Homestay H Suheri Raih ASEAN Tourism Award di Singapura

Niat awal memelihara kenangan indah bersama orangtua, ternyata justru membuat H Suheri, 59, warga Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang meraih penghargaan dalam ASEAN Tourism Award di Singapura, Januari 2017 lalu. 
Ia sama sekali tidak menyangka, upayanya menjaga keaslian bentuk dapur rumahnya yang juga berfungsi sebagai homestay ini, mendapatkan apresiasi dari pihak lain. Homestay-nya mengalahkan banyak homestay yang ada di negara-negara ASEAN yang ikut ajang tersebut. Kemenangan itu diperoleh dari keberadaan pawon (dapur) ala masyarakat tempo dulu yang kini telah menghilang. Suheri pun memperoleh penghargaan ASEAN Homestay Standart 2017-2019.
Selain bersih seluruh isi dapur homestay Suheri masih menggunakan perabotan tempo dulu. Tepat di tengah dapur, masih terdapat pawonan, yaitu kompor yang terbuat dari tanah dan menggunakan bahan bakar kayu.
Ternyata, pawon ini menjadi ruangan favorit setiap tamu yang pernah menginap di sana. Tempat itu menjadi pilihan untuk bercengkrama, minum kopi, teh. Tak hanya itu, para tamu inipun tak canggung menggoreng camilan di sana. Sesekali terdengar tawa meledak, suasana hangat pun semakin terasa. 
 “Kehangatan kenangan itulah yang ingin saya rawat. Dulu, saya pernah mengalami kenangan yang sama dengan ayah dan ibu saya, “ ujar H Suheri. 
Meskipun, kata Suheri, dapur itu tidak hanya meninggalkan kenangan manis tapi juga pahit. Saat kedua orangtuanya sakit, a terpaksa harus memasak sendiri. “Satu kali memasak, saya buat makan selama empat hari. Yang penting bisa merawat kedua orangtua saya yang sedang sakit, “ ujarnya sambil meneteskan air mata, mengingat keduanya yang sudah meninggal dunia. 
Homestay H Suheri ini berada di Pujon Kidul, letaknya tidak jauh dari Cafe Sawah yang berada di desa yang sama. Dari Batu berjarak kurang lebih 8 kilometer. Homestay ini berada di tengah perkampungan desa, memiliki dua kamar dan satu kamar mandi. Pawon yang menjadi primadona para tamu berada di belakang homestay. 
  “Rumah ini dibangun kakek saya Mbah Satu Sudarmi, tahun berapa saya tidak tahu, sejal itu hanya satu kali direnovasi, “ ujar Suheri. 
Renovasi yang dilakukan hanya mengganti dinding anyaman bambu yang biasa disebut gedeg. Selebihnya, baik pawonan atau pun meja, meja pengering piring dan gelas, serta kursi, tetap dipertahankan keasliannya seperti tempo dulu. 
Suheri hanya memasang porselin di kompor tanah dan tempat mencuci piring. Di dalam dapur ini terdapat empat pilar soko guru, yang menunjukkan bawa sebenarnya dahulu dapur ini adalah rumah bagian depan yang kemudian difungsikan sebagai dapur. 
Ia sama sekali tidak ingin mengubah bangunan dapurnya. Namun ia juga tidak menyangka kalau dapurnya ini menjadi ikon homestaynya dan disukai para tamu. 
Perawatan yang dilakukan pun hanya perawatan biasa. Ia hanya mengganti batako yang menjadi alas bambu, agar bambunya tidak lapuk. Lantai dapur pun masih tetap tanah dan tidak akan diganti. Di dalam dapur ini, juga ada alat penggiling dan lumpang kuno serta guci. 
“Meja saya ini pernah ditawar akan dibeli orang seharga Rp 1,5 juta, saya menolak untuk menjual, “ ujarnya. 
Ia mendapatkan pembinaan penataan homestay dari Pemkab Malang, sehingga bisa terus melakukan perbaikan dan inovasi layanan. Suheri pun membiasakan budaya bersih kepada anak-anak dan cucunya, agar tidak membuang sampah sembarangan.
Pola hidup keluarga ini pun berubah, tidak hanya bertani dan beternak, tapi kini berkembang ke wisata. “Tapi bagaimana pun saya ini petani, tetap hidup bergantung pada pertanian, “ ujarnya. (dani/han) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :