Kisah Persahabatan Pemain Muda Arema FC, Bagas dan Hanif

Arema FC menempatkan dua pemain untuk Timnas U-22 asuhan Luis Milla, yang diproyeksikan untuk SEA Games 2017 dan kualifikasi Piala Asia. Dua pemain itu adalah Bagas Adi Nugroho dan Hanif Abdurrauf Sjahbandi. Uniknya, ini adalah kesempatan kali kesekian bagi mereka berdua memperkuat Garuda Muda.

Keduanya bersahabat dekat sejak delapan tahun lalu. Bagas dan Hanif seakan berjodoh dalam hal memperkuat Timnas Indonesia kelompok umur. Sejak usia 12 tahun, keduanya selalu bersama. Hanya sekali mereka terpisah, di Timnas U-19 yang kala itu diasuh oleh Indra Sjafri dan tidak ada nama Hanif di dalamnya. Persahabatan mereka, dimulai sejak Timnas U-13. Kala itu, mereka dipanggil Timnas setelah tampil moncer bersama sekolah sepakbola masing-masing. Hanif yang merupakan anak Jakarta adalah siswa dari Indonesian Football Academy (IFA) dan Bagas yang berasal dari Sleman, dipanggil karena tampil apik bersama SSB Gama Jogjakarta. "Kami kenal pertama kali saat Timnas U-13. Waktu itu tahun 2009. Hanif tidak ada di Timnas U-19 Indra Sjafri waktu itu," ujar Bagas Adi Nugroho. Sejak saat itu, mereka kerap bersama. Sebab, agenda timnas juga sering membuat pemain muda ini mengikuti pemusatan latihan. Namun tentu saja saat awal bersama di Timnas U-13 mereka masih biasa dan tidak akan menduga jika mereka memiliki keberuntungan yang sama sampai delapan tahun kemudian. Pasca U-19, keduanya juga dipanggil di tingkat kelompok umur selanjutnya. Yakni di Timnas U-14, U-16, U-19, dan U-22. Seandainya saja dua tahun lalu Indonesia tidak dalam kondisi Indonesia disanksi FIFA, catatan kebersamaan di Timnas keduanya akan bertambah di Timnas U-17. "Hahaha... Iya, saya dan Hanif ini meski berbeda asal, bisa dibilang kenal sejak kecil dan tahu bagaimana perkembangan masing-masing. Dari masih lucu dan lugu sampai sekarang seperti ini," beber Bagas kepada Malang Post. Bagas mengatakan dia masih memiliki koleksi foto ketika dirinya dan Hanif bersama. Baik itu foto tim maupun foto mereka berdua saat di kelompok umur. Sesekali di momen tertentu, keduanya akan mengunggah foto tersebut. Semisal ketika Hanif ulang tahun atau sebaliknya. Ketika salah satu mengunggah foto tersebut, respons dari Bagas atau Hanif akan tertawa. Sebab, foto tersebut mengingatkan kepada mereka, jika pertemanan keduanya sudah sangat lama. "Hanif pasti ngakak (tertawa lepas, Red) kalau saya pasang foto lama. Begitu juga jika dia memasang foto lucu saya," sebut pemuda berusia 20 tahun itu. Mereka berdua yang saat ini sedang menjalani pemusatan latihan bersama Timnas U-22 di Bangkok, merasakan jika hoki mereka seperti sama. Padahal, dalam setiap seleksi itu tantangan yang dihadapi dan pelatih yang menyeleksi berbeda. Tetapi ujungnya, keduanya tetap dipercaya memperkuat Timnas Indonesia. Satu contoh, ketika awal di kelompok umur, Bagas dijajal sebagai seorang bek kiri. Namun saat U-19 dua tahun terakhir, sejak era Fachry Husaini atau Eduard Tjong, Bagas diubah menjadi seorang stopper. Tetapi perubahan tersebut tidak membuat pengidola Sergio Ramos ini tersingkir. Sementara, Hanif sempat dijajal sebagai seorang bek tengah. Padahal, pemain yang pernah menjadi lulusan terbaik dalam agenda Akdemi Manchester United itu juga tetap menjadi bagian Timnas bersama dengan sang sahabat, Bagas. "Padahal keahlian kami juga beda. Tantangan kami saat seleksi juga beda. Nggak tahu kenapa, bisa ketemu Hanif lagi Hanif lagi. Biasanya pasti Hanif menjawab, Bagas lagi, Bagas lagi," terang Bagas. Bahkan kini, keduanya juga berada di klub yang sama, Arema. Meskipun waktu masuk mereka berbeda, hanya selisih sekitar satu minggu, tetapi keduanya akhirnya mendapatkan kontrak yang sama, dua tahun di Singo Edan. Bagas bergabung setelah sebelumnya bermain bersama PSS Sleman, sedangkan Hanif dari Persiba. "Kalau karier klub baru kali ini sama," ujar Hanif. Hanya saja, keduanya juga memiliki pengalaman istimewa tersendiri. Hanif misalnya, selain pernah mengikut agenda kelompok umur di Inggris, dirinya juga pernah sekolah sepakbola selama dua tahun di Spanyol. Yakni di Jove Espanol, Allicante dan San Sebastian Los Reyes, Madrid. Pada saat tersebut, Bagas berada di Uruguay. "Saat Bagas di SAD, saya sekolah sendiri. Hehehe. Terus waktu Bagas dipanggil Timnas U-19 era Indra Sjafri, saya belajar di Diklat Persib," tutur Hanif. Sering bersama, keduanya pun serasa keluarga. Mereka sudah menganggap sebagai saudara satu dengan yang lain. Saat libur tidak ada jadwal Timnas, Hanif bisa berlibur dengan keluarga Bagas. Atau saat menunggu agenda Timnas di Jakarta, maka Bagas berlibur di rumah Hanif. "Ya memang kami sudah seperti saudara sendiri. Maklumlah, delapan tahun sering bareng, ungkapnya. Saat di Timnas, mereka juga kerap menjadi rekan sekamar, sama seperti saat di Arema. Keduanya seakan room mates yang tak terpisahkan. Sehingga, keduanya juga saling kenal satu dengan yang lain. Hanya di Timnas U-22 ini saja, Bagas-Hanif jarang satu kamar. Bagas dan Hanif, juga pernah mencoba peruntungan bersama, saat menjalani trial di Jepang. Menariknya, keduanya pun sama-sama tidak jadi bergabung dengan FC Tokyo selesai trial selama enam bulan. Secara sikap, sejatinya kedua pemain ini cenderung berbeda. Jika Hanif tipikal anak yang ramai dan seru, Bagas cenderung anak rumahan yang senang menghabiskan waktu di dalam kamar, dengan mendengarkan musik atau bermain PS. Namun ujungnya, keduanya tetap kompak sehingga membuat kerja sama mereka di lapangan pun terjaga. "Pokoknya persahabatan kami panjang ceritanya. Alhamdulillah, punya sahabat seperti dia dan sudah berasa saudara sendiri," tambahnya. Keduanya pun bertekad tetap menjadi bagian Timnas U-22. Mereka ingin membela Garuda Muda dan berusaha keras tidak tersingkir sampai even SEA Games berlangsung, bahkan sampai Timnas Senior. "Kami memang sejak kecil memiliki satu cita-cita yakni bermain untuk Timnas dalam even internasional. Insya Allah membawa nama baik Indonesia dan klub kami," pungkas Hanif.(stenly rehardson/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...