Retno Yuli Anisa, Teknisi Listrik Bandar Udara

Teknisi listrik biasanya jadi profesi yang dilakoni oleh Kaum Adam. Namun, era keterbukaan dan emansipasi kian membuka ruang bagi wanita untuk bekerja di bidang maskulin. Lihat saja, Retno Yuli Anisa, satu-satunya teknisi listrik berjenis kelamin perempuan asal Malang, yang bekerja di Bandar Udara Internasional Lombok.


Jangan remehkan Retno hanya karena dia wanita. Pasalnya, Retno punya tanggungjawab yang sama besarnya dengan para teknisi listrik berjenis kelamin laki-laki. Ia lama bekerja di Bandara Abd. Saleh, kemudian awal bulan lalu pindah ke Lombok. Dan masih menjadi satu-satunya wanita yang berkutat di kelistrikan bandara.
“Tugas saya ya berkaitan dengan semua instalasi kelistrikan di, mulai dari AC sampai lampu landasan pesawat,” kata Retno. Sebagai petugas sipil di bandar udara, Retno adalah teknisi wanita yang langka.
Teknisi listrik bandara, sangat berbeda dengan teknisi listrik pada umumnya. Teknisi listrik bandara, harus memahami soal pengaturan penerangan bandara, appron atau pelataran pesawat, maupun runway atau landasan pacu. Para teknisi listrik bandara, harus mempelajari lampu-lampu yang digunakan untuk proses pendaratan maupun lepas landas pesawat.
Mulai dari center light, runway edge light bahkan PAPI. Yaitu Precision Approach Path Indicator (PAPI), lampu khusus yang membantu pilot untuk mendapatkan jalur yang pas ketika mendarat. Visual Approach Slope Indicator (VASI) light, thorushold, SQFL, rotating beacon serta banyak jenis lampu lain, harus dipelajari oleh para teknisi listrik bandara.
Istilah seperti CCR, TCR, ACOS, AVR hingga rotary switch, juga ada dalam sistem listrik bandara. Mau tak mau, para teknisi bandara harus menguasai ini. Karena, secara tak langsung, keseriusan mereka dalam menjalankan tugas teknisi listrik, bakal menentukan keselamatan penumpang di atas pesawat, saat mau lepas landas maupun mendarat.
Tekanan kerja maupun resiko tinggi pun tak lepas dari pekerjaan teknisi listrik. Tak heran, jenis pekerjaan ini biasanya hanya ditekuni kaum pria. Namun, Retno dengan yakin terjun di bidang ini sejak lulus dari SMAN 5 Malang. Wanita kelahiran Malang 1 Juli 1992 tersebut, berbeda dengan wanita petugas sipil di bandara.
Jika kebanyakan para wanita di bandara bekerja di administrasi maupun customer service, maka Retno kesehariannya membawa obeng, tespen hingga perlengkapan reparasi lainnya. “Karena harus selalu siaga jika terjadi gangguan listrik di bandara, utamanya di landasan,” sambung Retno.

Wanita yang pernah jadi staf Jasa Kebandaraan Bagian Teknisi Penerbangan Bandara Abd. Saleh ini memperoleh profesinya dengan tes di Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (AKTP). Sama dengan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, STPDN, STPP dan sekolah tinggi kedinasan lainnya, Retno menjalani ujian panjang.
Mulai dari tes akademik, tes psikologi, wawancara, kesehatan hingga samapta yang mirip dengan tes tentara. Dia tak hanya harus pintar, tapi juga wajib punya fisik kuat. Dia wajib lari, push up hingga sit up. Di antara teman-temannya, Retno juga termasuk siswa akademi yang ‘nyeleneh’. Karena, dia adalah sebagian kecil dari sedikit wanita yang terjun di jurusan teknik listrik ATKP yang hanya ada di Surabaya, Medan dan Makassar itu.
Dia mengambil program diploma III teknik listrik bandara. Setelah sukses mentas dari akademi, putri pasangan Kusno dan Dewi Aminah, terjun di Bandara Abd Saleh sebagai teknisi listrik. Kurang lebih, dia bekerja selama 1,5 tahun. Sebagai kaum hawa yang terjun di dunia pria, Retno tentu saja merasakan tekanan dan beban kerja yang sama.
“Tidak ada bedanya. Walau saya wanita, saya tetap dituntut melakukan pekerjaan yang sama dengan rekan teknisi yang lain,” tuturnya. Karena sejak awal sudah bulat terjun di bidang teknisi listrik, Retno paham dengan resiko yang bakal dihadapinya saat terjun dalam pekerjaan. Gender tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ini, kata Retno.
Skill, pengalaman serta kecermatan jadi satu-satunya alat ukur kesuksesan menjadi teknisi listrik. Dia bersyukur, karena selama bekerja di Bandara Abd. Saleh, tak ada insiden kelistrikan yang bisa mengancam keselamatan jiwanya. Profesionalisme dan kehati-hatian menjadi prioritas para teknisi listrik, pria ataupun wanita.
Pekerjaan teknisi listrik menuntut kecermatan dan kehati-hatian dalam mengendalikan listrik. Jika ceroboh, maka nyawa jadi taruhannya. Retno sebagai teknisi listrik, berurusan dengan tegangan tinggi di bandara setiap hari. Dengan besarnya tegangan listrik ini, kesalahan fatal bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Pada saat masih duduk di bangku akademi, listrik adalah makanan hariannya. Tersetrum saat masih kuliah di akademi sudah jadi kebiasaan. Hal ini membuatnya selalu mengingat resiko dalam bidang pekerjaan ini. Berurusan dengan listrik, selalu melahirkan resiko sehingga harus diantisipasi dengan cermat.
“Saat training sering kesetrum. Tapi kan lama kelamaan bisa dan terbiasa, serta makin hati-hati. Bahaya dari listrik itu kan, dia gak kelihatan tapi langsung kerasa. Jadi harus sangat waspada ketika udah kerja perbaikan instalasi listrik, apalagi di titik dengan tegangan tinggi,” tambah Retno. Mulai bulan ini, dia sudah menjadi bagian dari teknisi listrik AirNav Indonesia di Lombok.(Fino Yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :