Yang Muda Tak Mau Meneruskan, Tinggal 15 Perajin

 
MALANG - Pakisaji ternyata menyimpan banyak pusat kerajinan. Salah selain topeng Malangan, juga ada perajin gerabah. Sayangnya, kini perajin gerabah di Dusun Margahayu RT 1 RW 1 Desa Glanggang Kecamatan Pakisaji itu kini nyaris punah. Itu karena tidak ada lagi generasi penerus yang menekuni kerajinan yang turun temurun itu.
Salah satu perajin yang hingga kini masih konsisten adalah Sudarmono. Kakek berusia 67 tahun ini menekuni gerabah sejak tahun 1970 an yang lalu. Saat itu, ia juga meneruskan usaha milik ibunya. Pada masa itu, di dusun Margahayu, hamper 90 persen warganya adalah perajin gerabah. Namun seiring berjalannya waktu, kini perajin hanya tinggal 15 orang saja. 
Regenerasi yang diinginkan pun tidak berjalan dengan baik. Padahal ia berharap, anak-anaknya bias meneruskan usaha kerajinan yang sudah berjalan turun temurun itu. Anak-anaknya tidak mau lagi meneruskan usaha gerabah ini.
"Banyak alasan kenapa perajin gerabah mulai menyusut. Mulai dari sulitnya pemasaran hingga anak-anak yang lebih memilih kerja dengan penghasilan pasti per bulannya," ujar Sudarmono kepada Malang Post kemarin.
Karena anak-anaknya tidak ada yang mau terjun di kerajinan gerabah, maka tidak ada pilihan bagi Sudarmono selain tetap terus berkarya. Apalagi, meskipun pemasarannya agak sulit, namun gerabah buatannya pun pemasarannya tembus luar kota. "Saat ini saya hanya bersama istri membuat gerabah. Jumlah produksi sekitar 100 buah cowek dan 1 buah gentong berukuran besar per harinya," terangnya.
Saat ini, ia memang membatasi hanya membuat empat jenis karya. Yaitu gentong kompyang untuk memasak roti, gentong tempat air, pot bunga dan cobek. Semua prosesnya, mulai pencarian bahan baku hingga proses pembuatan dan pembakaran dilakukan bersama istrinya. 
Untuk tanah liat, ia peroleh dari sawah yang dibelinya seharga Rp 350 ribu untuk separo pikap. Selain tanah liat, ia juga memberi campuran pasir dan tanah grogol atau tanah Kalimantan sebagai penguat dan perekatnya agar lebih kuat dan tahan lama. Dalam proses pembuatannya, tanah liat diberi pasir halus dan tanah grogol dengan perbandingan 3:1 sebagai campuran dan ditambah sedikit air guna membantu proses pembuatan gerabah.  ‘’Untuk proses pembakarannya, saya harus menyewa tungku pembakaran seharga Rp 20 ribu dalam sekali pakai,’’ ungkapnya.
Adapun harga kerajinan gerabah karyanya sangat bervariasi. Tergantung dengan ukuran, mulai dari yang terkecil dibanderol dengan harga Rp 10 ribu, sedang Rp 25 ribu dan paling mahal Rp 1,5 juta. "Paling mahal adalah gentong kompyang yang digunakan untuk memasak roti. Itu karena prosesnya yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran serta membutuhkan waktu lama," imbuhnya. 
Sedangkan untuk pemasaran, ia menunggu pesanan dari tengkulak. Kebanyakan pesanan berasal dari luar kota seperti Surabaya, Bali dan Jakarta. ‘’Saat ini kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memberikan tempat pemasaran kerajinan gerabah. Karena selama ini yang menjadi permasalahan baginya dan perajin gerabah lainnya adalah pemasaran produknya. Kami juga sangat membutuhkan dana bantuan agar bisa berkembang. Sehingga perajin gerabah bisa tetap produksi dan bertahan," harapnya.(mg20/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :