Ikwan Budi Laksono, Wasit Final AFF Futsal Championship 2017

Tidak ada yang tidak mungkin. Niat kuat dan kerja keras, menjadikan semuanya mungkin dicapai. Itulah yang dikatakan Ikwan Budi Laksono. Kegigihannya belajar menjadi wasit membuatnya bisa keliling Indonesia. Guru Tidak Tetap (GTT) SMPN 2 Batu ini juga kerap mendapat undangan ke luar negeri untuk memimpin pertandingan futsal.

Bahkan, beberapa waktu lalu, bapak dua anak ini mendapat kesempatan memimpin pertandingan AFF Futsal Championship 2017 yang digelar di Thailand 3-9 Juli lalu. Dia juga yang memimpin partai final di turnamen tersebut. Kepada Malang Post di rumahnya, Ikwan menunjukkan rasa gembiranya. Dia berbinar-binar saat menceritakan keikutsertaannya dalam turnamen itu. "Kalau ditanya bagaimana saya ikut dalam turnamen ini, ya karena seleksi," kata alumni SDN Sisir 2 Kota Batu ini. Ikwan menguraikan, beberapa bulan lalu FIFA menggelar seleksi untuk turnamen futsal AFF. Dia yang memiliki jam terbang tinggi dalam dunia perwasitan pun mencoba peruntungan, dengan mendaftar sebagai peserta seleksi. Selama menjalani prosesseleksi, Ikwan terus menunjukkan performa terbaiknya. Sehingga namanya dipilih FIFA sebagai perwakilan dari Indonesia untuk memimpin pertandingan futsal. Lolos seleksi dan terpilih menjadi wasit di turnamen futsal bergengsi ini membuat Ikwan senang dan bangga. Apalagi, dia merupakan satu-satunya wasit dari Indonesia. "Turnamen futsal kemarin diikuti oleh 12 tim dari beberapa negara. Saya satu-satunya warga Indonesia yang terpilih untuk menjadi wasit pada turnamen tersebut," ucapnya. Lolos di Indonesia bukan berarti dia bernafas lega. Karena, alumni SMA Hasyim Ashari ini harus menjalani seleksi lanjutan, yang digelar di Thailand. "Tadinya ada sembilan wasit yang memimpin pertandingan futsal itu. Tapi salah satunya harus dipulangkan, karena tidak lolos fitnes test. Sehingga hanya delapan orang saja yang terpilih," tambah ayah dari Mohammad Ijni ini. Pertandingan pun dimulai. Ikwan cukup apik memimpin pertandingan. Ketegasannya memimpin membuat dia banyak menoreh pujian dari panitia maupun teman-temannya. "Selama penyisihan saya memimpin delapan pertandingan," urainya, sembari menyebutkan dari delapan pertandingan itu paling seru memimpin pertandingan tim dari Australia dengan tim Vietnam. Dimana saat babak penyisihan, Australia harus memenangkan pertandingan sedang Vietnam cukup dengan seri. "Saya memberikan kartu merah kepada salah satu pemain Australia karena melakukan pelanggaran," ucapnya. Saat itu Ikwan mengaku sempat mendapat protes dari tim Australia. Namun, dia tidak mengubah keputusan kartu merah tersebut. Cara kepemimpinan yang apik dalam pertandingan itu membuat Ikwan pun mendapat penghargaan dari panitia. Terbukti, saat partai final antara tim Thaipot Thailand dengan Sannha Khana Vietnam, dialah yang terpilih menjadi wasit utama. "Jelas saya sangat bangga. Karena mendapat kepercayaan tersebut," ucapnya, sembari menyebutkan selama menjadi wasit, dia sudah lima kali memimpin partai final. Tapi untuk tingkat pertandingan internasional baru di AFF Futsal Championship. Ikwan menyebutkan, dia menjadi wasit lantaran sudah tidak bisa lagi bermain bola. Menurut dia, cita-citanya dulu adalah menjadi pemain bola. Sejak kecil dia pun ikut sekolah sepak bola. Bahkan di usia remaja dia ikut klub Boka FC. Tapi, tahun 2002, dia mengalami kecelakaan. Tim medis memvonis dirinya untuk tidak bermain bola karena cedera yang dialami. Kendati demikian, alumni IKIP Budi Utomo ini tidak putus asa. Rasa cintanya pada dunia sepak bola tetap menggebu. Hingga kemudian, dia memilih untuk menjadi wasit. Tahun 2005, dia mulai belajar menjadi wasit dan ikut pelatihan hingga mendapatkan lisensi C 1 hingga C 3 FIFA. "Tahun 2009, saat ada event saya ikut seleksi untuk menjadi asisten wasit. Semua tahapan saya ikuti," tambahnya. Dari seleksi itu, justru dia mendapat kesempatan untuk menjadi wasit futsal. Ikwan pun menerima. Dan sejak tahun tersebut, dia terus mendapat panggilan memimpin pertandingan futsal. "Sudah keliling Indonesia. Ke luar negeri juga beberapa kali untuk memimpin pertandingan futsal," katanya. Meski sudah memiliki prestasi, Ikwan tidak mau berhenti. Keinginan atau cita-citanya adalah memimpin pertandingan futsal tingkat dunia. Untuk dapat mewujudkannya, Ikwan terus berlatih. Tidak sekadar teori, tapi dia juga berlatih fisik. Setiap hari, Ikwan berlari rata-rata 5 kilometer. Dia juga melakukan kegiatan fisik lainnya. Menurut dia, kekuatan fisik sangat diperlukan saat memimpin pertandingan. Bahkan saat seleksi, tes fisik yang diterapkan pun sangat berat. (ira ravika/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :