Sunarto, Seniman yang Mahir Perbaiki Dadak Merak


Rumah sederhana di Dusun Sumbersari, Desa Sumberjo, Kecamatan Batu seolah tidak pernah sepi dari tamu. Berbanding terbalik dengan rumah-rumah berpagar kokoh di kanan kirinya, rumah yang dikelilingi pagar tanaman hidup ini selalu ramai.
Begitu banyaknya tamu, membuat halaman rumah seniman Reog Kota Batu Sunarto (31), akhirnya difungsikan sebagai ruang tamu. Keramaian tidak hanya terjadi saat grup Sapto Tunggul Wulung, grup seni reog yang didirikan Sunarto akan bermain, namun banyak seniman Reog yang datang untuk memperbaiki Dadak Merak (Barongan kepala Reog Ponorogo) di sana.
Selain dikenal sebagai pembarong, laki-laki kelahiran Desa Sumberjo ini memang dikenal memiliki keahlian memperbaiki Barongan Dadak Merak. Rumitnya perbaikan, membuat kebanyakan seniman Reog membawa Barongan Dadak Meraknya yang rusak ke Ponorogo, atau mereka mendatangkan orang dari Ponorogo ke Kota Batu untuk memperbaiki reognya.
Karena itulah, jika Dadak Merak rusak, sebuah sanggar seni Reog Ponorogo harus mengeluarkan uang jutaan rupiah (minimal Rp 2,5 juta) agar mereka tetap bisa bermain. Sementara di Malang Raya ini, bisa dihitung dengan jari, seniman Reog yang bisa memperbaiki Barongan Dadak Merak. Salah satunya Sunarto.
"Butuh ketelatenan untuk memperbaiki Dadak Merak, kalau salah pasang kerangka bambu ataupun memasang bulu meraknya, posisi bulunya akan berdiri, tidak roboh hingga menganggu keindahan," ujar Sunarto.
Tuntutan untuk menjelma menjadi harimau dan menjadi burung merak membuat seorang pembarong, sebutan akrab untuk pemain Barongan Dadak Merak (Reyog Ponorogo) harus menari bebas. Meloncat, berguling atau meliak liukkan kepala Reog ke kanan dan ke kiri. Bahkan, seringkali pemain melakukan atraksi kayang atau menekuk badan ke belakang, sambil melempar kepala barongan ke atas dan ke bawah.  Tak hanya itu, seorang pemain barongan pun terbiasa melakukan atraksi dengan menggunakan peralatan lain, seperti naik sepeda atau naik motor keliling.  Padahal alat kesenian Reog Ponorogo, kerangkanya terbuat dari kayu, bambu bercampur rotan yang ditutup dengan kepala harimau dan bulu merak.
Sebuah Dadak Merak berukuran standart dengan panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter beratnya paling ringan 65 kilogram. Sementara untuk Dadak Merak ukuran 3 meter beratnya mencapai 75 kilogram. Dengan berat seperti itu, pembarong menggendalikannya dengan hanya menggunakan gigitan giginya, serta menahan dengan kepala dan tangan. Tak heran, dalam setiap permainan, Dadak Merak yang menjadi daya tarik tarian Reog Ponorogo ini seringkali rusak.
"Saya bisa memperbaiki Dadak Merak karena dulu pernah kebingungan saat Dadak Merak saya rusak. Sementara saya tidak memiliki dana yang cukup untuk memperbaikinya, akhirnya saya coba untuk memperbaiki sendiri, ternyata bisa," ujar Narto, panggilan ayah dua anak ini.
Bagi Narto, Reog Ponorogo adalah sebuah maha seni, karena tidak hanya permainannya yang memiliki nilai seni tinggi, namun dari setiap perlengkapannya pun memiliki nilai seni tinggi yang tidak dimiliki oleh kesenian lain.
Menurutnya, reparasi Reog Ponorogo paling sulit adalah menata bulu merak. Kalau keliru posisi, maka bulunya berdiri. "Butuh ketelatenan untuk menata terus," ujarnya.
Dadak Merak saja terdiri dari beberapa bagian, kepala Harimau disebut caplokan atau cekatakan atau irah-irah. Harga barunya bisa mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Belum lagi kerangka yang dihiasi  bulu merak yang per batangnya seharga Rp 8.000 hingga Rp 10 ribu, sementara satu kerangka Dadak Merak berisi 1.500 batang bulu merak yang dihiasi kain beludru bersulam monte serta berbagai aksesoris.
"Butuh dukungan dana besar untuk pemilik sanggar agar kesenian ini tetap hidup," ujar Sunarto. Karena itulah, Narto tidak selalu mempertimbangkan materi dalam memperbaiki Dadak Merak, terkadang ia hanya membantu memperbaikinya saja.
Untuk membeli Dadak Merak baru pun, butuh dana yang besar, hingga puluhan juta rupiah. Tergantung dari bahan yang dipergunakan. Apakah menggunakan bahan kepala asli harimau atau menggunakan kulit kerbau.
Kendati membutuhkan anggaran yang sangat besar untuk menghidupi kesenian ini, Narto yakin kesenian ini akan tetap hidup dan digemari oleh masyarakat. "Tidak ada ceritanya, ketika Reog Ponorogo main, sepi penonton, pasti ramai," ujar Narto.
Narto sendiri menekuni Reog dari ajaran ayahnya yang bernama Jejeg (alm), warga Ponorogo yang pindah ke Kota Batu. Awalnya ia belajar kesenian kuda lumping, hingga akhirnya ia konsentrasi kepada kesenian Reog.
"Saya menyukai Reog, karena sajian penampilannya berbeda dengan kesenian lain, ada alur ceritanya. Penampilannya lebih ke sendra tari, karena itu sejak kelas 4 SD saya sudah bermain Reog," terangnya. Pengetahuan dasar yang diberikan ayahnya ini, ia perdalam ketika bergabung di Sardulo Seto, sebuah sanggar seni di Kelurahan Sisir.
Di tempat ini, Narto dibesarkan hingga akhirnya mendapatkan berbagai prestasi bersama teman-temannya. Salah satunya masuk 10 besar grup Reog terbaik dalam Festival Reog yang diselenggarakan di Ponorogo.
Yang lebih membuatnya jatuh cinta pada kesenian Reog, kesenian ini tidak menggunakan magic dalam aksinya, namun lebih pada olahraga, di mana seorang pembarong dengan menggunakan teori dan teknik khusus mampu mengangkat Reog selama 15 hingga 30 menit.
Untuk menjadi pembarong, lanjut Narto, butuh latihan rutin dengan memperkuat gigitan, tumpuan pundak dan tangan. "Melatih gigi dan leher dengan menggunakan beban yang dikerek," ujar Narto.
Tidak hanya dilatih secara raga, seorang pembarong harus dilatih olahraga. Yakni Wiroso, bagaimana  pembarong bisa menyatu dengan Dadak Merak, saat menjadi harimau dan merak.
Pembarong juga dilatih Wiromo, untuk menyelaraskan gerakan barong dengan penari dan gamelan, serta terakhir melakukan wirogo untuk melatih kekuatan badan secara alami.
Di tengah modernisasi zaman, Narto bersama seniman Reog lain memiliki komitmen yang sama, yakni melestarikan kesenian tradisional ini. "Semua sudah datang dari hati, awalnya untuk melestarikan kesenian yang diwariskan bapak saya, selain itu untuk melestarikan kesenian leluhur. Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan kita yang bergerak, Reog akan tinggal cerita saja," ujarnya. (dan/han)

Berita Lainnya :

loading...