Singapura Segera Punya Presiden Berdarah Melayu


Malang Post, Kencing manis merupakan satu dari tiga isu nasional yang menjadi perhatian pemerintah Singapura. Demi mencegah agar penderitanya tidak bertambah, Singapura menggalakkan kampanye hidup sehat. Bahkan, melalui khutbah di masjid-masjid dan tempat ibadah lain. Supaya menyentuh semua lapisan masyarakat. Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana menonton pidato Perdana Menteri Lee Hsieng Loong saat mengikuti program Asia Journalism Forum 2017.
Perdana Menteri Lee dalam pidato tahunan di event The National Day Rally 2017 mengatakan, 10 persen dari warga Singapura menderita diabetes. Menurutnya, penyakit tersebut berbahaya sebab tidak bisa disembuhkan total. Penderitanya hanya mampu menghindari penyakit kambuh lagi dengan berobat, menjaga gaya hidup dan pola makan. “Segeralah bertindak sebelum nasi menjadi bubur,” katanya.
Sama seperti ketika menyampaikan poin tentang pendidikan pra sekolah, PM Lee juga menyelipkan contoh-contoh nyata dan joke saat membahas tentang bahaya kencing manis. Beberapa faktor penyebab kencing manis, lanjutnya, karena berat badan dan kurangnya olahraga. Di sini lah saya merasa tertohok. Berat badan saya di atas normal dan terus terang juga kurang berolahraga, hehehe. Jangan ditiru.
Ada dua momen ketika saya berjalan kaki dengan sukarela, ikhlas dan senang hati. Di Makkah dan Madinah saat menunaikan ibadah haji dan di Singapura, baik dalam momen pelesir maupun urusan pekerjaan. Setiap kali ke Singapura, saya memilih naik MRT dari bandara menuju hotel tempat menginap. Saya menyimpan EZ link card, kartu yang digunakan untuk membayar MRT ataupun bus di Singapura. Begitu juga dalam kunjungan ke Singapura 16-21 Agustus lalu, saya naik MRT.  
Dari terminal 3 Changi Airport, penumpang tinggal naik eskalator untuk turun menuju MRT Station. Hanya ada satu jalur MRT warna hijau (East West Line) di bandara. Saya naik itu, lalu turun di pemberhentian pertama, Tanah Merah, untuk berganti jalur. Dari Tanah Merah, semua penumpang yang menuju arah kota atau tujuan lain harus memilih jalur dengan pemberhentian akhir di Tuas Link, termasuk saya.
Penumpang tinggal memilih akan berhenti di stasiun mana, sebelum berganti jalur. Karena menginap di Orchard Hotel, maka saya berhenti di stasiun City Hall untuk berganti jalur warna merah (North South Line) menuju Orchard Station.
Total, ada 13 stasiun MRT yang harus saya lewati dari bandara menuju Orchard. Keluar stasiun pun, masih harus berjalan kaki ke hotel. Kalau di peta, jaraknya sih sekitar 650 meter, tapi rasanya jauh banget buat saya yang jarang jalan kaki. Ngos-ngosan.  
Biaya perjalanan dari bandara ke hotel naik MRT pun sangat murah, sekitar SDG 2 alias tidak sampai Rp 20 ribu. Kalau naik taksi, tarifnya SGD 20-SGD 25. Di sana, saya hanya naik taksi ketika akan mengikuti upacara kemerdekaan RI di kantor KBRI, sebab acaranya pagi dan saya tidak mau “berkeringat” sebelum upacara berlangsung, serta dalam perjalanan dari stasiun Boon Lay menuju perumahan di Jurong West, untuk mengunjungi rumah penduduk lokal. Lainnya, semua jalan kaki dari satu stasiun MRT ke stasiun lainnya. Saya merasa sehat. Tapi itu pun masih kurang dibandingkan gaya hidup warga Singapura, yang oleh pemerintahnya, dikhawatirkan terkena diabetes.    
Nah, kepada warganya, PM Lee meminta mereka untuk mengurangi makanan berlemak dan manis-manis. “Saya suka dodol dan onde-onde, tapi akan ditegus dokter kalau makan berlebih. Sebenarnya, makan satu biji (onde-onde) sudah cukup, tapi kadang dua biji boleh lah,” katanya yang disambut tawa audiens.
Pria alumnus Cambridge University ini menambahkan, masakan melayu memang sedap, namun sayangnya juga mengandung banyak lemak dari santan dan gula. Padahal menurutnya, masakan tanpa santan dan gula juga tetap enak. “Bila makan di luar (rumah), carilah makanan yang sehat,” tambahnya. Kali ini ia memberi contoh menu soto ayam bikinan Cik Salama di daerah Tampines.
“Cik Salama tidak menumis bahan-bahan untuk soto ayam, tapi merebusnya. Dia juga mengurangi garam dan tidak pakai pengawet. Sehat dan murah, satu porsi hanya SGD 2.80,” kata PM Lee. Lagi-lagi, audiens tertawa.  
Selain menjaga makan dan minum, untuk mengatasi masalah kencing manis, PM Lee meminta warganya untuk berolahraga. Minimal 20 menit setiap hari. Bisa berjalan kaki, aquarobic ataupun futsal. Untuk  masing-masing contoh itu, ada video dan foto yang disajikan dalam monitor raksasa di panggung. Juga, sebagian orang-orang di dalam foto hadir di ruangan tersebut. Tersenyum-senyum bangga karena wajahnya nampang di monitor.
“Berpahit-pahit dahulu bermanis-manis kemudian, eh, tapi jangan terlalu manis ya, (yang tepat) bersehat-sehat kemudian,” ucap PM Lee. Kutipan pantunnya belum usai. PM Lee masih menambahkan “Gendang gendut tali kecapi, kenyang perut suka hati”. Menonton pidatonya sampai menit ini, saya makin suka perdana menteri ini.
Isu ketiga yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah smart nation. Singapura, lanjut PM Lee, akan memanfaatkan IT sepenuhnya, untuk menciptakan peluang dan pekerjaan. Saat ini, kata suami Ho Ching, ada banyak start up di Singapura dan anak muda yang sukses berbisnis dalam IT. “Pemerintah akan mendukung sepenuhnya,” tandas PM Lee.
Ketika berpidato dalam Bahasa Melayu, PM Lee juga mengatakan, sebentar lagi Singapura akan memiliki presiden dari warga Melayu. Presiden pertama Singapura adalah keturunan Melayu, Yusof Ishak. Yusof Ishak mengawali kariernya sebagai wartawan setelah lulus dari Raffles Institution di tahun 1929. Ia rupanya sangat menyukai dunia jurnalistik, hingga menjadi salah satu pendiri koran Utusan Melayu, sebelum menjual saham kepemilikannya di perusahaan tersebut kepada United Malay Nationalist Organisation (UMNO) di tahun 1959. Yusof Ishak menjadi Presiden Singapura pada 1965 sampai 1970, dan sejak saat itu, belum ada warga Melayu lagi yang menjadi presiden negara dengan jumlah penduduk 5,6 juta itu.  
“Jika semuanya berjalan lancar, seorang lagi warga Melayu bakal menjadi presiden baru Singapura,” pungkas PM Lee.(*)  

Berita Lainnya :