Tiap Hari Harus Suntik dan Minum 16 Pil Sekaligus

 
Sebenarnya dari luar rumah itu tampak biasa, layaknya rumah yang ada di desa. Tapi kalau masuk ke bagian belakang, akan dijumpai kondisi yang mengenaskan, pengap dan kotor. Lantainya terbuat dari tanah, sebagian genting bocor sehingga kalau hujan  rumahnya itu becek oleh genangan air. Di rumah itulah, di Desa Talok Kecamatan Turen, pasangan Bambang dan istrinya Suliyati tinggal.
KONDISI rumah itu  sangat sederhana. Sebenarnya untuk kawasan desa, rumah seperti itu biasa saja, karena banyak rumah dengan kondisi yang sama. Tapi kondisi rumah itu justru sangat berbahaya bagi Suliyati, sing penghuni rumah. Apa pasal ? Wanita paro baya ini menderita penyakit kronis yang membutuhkan tempat tinggal yang bersih dan sehat. Dia terkena gangguan paru-paru, tapi bukan sembarang Tuberculosis (TB), tapi penyakit paru-paru yang virusnya sudah kebal dengan obat atau istilah medisnya TB Multi Drug Resistence (MDR). Inilah jenis penyakit yang diderita Suliyati sejak beberapa bulan ini.
Dijumpai di rumahnya, Suliyati tengah berbaring di tempat tidur yang ada di ruang tengah, sementara Bambang, suaminya berada di depan menjaga toko kecil yang menjadi sumber penghidupan pasangan ini. Selain toko tersebut, Bambang juga bekerja serabutan, termasuk menjadi tukang bangunan di sekitar desanya. Sebagai ketua takmir masjid, Bambang punya kesibukan mengawasi renovasi masjid yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. ‘’Saya bekerja sambil menjaga istri saya,’’ kata Bambang saat dijumpai di rumahnya. 
Akibat penyakit yang dideritanya, Suliyati hanya bisa beraktivitas di dalam rumah. Kalau keluar rumah, atau ada orang datang ke tokonya, dia harus mengenakan masker untuk melindungi penularan virus penyakit kepada orang lain. Tapi kalau tidak berhadapan dengan orang lain, masker itu dilepasnya. Dia paham, setiap ada orang yang menemuinya, masker itu harus dipakainya. 
Selain menjaga toko kecil itu, Suliyati punya kesibukan harus pergi ke Puskesmas Kecamatan Turen untuk menjalani pengobatan khusus. Sebagai penderita TB MDR, dia harus menjalani pengobatan tiap hari berupa suntik dan minum 16 pil sekaligus. Ini harus dilakukan di Puskesmas agar bisa diawasi oleh petugas, karena untuk bisa menjalani pengobatan ini tidak mudah. Suntik tiap hari mungkin bias, tapi harus meminum 16 pil sekaligus bukan pekerjaan mudah. ‘’Istri saya pernah pingsan karena tidak tahan minum banyak obat, makanya dia harus didampingi agar semua obatnya diminum,’’ jelas Bambang.
Selain pengawasan dari Puskesmas, Suliyati juga mendapat pendampingan dari relawan CommunityTB-HIV Care Aisyiyah Sub Recipent (SSR) Malang. Ada dua petugas yang selalu mendampingi Suliyati, yaitu Isqu Makbullah dan Afrida Nurmala Sari.  ‘’Beliau harus menjalani pengobatan selama dua tahun agar TB MDR-nya bisa sembuh,’’ kata Isqu yang bersama Malang Post mengunjungi rumah Suliyati. Kebetulan hari itu jadwal nya untuk mendampingi pasien menjalani pengobatan.
Awalnya Suliyati menderita TB biasa yang harus menjalani pengobatan tiap hari selama enam bulan. Belum diketahui pasti penyebabnya, mengapa TB itu berubah menjadi MDR. Biasanya dalam kasus lain, perubahan itu terjadi karena kesalahan minum obat. Penderita TB selama enam bulan harus minum obat tiap hari. Kalau ada satu hari saja terlewatkan, maka akan menimbulkan bahaya, penyakitnya menjadi kebal terhadap obat. ‘’Dalam kasus Bu Suliyati, mungkin karena beliau juga menderita penyakit lain,’’ terangnya.
Pasien TB MDR memang harus didampingi untuk memastikan agar tetap mendapat suntik di Puskesmas dan meminum obat dalam jumlah yang banyak. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi penderita penyakit tersebut, sehingga butuh pendampingan agar memastikan pengobatan tetap berjalan. ‘’Disuntik tiap hari dan minum obat sebanyak itu memang sangat berat, tapi kami harus meyakinkan agar mereka mau melakukan agar sembuh,’’ ucapnya. 
Lembaga ini dibentuk khusus atas kerja sama antara Aisyiyah dengan Global Fund untuk program Zero TB di Indonesia. Aisyiyah Kota Malang ditunjuk untuk menangani masalah ini di wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Ada pasien dari Pasuruan yang perlu pendampingan, tapi karena lokasinya sangat jauh, Aisyiyah SSR Kota Malang belum mampu menjangkaunya. Selama ini masih sebatas Malang Raya, terutama di Kota dan Kabupaten Malang.
Selain masalah pengobatan, Suliyati juga butuh bantuan perbaikan rumah agar pengobatan penyakitnya bisa optimal. Dengan kondisi rumah seperti sekarang, pengobatan tidak berjalan baik, bahkan bisa membahayakan karena penyakitnya akan mudah menyebar. Kondisi ruangan yang lembab karena kurang cahaya dan lantai dari tanah bisa menjadi penyebab bersarangnya penyakit di rumah tersebut. Relawan dari Aisyiyah Malang berharap ada dermawan yang membantu perbaikan rumah Suliyati sebagai bagian dari upaya untuk penyembuhan penyakitnya. 
‘’Kami berharap ada yang membantu untuk renovasi rumahnya, minimal pengerasan lantai dengan keramik. Ini penting untuk membantu proses penyembuhan Bu Suliyati,’’ kata Isqu.(nun)  
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...