Herry Amir Lubis, Hobi Menata Aquarium

Herry Amir Lubis atau yang akrab disapa Herry Rasio punya hobi yang unik. Pria ini rajin travelling, blusukan ke hutan dan naik gunung untuk mencari inspirasi, untuk sebuah karya sekaligus menghasilkan rupiah. Hobi Herry, tak lain adalah seni aquascape atau menata landcape dalam aquarium. Ternyata, hasil karyanya tersebut mampu menghipnotis orang hingga kancah internasional. 
Hobi pria yang juga owner clothing Rasiowear ini, sudah tampak ketika Malang Post mendatangi rumahnya. Terlihat banyak sekali hiasan aquascape, hampir memenuhi seluruh ruangan. Hiasan tersebut ukurannya macam-macam. Mulai dari aquarium yang berukuran besar hingga ukuran kecil. Tak ketinggalan, di halaman depan juga terlihat air terjun buatan yang juga merupakan kreasi Herry.
Kepada Malang Post, Herry mengaku mulai menekuni dunia aquascape sejak 2013 lalu. Sebelumnya, Herry adalah pecinta miniature mainan dan juga penyuka tanaman bonsai. Bahkan, pria kelahiran 2 Agustus 1982 tersebut suka menyusuri hutan-hutan. “Kemudian, saya mencoba menelusuri tentang aquascape di internet. Kemudian, saya langsung suka dengan konsepnya. Apa yang saya temukan di hutan kemudian saya bisa tuangkan di dalam aquarium,” papar dia.
Ayah dari Zulfadli Amir ini akhirnya semakin memperdalam ilmunya untuk aquascape. Setiap hari, ia belajar tentang design tersebut dengan membaca berbagai referensi, berbincang dengan teman yang sudah terlebih dahulu menggeluti internet hingga menjelajahi internet. 
Suatu ketika, ia merasa tertantang untuk mencoba membuat design aquascape sendiri dari berbagai ilmu yang sudah ia dapatkan. Mulanya, Herry mulai mencoba membuat design tersebut di kertas untuk menggambarkan visual landscape yang ingin dia buat. 
“Kemudian saya mulai mencoba, saya betul-betul tekuni dengan serius. Pelan-pelan mulai belajar sampai jadi. Akhirnya keterusan bikin karya. Sekali bikin karya, butuh waktu dua hingga tiga bulan. Tergantung dari kesulitan dan ukuran aquarium,” urai Herry.
Herry juga mengatakan, aquarium tersebut diisi dengan kayu asli dan juga ditanami dengan beberapa tanaman untuk hiasan lainnya. Sebelum melakukan penanaman, memang dibutuhkan masa penyesuaian bagi tanaman-tanaman tersebut. 
”Tanaman itu rata-rata memang tahan hidup di dalam air meski sebenarnya tumbuhan darat. Saya biasa cari di sungai-sungai. Tapi ada juga yang beli khusus di toko atau pesan online,” tutur Herry.
Namun, yang lebih perlu mendapat perhatian adalah saat perawatan aquascape yang telah jadi. Agar tumbuhan tetap subur dan tidak membusuk. 
Herry menjelaskan, yang paling berpengaruh adalah soal kualitas air. Yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan aquascaping ialah CO2 (karbondioksida), oksigen terlarut (DO), siklus nitrogen, PH, suhu, dan cahaya buatan pengganti cahaya matahari. 
”Tumbuhan kan butuh fotosintesis. Jadi saat lampu akuarium menyala, harus juga mengalirkan CO2 dan pupuk,” tegas dia
Penghobi olahraga downhill dan motocross tersebut juga mengaku hampir semua karya yang berhasil dia buat terinspirasi dari tempat-tempat yang ia datangi ketika sedang melakukan touring bersama teman-temannya. Bahkan, jadi nama karya juga, seperti misalnya Jurang Mayit, Pulau Sempu, Splendid, Kera Ngalam, Oges Ngerog, dan lain-lain. 
“Selama tiga tahun, saya baru menciptakan belasan karya saja, tapi saya bangga karena memang hasil keringat saya sendiri,” lanjut suami Cony Dwi Astuti tersebut.
Kemudian, putra ke tiga dari lima bersaudara itu akhirnya tertarik untuk mengikuti berbagai lomba. Berkat kerja kerasnya, pada tahun 2014, Herry berhasil menyabet juara nasional AquaJaya Challenge-Indonesian Live Aquascaping Contest, salah satu event aquascape terbesar di Indonesia. Pada tahun yang sama, Herry juga berhasil masuk dalam Best 50 The International Aquatic Plants Layout Contest (IAPLC). Sebuah event internasional yang melibatkan pegiat aquascape dari berbagai penjuru dunia.
Selain itu, berbagai perlombaan internasional lain juga diikuti Herry, yakni ISTA International Aquascaping Contest (IIAC)  pada tahun 2015. IIAC merupakan sebuah kontes aquascape internasional yang cukup bergengsi di Jepang, negara tempat lahirnya seni aquascape. Saat itu, Herry mengirimkan dua karya berjudul Oges Ngerog yang mendapatkan posisi ke lima dan Suro Badog yang menempati posisi ke enam. 
Tahun ini, lagi-lagi Herry juga mengikuti International Aquatic Contest yang diadakan di Aquarealm, Singapure. “Sejak bulan Juni, saya sudah kirim karya. Pengumumannya sekitar akhir bulan September, mohon doanya,” tukas dia.
Karya Herry tersebut sebagian telah dibeli oleh kolektor. Ia mematok tarif Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Dia juga pernah dipercaya membuat satu aquascape kolektor asal Korea. Dalam membuat aquascape, Herry memang mempunyai style tersendiri dan merupakan suatu tantangan besar dalam menelurkan sebuah karya. 
“Saya bisa meningkatkan skill saya dalam pembuatan sebuah karya. Ketika saya memiliki waktu luang dan ada pesanan, saya ambil pesanan itu. Masih belum terpikir untuk dibisniskan, mungkin nanti akan saya pikirkan,” beber dia.
Herry menambahkan, banyak karyanya yang diminati oleh pecinta aquascape dari berbagai negara. Namun, selama ini dirinya masih kesulitan jika harus mengirim karya tersebut karena tersandung masalah perizinan. Herry pernah menjajal mengurus perizinan, tetapi dirasa cukup berbelit dan membutuhkan waktu lama. 
Kesulitannya, design aquascape tersebut harus dikarantina hingga diperiksa detail sebelum mendapat izin. Padahal, karena berupa benda hidup, aquascape butuh perhatian khusus. Sehingga proses yang harus dilalui tersebut bisa merusak aquascapenya. 
”Kalau yang kolektor Korea ini dia mengurus sendiri izinnya. Saya tinggal membuatkan,” terang pengusaha clothing
Tak puas sampai di situ, sebenarnya, pria yang juga memiliki toko yang menyediakan barang rakitan setengah jadi untuk aquascape ini juga ingin terus mengembangkan konsep aquascape di Indonesia. Sebenarnya, design tersebut sudah marak sejak tahun 2000 dan mulai booming pada 2010 silam. “Tahun 2016-2017 ini lagi gencar-gencarnya orang membuat aquascape. Saya berharap, karya yang saya buat bisa memberikan motivasi untuk yang lain agar tidak berhenti mencoba dan bisa menghasilkan karya sendiri,” tandas dia.(mg16/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :