Joko Rendy dan Kreasi Topeng Malang

MALANG - Kecintaan Joko Rendy terhadap budaya Malang khususnya pada Topeng Malang membuat dirinya terus memutar otak agar karya ini tidak punah. Ia pun berkreasi out of the box. Membuat Topeng Malang berbahan cokelat, dijadikan kue kering, sampai membuat jamu berbentuk Topeng Malang pun dilakoninya. Hasil usahanya pun tidak main-main.

Dari keuletannya berkesperimen, karya-karya Topeng Malangnya kini sangat diminati masyarajat, tidak hanya penggemar seni saja, melainkan penikmat kuliner, guru sampai pejabat. Semuanya berawal dari keikutsertaannya mengikuti pameran Gelar Budaya Nusantara oleh Kementerian Pariwisata RI di Jakarta Convention Center, April tahun lalu. “Saya cuma ingin semua kalangan bisa menyukai Topeng Malang. Bagi pecinta kuliner, saya buatkan kue kering dan cokelat dengan replika topeng malang. Lalu bagi yang suka jamu, saya buatkan jamu bentuk Topeng Malang,” ungkap Joko saat ditemui di galerinya “Kedai Seni” di Pusat Studi Kendedes Singosari Malang belum lama ini. Ia kemudian menceritakan, sejak mengikuti pameran di JCC Jakarta tersebut, Topeng Malang hasil karyanya dipesan banyak orang dari berbagai kalangan. Bahkan, ia mengaku Topeng Malang dengan bahan cokelat dipesan oleh salah seorang putri Wapres RI Jusuf Kalla saat berkunjung ke pameran tersebut. “Saya tidak usah sebut nama ya, yang jelas yang pesan salah satu putri Jusuf Kalla. Ketemu pas berkunjung ke stan Disbudpar Kabupaten Malang tempat karya saya dipajang. Beliau tertarik dan membeli beberapa produk ini,” papar pria berusia 51 tahun ini. Setelah pertemuan, ia kemudian dikontak kembali oleh putri Jusuf Kalla dan dikirimi uang sebesar Rp 4 juta. Ia mengaku sangat senang dan langsung membuatkan cokelat topeng sekitar 50 kotak cokelat dalam berbagai ukuran. Selain itu, dari pameran selama empat hari tersebut, dia juga ketiban berkah lain. Dimana, beberapa pengunjung sangat tertarik dengan kue kering berbahan sagu dengan bentuk Topeng Malang karyanya sehingga langsung memborong dan memesan padanya dalam jumlah banyak. “Orang dari Kementerian Pariwisata saat itu yang tetarik sama kue bangkit (nama yang ia berikan untuk kue kering berbentuk Topeng Malang). Dia langsung pesan 40 kotak,” ungkap Joko. Selain cokelat dan kue, jamu racikan Joko yang dibentuk seperti Topeng Malang pun diminati pengunjung. Seorang dosen Universitas Brawijaya (UB) membeli sebanyak 80 biji jamu yang terbuat dari jinten, alang-alang, lengkuas, jahe, dan madu racikanya sendiri. Ia menjelaskan jamu tersebut dibuat untuk menambah stamina, khususnya pada kaum adam. Akan tetapi, dosen UB tersebut tertarik membeli sebagai bahan penelitian dan praktek kerja anak-anak didiknya yang konsen pada komunikasi bisnis. “Semacam dosen bidang studi komunikasi. Dia membeli agar produk saya bisa digunakan murid-muridnya untuk mempraktekkan komuniksi dalam bisnis. Ya saya bersyukur karena jamu Topeng Malang ini belum saya pasarkan luas,” ungkap Joko. Selain Topeng Malang yang dibuat dengan berbagai macam bentuk tersebut, Joko juga tidak meninggalkan keahlian awalnya, yakni membuat Topeng Malang asli berbahan kayu, yang juga banyak diminati pengunjung dalam pameran Gelar Budaya Nusantara itu. Joko menceritakan, terdapat seorang pengunjung yang hendak membeli topeng yang tidak dijual oleh Joko. Akan tetapi pengunjung tersebut mendesak terus, sehingg akhirnya Joko menyerah. “Topeng Bagong kan harusnya ada pasangannya. Tapi pengunjung itu maunya hanya topeng itu satu. Saya bilang tidak dijual, tapi dia ngotot terus. Akhirnya saya patok harga mahal saja biar sekalan nggak jadi beli, eh tetap mau,” ungkap Joko sambil tertawa. Saat itu, Topeng Bagong yang semula tidak dijualnya dilepas dengan harga Rp 900 ribu kepada pengunjung yang sangat menginginkan topeng tersebut. Padahal, Joko menceritakan harga normal Topeng Bagong hanya Rp 350 ribu. Menurut Joko, peserta pameran dari daerah lain pun bertandang ke stan Kabupaten Malang untuk melihat detail dari Topeng Malang karya Joko. Beberapa warga dari Suku Badui, juga mendatanginya dan meminta diajari tentangTopeng Malang. Joko menceritakan bahwa kawannya dari Suku Badui tersebut sangat mengagumi Topeng Malang dan cerita-cerita di balik 12 karakter Topeng Malang. “Kebetulan saat itu saya bawa peralatan buat bikin topeng. Malam hari setelah pengunjung sepi, mereka saya ajak buat Topeng Malang dan mereka tekun sekali belajar,” tandas Joko. Pengalamannya mengenalkan Topeng Malang ke daerah lain membuktikan bahwa Topeng Malang mendapatkan apresiasi besar secara nasional, dilihat dari antusiasme pengunjung terhadap karyanya. Hal ini membuat Joko kian semangat melakukan eksperimen-eksperimen lain untuk memopulerkan lebih jauh Topeng Malang. Joko pun mengajak siapapun yang ingin belajar padanya untuk datang langsung ke galerinya di Singosari Malang. “Saya suka kalau ada yang ingin belajar, saya senang. Datang saja belajar, saya ajari. Karena Topeng Malang sangat berharga buat saya, seperti kehidupan buat saya dan tidak akan boleh mati atau hilang,” pungkas Joko. (sisca angelina/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :