar tradisional memiliki konsumennya sendiri, sehingga kemungkinan akan terus ada, meski pedagang sayur keliling menjadi saingannya.
”Namun apabila kesadaran masyarakat pada keamanan pangan lebih besar, maka pasar tradisonal bisa juga akan hilang kalau tidak bisa mengikuti dinamika. Mungkin ke depannya pasar tradisional harus seperti pasar Oro-Oro Dowo yang dibangun sebagai strategi menghadapi penetrasi pasar modern. Dengan tampilan seperti pasar modern, namun harga layaknya pasar tradisional,” ungkapnya.
Ke depan, Hery sedang menyiapkan sebuah penelitian untuk mengkaji dampak perkembangan supermarket terhadap petani.
  ”Dengan modernisasi sistem di supermarket, akan menuntut sektor hulu untuk ikut modern, apalagi bila perhatian masyarakat terhadap keamanan pangan semakin meningkat. Ada perdebatan apakah nantinya pasar modern ini bisa mengeliminasi petani dan digantikan dengan pemain baru atau justru mereka tidak dilibatkan sama sekali. Ini yang akan saya bahas untuk penelitian selanjutnya,” jelasnya.
Sebagai seseorang yang memiliki perhatian terhadap pangan dan kesehatan, dosen yang menyelesaikan S3 nya di Global Food of Studies University of Adelaide ini, berharap informasi dari hasil penelitiannya dapat digunakan sebagai rujukan oleh pembuatan kebijakan. Terutama pada program untuk mengatasi penyakit terkait diet di negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
“Sebagai contoh, program untuk mengurangi kelebihan gizi pada anak harus berfokus pada rumah tangga yang memiliki pendapatan lebih besar dan banyak membelanjakan uangnya di supermarket atau pasar-pasar modern,” ungkapnya.(mg19/adv/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :