Musiamin, Mantan Atlet SEA Games Asal Wajak Kini Jadi Penjual Bakso


Masa depan seseorang memang ditentukan oleh diri mereka sendiri. Seperti halnya, Musiamin, (43 tahun), pada masa mudanya berjaya menjadi atlet pelari jarak jauh KONI Kabupaten Malang. Berbagai prestasi mulai tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasional ia raih. Masa depannya, saat ini dia tentukan dari gerobak bakso di Depan Pasar Wajak Kabupaten Malang.
Sebagian orang menganggap, profesi yang dipilih Musiamin kini sebagai kemunduran. Sebaliknya, ia merasa jika setiap langkah yang dijalaninya dan dipihnya merupakan yang terbaik. Ia tidak menyangkal jika sebuah prestasi yang didapat selama bergelut dalam dunia olahraga adalah sebuah keberhasilan. Mendapat gaji besar, bonus dan tawaran menjadi bintang iklan menjadi nilai lebih bagi seorang atlet.
Menurutnya, apa yang dikatakan orang tentang atlet yang kurang beruntung atau bernasib kurang baik, bukan karena pada akhir karirnya menjadi pelatih atau tetap bergelut di dunia olahraga. “Saya memiliki pilihan atas pekerjaan saat ini. Karena saya buka tipe orang yang memaksakan diri menjadi apa kata orang,” tegasnya.
Perbincangan Malang Post dengan Musiamin harus ada jeda beberapa kali, karena ia harus melayani pembeli yang berdatangan. Sehari-hari, Amin sapaan akrabnya, berjualan bakso tepat di pertigaan Pasar Wajak. Ia mulai mendorong gerobak baksonya sekitar pukul 09.00 dari rumahnya di Jalan Kawi, RT 03 RW 11 Desa Wajak, Kecamatan Wajak.
Dalam perjalanan dari rumahnya menuju pasar, ia selalu disapa warga. Masyarakat sekitar rupanya juga mengenal masa mudanya sebagai atlet. Di pasar sendiri, tukang parkir dan para pedagang terlihat sangat menghargainya. Karena itu tak sedikit orang yang menyapanya, yang kemudian ia balas dengan candaan.
Ia selalu berangkat kerja  dengan wajah penuh senyum. Setelah sampai di lokasi tempatnya berjualan ia mulai menata dagangannya. Satu meja persegi berukuran 2 x 1 meter mulai diangkatnya dengan dua kursi panjang dan empat kursi plastik. Terakhir terpal sebagai pelindung panas atau hujan yang tak tentu datangnya.
Tak lama, belum kelar ia menata, sudah banyak orang mengantre untuk membeli bakso yang dinamainya bakso “Generasi” itu. Dengan mengenakan topi hitam bertuliskan KONI Kabupaten Malang ia melayani pembeli. Masih tampak rasa bangga menjadi pensiunan atlet.
“Alhamdulillah banyak pembeli. Kalau cepat habis bisa cepat pulang untuk mencari pakan sapi di rumah,” ujarnya.
Ya, selepas berdagang bakso, ia memang mngurus sapi. Hewan itu dibeli dari hasil dari uang yang didapat saat masih mengikuti berbagai kejuaraan.
“Setiap saya dapat meraih juara, uangnya saya tabung untuk membeli hewan ternak dan sepetak tanah untuk masa depan anak-anak. Saya tidak mau anak-anak nanti terlantar atau tidak mendapat pendidikan. Tahu sendiri, keinginan orang tua untuk anaknya pasti harus lebih baik dari orang tuanya,” bebernya.
Kini, meski dirinya hanya jualan bakso dengan dibantu istrinya Rini Susanti (35 tahun). Setidaknya dari hasil keuntungan yang diperolehnya sudah sangat mencukupi. Setiap harinya ia bisa meraih untung sekitar Rp 50 ribu - Rp 100 ribu. Dengan pengeluaran belanja dan sekolah serta kebutuhan lainnya tidak lebih dari Rp 50 ribu.
“Beruntung saya masih bisa menabung, yang rencananya uang tabungan akan digunakan untuk keperluan sekolah putra kedua kami Muhammad Fairusi (7 tahun),” beber Amin.
Amin, saat menjadi atlet pelari jarak jauh KONI Kabupaten Malang, pernah ikut empat kali PON. Di antaranya, tahun 2000 di Jawa Timur dengan maeraih peringkat IV. Tahun 2003 SEA Games di Vietnam juga pernah diikutinya dengan raihan prestasi juara IV. Kemudian di tahun 2004 PON Palembang ia berhasil mendapatkan perak. Serta terakhir tahun 2008 PON Kaltim ia menyabet perunggu.
Dari apa yang diceritakan Amin, ia ingin kedua anaknya, keluarga dan orang sekitarnya menangkap pesan dari perjalanan hidupnya itu. Ia juga berharap anak-anaknya bisa meraih prestasi terbaik melebihi dirinya.
“Namun dengan catatan, ia bisa bebas memilih untuk menjadi apa nantinya. Tentunya melalui jalan dan caranya sendiri. Sedang bagi saya, tak masalah menjadi tukang bakso. Karena semua pekerjaan adalah baik, selama apa yang didapatkan halal dan tidak merugikan orang lain,” pungkasnya.
Ia sangat bersyukur atas karunia Tuhan yang pernah ia nikmati sewaktu muda, begitu juga sekarang ini. Karena banyak pengalaman yang didapatnya dari berbagai turnamen yang diikutinya. Apalagi olahraga digeluti oleh Amin sewaktu muda menurun ke anak pertamanya. Saat menceritakan ini, ada sinar bangga terpancar dari matanya. Sebab, anak pertama yang bernama Rahmad Setia Budi, (18 tahun), memiliki bakat ayahnya sebagai pelari jarak jauh.
Anak pertamanya itu, baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri Olahraga Sidoarjo. Ia tidak menyangka sebelumnya, jika Budi akan mengikuti jejaknya menjadi seorang atlet pelari jarak jauh.
Kata, laki-laki kelahiran Malang, 20 Januari 1974 ini, dulu ketika berangkat latihan lari di Stadion Talok, Kecamatan Turen, Budi sering diajaknya. Hingga akhirnya ia tertarik dan masuk menjadi atlet. Dari hari ke hari kian menunjukkan kemampuan dan bakatnya.
 “Syukurnya saat masuk sekolah di SMANOR Sidoarjo, ia mendapat beasiswa dari pemerintah karena prestasinya. Terakhir kemarin, dalam ajang ASEAN School Games di Singapura sebagai kontingen Indonesia, ia berhasil meraih Medali Perak cabang lari di nomor 3000 meter. Dengan raihan waktu 9.05 menit,” pungkasnya dengan sumringah.(Kerisdianto/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :