Arsha Langganan Juara di Luar Negeri

Meski Arsha Naufal Mauritzan baru naik ke kelas tiga, namun prestasinya luar biasa. Pada tahun 2017 ini, Arsha, panggilannya, sudah terhitung tiga kali mengikuti kontes matematika di luar negeri. Di antaranya Tiongkok, Thailand dan Singapura. Di sejumlah negara, siswa 3A SDI Sabilillah Malang ini telah pulang dengan medali di tangan mungilnya. 
Pertengahan bulan ini, ia baru saja dari Singapura. Namun Kamis (27/7) ini, dia dijadwalkan terbang untuk berlaga di Australian Mathematic Contess. Bakat matematikanya telah ada sejak kelas 1 SD. Oleh karena itu oleh kedua orang tuanya, Arsha mendapatkan bimbingan belajar kemudian ikut serta dalam berbagai lomba matematika. 
Tahu bahwa salah satu siswanya memiliki kemampuan unggul dalam menghitung dan menghafal rumus, akhirnya Arsha diikutkan dalam kelas olimpiade di sekolah, yakni kelas khusus pembinaan untuk mempersiapkan siwa mengikuti kompetisi keilmuan. Padahal, Arsha baru kelas 2 dan umumnya kelas tersebut diikuti oleh siswa kelas 3.
”Awalnya memang suka matematika, terus les matematika dan diajari mama. Kemudian diikutkan lomba dan ternyata menang terus,” ujar anak pertama dari kedua bersaudara ini.
Telah banyak prestasi yang diraihnya. Baru-baru ini, di Singapore International Math Olympiad Challenge yang diadakan tanggal 15 – 16 Juli kemarin, Arsha menang dalam dua kategori yang dilombakan, yakni perunggu untuk kategori perunggu dan emas untuk kategori warrior. Di dalam kontes tersebut, Arsha bersaing dengan  kurang lebih 900 an peserta dari 17 negara, diantaranya Laos, Bulgaria, Uzbekistan, dan lain-lain.
Selanjutnya di International Mathematics Wizard Challenge 2017 Tiongkok, Arsha mendapatkan medali perak. Di Japan International Science and Math Olympiad 2017, dia mendapatkan Ruby award. Di tingkat nasional, dia membawa pulang perang dari kompetisi Matematika Nalaria Realistik 2017.
Saat ditanya alasannya mengikuti berbagai lomba, dia menjawab ingin menambah koleksi piagam penghargaan yang sekarang banyak terpajang di rumahnya. Saat ini, untuk jumlah pastinya, anak pertama pasangan Adam Alyya Machfud dan Rani Rachmawati ini mengaku lupa. Selain itu, dari setiap perlombaan yang diikuti, dia mendapatkan hadiah lego dari kedua orang tuanya.
”Tiap kali memang, dapat hadiah lego dari mama papa. Kalau menang satu kali, dapat satu lego. Kalau menabng dua kali, dapat dua lego. Sekarang legonya sudah banyak. Selain itu juga kata mama biar tahu soalnya, ” kata siswa kelahiran 22 januari 2009 ini.
Dengan kemampuan bidang akademis yang mentereng itu, Arsha mengatakan ingin menjadi insinyur minyak seperti ayahnya. Selepas pulang sekolah, dua hari seminggu dia mengikuti bimbingingan belajar matematika karena dia sangat menyukai mata pelajaran tersebut. Setelah bersih diri, kemudian dia akan belajar dan pukul 20.00 WIB, Arsha bergegas tidur.
Selain bakat dan dukungan dari orang tuanya, prestasi Arsha ini hadir pula berkat pembinaan dari sekolah. Dengan kelas olimpiade yang diikutinya, Arsha bersama teman yang lain mendapatkan bimbingan matematika sebanyak lima hari seminggu selama 70 menit. Sedangkan pembinaan insidental dilakukan mendekati pelaksanaan kompetisi dengan frekuensi yang lebih intensif. Misalnya, pada masa liburan yang lalu, untuk mempersiapkan kejuaraan, siswa mengikuti pembinaan hampir seharian.
Humas SDI Sabilillah Malang, Isnin Hasanah, S.Pd mengatakan Arsha memiliki kemampuan matematika yang luar biasa meskipun kurang teliti dalam mengerjakan soal uraian.
”Padahal jawaban akhirnya benar, namun untuk sistematis pengerjaan dia masih kurang. Karena pikirannya berjalan dengan cepat jadi untuk urutan pengerjaan, sepertinya dia masih kesulitan menerjemahkan,” ujar Isnin.(mg19/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :