Sang Asadul Quran Wafat, Ribuan Umat Berduka


BULULAWANG - Ribuan santri, masyarakat dan warga Nahdlatul Ulama memberi penghormatan terakhir atas wafatnya KH M. Maftuh Said, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Senin (21/8) kemarin. Kiai berjuluk Asadul Quran atau Singa Alquran itu tutup usia di Ponpes pencetak penghafal Alquran di Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, sekitar pukul 22.30 Minggu (20/8).
Beliau adalah Rais Syuriah Pimpinan Cabang NU (PCNU) Kabupaten Malang, wafat pada usia 67 tahun. Ulama kelahiran Gresik itu, dimakamkan pada pukul 08.30 WIB di pemakaman PP Al-Munawwariyyah. Sebelum dan sesudah pemakaman putra pertama dari 13 bersaudara dari pasangan KH Said Muin dan Nyai Hj Mardliyah ini, ribuan pentakziah hadir.
Mereka berasal dari kalangan santri, masyarakat, tokoh-tokoh agama, pemerintahan, organisasi masyarakat untuk memberi penghormatan dan doa. Sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Malang, Kiai Maftuh adalah sosok pemimpin dari jajaran Syuriah, badan musyawarah yang mengambil keputusan tertinggi dalam struktur kepengurusan NU.
 “Kita telah kehilangan ketokohan dalam bidang Quran. Beliau adalah sosok yang langka. Sehingga sangat sulit untuk mencari penggantinya. Karena Quran adalah bidang yang sulit dipelajari. Di mana seluruhnya menyangkut keimanan. Saya berharap ada sosok yang bisa menggantikan KH. M. Maftuh Said sebagai penghafal Alquran,” urai H. Muhammad Agus Fahim Maftuh, putra dari KH M. Maftuh Said kepada Malang Post.
Kiai Maftuh selain penghafal Quran, juga menjadi pencetak penghafal Quran pula. Setiap tahunnya meluluskan 30 sampai 50 hafidz kecil.  Sosok beliau terlihat jelas dari sambutan KH.Tolchah Hasan saat melepas jenazah Kiai Maftuh ke pemakaman Komplek Pondok Pesantren Al Munawwariyyah, kemarin. Dalam sambutannya, Kiai Tolchah menjelaskan jika Kiai Maftuh dikenal sebagai Asadul Quran (Singa Alquran) dan Usratul Huffadz yaitu keluarga para penghafal Alqur'an.
Terpisah, Ketua PCNU Kabupaten Malang, dr. H. Umar Usman. Menurutnya KH. M. Maftuh Said merupakan sosok yang penting, terutama bagi kalangan NU. Di mana selama ini menjabat sebagai Rais Syuriah, telah banyak perhatian yang diberikan dalam setiap kegiatan NU.
“Terbukti dalam setiap kegiatan beliau selalu datang untuk melakukan monitoring. Lebih tepatnya turun ke bawah di seluruh wilayah Kabupaten Malang,” bebernya.
Di luar itu, lanjut Umar, pendiri PP Al-Munawwariyyah tersebut banyak memberikan keteladanan bagi masyarakat dan para santrinya. Sehingga ia bisa mengembangkan Ponpes tahfidzil Quran, dan tidak sedikit para pengasuh pondok-pondok besar se-Indonesia yang datang kepada beliau.
“Hal itu diperjuangkan beliau sejak tahun 1982, itu karena kedisipilinan, istiqomah dan ketegasan beliau,” tegasnya.
Diceritakan Umar, kenangan yang melekat saat bersama asy-Syekh al-Hafidz Sa’id, menurutnya, beliau adalah orang cekatan, terutama dalam menunjang setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh NU.
“Contohnya, beliau sering menjadi donatur di setiap kegiatan yang diadakan. Apalagi setiap kegiatan Ponpes Al Munawwariyyah sering dijadikan tempat,” urainya.
Sementara itu salah satu santri Abid Muaffan (23 tahun) menceritakan, bahwa sosok KH M Maftuh Said dimata keluarga adalah tegas, lemah lembut dan kharismatik. “Tidak hanya itu, hampir seluruh sisa hidup beliau diabdikan untuk pesantren,” kenangnya.
Ia juga menjelaskan, jika meninggalnya KH M, Maftuh Said belum diketahui karena apa. Namun dari dokter menjelaskan jika beliau sakit karena komplikasi.
“Semua kita kembalikan pada Allah SWT, kita tidak tahu umur seseorang,” lanjutnya.
Tidak hanya itu, beliau juga tidak melupakan pesan terakhir yang selalu disampaikan Kiai Maftuh kepada santrinya. “Pesan yang akan selalu menjadi pegangan itu berbunyi, jagalah Quran kamu, mulai dari menghafalkan dan mengamalkannya. Dari situlah kita akan dijaga oleh Allah, di dunia dan akhirat,” kenangnya.
Hingga kemarin siang, ponpes yang dihuni sekitar 2.000 santri dari seluruh Indonesia itu, masih diserbu ribuan pentakziah. Selain itu banyak karangan bunga yang berdatangan, mulai dari pengurus NU Pusat sampai daerah, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dulu pernah berkunjung ke Ponpes itu. Serta ada beberapa dari tokoh dan pejabat, termasuk Bupati Malang DR. H. Rendra Kresna.

Berita Terkait

Berita Lainnya :