Ada Video Palsu Obama, Video Kiai pun Bisa Dimanipulasi


Berita menyesatkan atau fake news seringkali dibuat oleh orang-orang profesional yang kreatif, dan memiliki lebih banyak waktu dari jurnalis untuk memproduksi konten sesuai dengan keinginan pemesan. Pernyataan Prof Cherian George dari  Department of Journalism Hong Kong Baptist University dalam Asia Journalism Forum (AJF) 2017 yang dihadiri Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana di Singapura itu, sesuai dengan apa yang dikerjakan kelompok Saracen.
Ketiga anggota kelompok Saracen ditangkap polisi sejak jauh hari, Muhammad Faizal Tanong (43) ditangkap pada 21 Juli 2017, Sri Rahayu Ningsih (32) 5 Agustus dan Jasriadi pada 7 Agustus. Namun polisi baru melakukan gelar perkara dan mempublikasikan tangkapan tersebut kepada media pada 23 Agustus lalu, jadi, ketika Prof. Cherian George menjadi keynote speaker dalam AJF 2017 dan membahas tentang Reporting News & the Future of Journalism, dia belum tahu soal Saracen. Tapi apa yang disampaikannya 100 persen tepat dengan cara kerja kelompok ini.
Saracen  yang memproduksi dan menyebarkan konten kebencian itu punya 2.000 akun media sosial. Banyak sekali kan?!. Saya punya lima akun di empat platform media sosial saja seringkali dibikin puyeng, kadang lupa passwordnya atau tertukar. Lha ini malah punya ribuan, yang kemudian berkembang menjadi 800 ribu!. Ratusan ribu akun tersebut tak semua hasil ciptaan sendiri, tapi sebagian merupakan hasil membajak akun milik orang lain. Para anggotanya punya keahlian membaca situasi pemberitaan di media mainstream yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk menciptakan konten-konten kebencian. Saya tidak akan membahas Saracen lebih lanjut, mari kita ikuti hasil pengembangan kasus ini dari kepolisian.     
Dalam event yang digelar oleh The Institute of Policy Studies (IPS) Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan Temasek Foundation Connects tersebut, Cherian George juga menyinggung program algoritma yang diciptakan para peneliti dari University of Washington. Program itu didesain dapat mengambil video dari seseorang yang audio atau suaranya diganti dengan yang lain. Hasilnya? Sebuah video baru yang terlihat nyata padahal palsu.
Juli lalu, kampus ini melansir video pidato palsu mantan Presiden Amerika Barack Obama. Video pertama diambil dari salah satu pidato mingguan Obama, suaranya dihilangkan, lalu digabungkan dengan audio berbeda. Yang menghasilkan Obama berpidato dan mengatakan sesuatu sesuai kalimat dalam audio. Dengan gerak bibir yang sama!.  
“University of Washington menunjukkan betapa majunya teknologi saat ini,” kata Cherian George. Dan bisa saja, teknologi itu dimanfaatkan untuk keperluan jahat sesuai keinginan oknum-oknum tertentu.
Di masa mendatang, fake news tidak hanya tentang tulisan palsu atau foto hasil manipulasi, tapi juga video palsu. “Kita bisa menciptakan video tentang tokoh tertentu yang mengatakan apapun sesuai keinginan institusi atau lembaga di belakangnya, yang menciptakan kampanye tersebut,” kata Cherian.
Ia mencontohkan, seseorang bisa membuat video tentang Lee Kuan Yew, bapak pendiri Singapura, tentang topik tertentu dan membuatnya viral. Hal sama bisa terjadi di Indonesia. Seseorang membuat video berisi tokoh tertentu, menyampaikan pernyataan yang mendukung kelompok tertentu, atau memanfaatkan video itu untuk mengadu domba. Misalnya, video berisi kiai dari golongan A yang memojokkan golongan B. Ah, membayangkan efeknya, sungguh mengerikan.  
Maka, menurut Cherian, dibutuhkan masyarakat cerdas untuk dapat mengetahui agenda terselubung dari setiap kampanye atau produk berita yang diluncurkan. Selain media massa profesional, masyarakat juga harus tahu ada banyak sekali fake news media. Ia mencontohkan website Jihad Watch yang dibuat oleh kelompok anti muslim di Amerika. “Tahun lalu, ketika menuliskan kata jihad di Google, website Jihad Watch muncul di posisi kedua setelah Wikipedia. Sekarang sudah tidak lagi,” ujarnya.
Di Indonesia, juga banyak bermunculan website-website palsu dengan alamat mirip portal media asli, atau portal berita satir yang berisi berita-berita buatan. Maka, sebelum forward sebuah link atau informasi, sebaiknya Anda melakukan cek dan ricek. Baca dulu isi beritanya, sampai tuntas. Kenali dan pahami alamat website itu, apakah benar terpercaya atau abal-abal.(hana/bersambung)

Berita Lainnya :

loading...