Saat Pesanan Sepi, Beralih Jadi Petani

 
Memilih berwiraswasta tentunya tidak lepas dari ramai dan sepinya usaha yang dilakoni seseorang. Hal tersebut sudah menjadi gelombang bagi para pengusaha. Baik industri skala rumahan hingga sampai industri skala besar. Jika usaha lagi ramai tentunya keuntungan berlebih akan diraih. Sebaliknya, jika saat usaha sepi pesanan pasti menjadi masalah tersendiri yang harus dihadapi.
Seperti halnya kerajinan sangkar burung di Desa Gedog Wetan, Kecamatan Turen. Perajin sangkar saat ini mengeluhkan menurunnya pesanan. Disampaikan Kasimin (50) asal Jalan Gunung Jati, RT 2 RW 8 Dusun Mulyoasri yang merupakan perajin sangkar burung yang saat ini mengalami penurunan pesanan.
Ia bersama anak dan istrinya telah berkecimpung selama 17 tahun sebagai perajin sangkar burung di desanya. “Tidak saya saya, tapi hampir 70 persen warga satu dusun menggeluti kerajinan sangkar burung, dan hampir seluruhnya mengalami penurunan penjualan,” ujar Kasimin kepada Malang Post.
Diceritakannya, memasuki tahun 2017 pesenan dari agen semakin menurun setiap bulannya dengan rata-rata pesanan saat ini 200 buah sangkar. Baru ada pesanan setelah bulan puasa kemarin. “Tahun 2016 rata-rata pesanan sekitar 400-500 buah sangkar, bahkan pernah sampai 700 buah sangkar. Namun akhir-akhir ini menurun,” terangnya.
Dalam pemasaran sangkar yang dikerjakan oleh warga Gedog Wetan, pengiriman lebih banyak ke luar kota ketimbang area Malang. “Kebanyakan hasil kerajinan sangkar akan dikirim ke luar Kota seperti Surabaya, Mojokerto. Hingga luar pulau dengan tujuan Bali sampai Kalimantan,” paparnya sambil sibuk melubangi sangkar.
Tidak heran jika kerajinan sangkar burung warga Desa Gedog Wetan sampai dikirim hingga ke luar pulau. Pasalnya di tempat tersebut, tempat para perajin sangkar telah ada sejak ahun 1980an hingga saat ini. Selain itu, proses pengerjaannya juga masih dengan semi tradisional. 
“Kalo dahulu waktu saya masih bujang cara pembuatan masih tradisional, namun saat ini sudah sangat dimudahkan. Untuk melobangi tinggal bor, sedang untuk memotong sudah ada mesin pemotong,” jelas Kasimin.
Untuk penjualan sangkar yang disuplainya, ia membandrol satu buah sangkar dengan harga Rp 10 ribu untuk ukuran kecil, sedangkan ukuran besar harga jualnya mencapai Rp 300 ribu, dengan omset selama sebulan rata-rata mencapai Rp 5 juta. “Itu jika ada pesanan. Namun saat sepi atau berkurang kami fokuskan ke pertanian dan peternakan kecil-jecilan,” ucapnya.
Ia dan para perajin sangkar lainnya, berharap penjualan yang saat ini mengalami penurunan bisa segera kembali normal. Sehingga seluruh perajin sangkar Desa Gedog Wetan bisa kembali memenuhi permintaan pasar seperti sebelum-sebelumnya. (mg20/bua)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...