Tiga Siswa Pemberani Penemu Bayi


Seandainya tiga siswa SDN Songgokerto 1 ini, Junior Yoga Pratama, Muhammad Gilang dan Agung Prasetyo tidak memberanikan diri mengikuti arah suara tangisan bayi yang mereka dengar saat pulang sekolah, bisa jadi bayi itu tak tertolong. Dan, tak akan ada bayi cantik Niken Sekar Melati yang sekarang mendapat banyak penggemar yang ingin mengadopsi.
Siang itu, usai acara berbagi Idul Adha di sekolah, tidak seperti biasanya, Junior Yoga Pratama, 11, siswa kelas 5 SDN Songgokerto 1 memilih pulang ke rumahnya di Jalan Anggrek.  Biasanya ia langsung pulang ke rumahnya di Songgokerto, namun karena ayahnya, Sukandar sedang bekerja di Jalan Anggrek, ia pun ke sana. Kebetulan saat itu, ia pulang bersama-sama Muhammad Gilang, 11, siswa kelas 5 dan Agung Prasetyo, 11, siswa kelas 6 yang rumahnya berdekatan dengan rumahnya di Jl Anggrek.
Berjalan kaki, ketiganya pulang melalui Jalan Mawar, lalu melintas di Jalan Melati Kelurahan Songgokerto. Saat itu, tidak hanya mereka bertiga yang berjalan kaki, namun di depan mereka ada tiga siswa lain. "Di depan kami ada Rara, Rere dan Ulfa yang juga berjalan kaki. Jaraknya tidak begitu jauh, kurang lebih hanya tiga meter saja," ujar Yoga.
Setelah melewati kantor Badan Pusat Statistik, mendadak mereka mendengar suara tangis bayi. Sontak langkah ketiga siswa ini berhenti. Saat itu Gilang sempat memanggil Rara untuk memberitahu ada suara bayi di tempat itu.
Namun ketiga siswi ini tetap melangkahkan kaki lantaran mengira panggilan itu hanya guyon.  "Suara tangisannya terdengar samar, seperti tertutup sesuatu. Tangisan lirih bayi itu hanya terdengar dua kali saja, awalnya saya kira kucing, malah Yoga mengira itu suara setan," ujar Gilang menceritakan pengalamannya sambil tertawa.
Mereka bertiga sempat melemparkan pandangan, was-was, sembari melihat ke sudut-sudut pepohonan. Karena, suaranya seperti terdengar di atas pohon. Namun mereka tidak menemukan apa-apa di sana.
"Saat itu sudah tidak terdengar lagi suara tangisan, hingga akhirnya kami menemukan ada polibag besar (begitu mereka menyebut plastik berwarna hitam pembungkus ransel), tergeletak di rumput," ujar Gilang.
Awalnya, ketiganya tidak berani membuka plastik tersebut. Namun, Agung kemudian memberanikan diri untuk mengintip dari plastik yang berlubang tersebut. "Saya tidak berani memegangnya, jadi hanya saya intip, saya lihat ada resleting tas," ujar Agung.
Mereka yakin dari dalam tas itu ada bayi, mereka pun ketakutan dan lari pulang ke rumah masing-masing dan memberitahu orang-orang yang ditemuinya.
Setelah itu, mereka semua kembali ke lokasi bersama orang dewasa, di antaranya Sukandar (ayah Yoga) dan Heri, tetangga mereka. Saat plastik warna hitam dan tas ransel dibuka, anak-anak ini melihat kepala bayi yang sudah memerah. Kepala yang terlihat rambut tipisnya ini dibungkus handuk warna putih.
Rambut dan wajah bayi ini basah karena berkeringat, wajahnya memerah dan lemas. "Begitu melihat wajah bayi ini kami bertiga (Yoga, Gilang dan Agung-red) senang sekali, bayinya lucu imut-imut," ujar Gilang, teman Yoga.
Meskipun mereka benci kepada orang tua bayi yang tega membuang buah hatinya ini, ketiga anak ini berharap kedua orang tua bayi ini bisa segera ditemukan. "Biar adik bayi itu segera ada yang merawat, kasihan," ujar Yoga.      
Sejak penemuan bayi ini, rumah ketiga bocah ini dipenuhi warga yang ingin tahu bagaimana cerita penemuan bayi tersebut. "Ada yang bilang, rezekimu le, ada juga yang bersyukur kami segera menemukan bayi itu, hingga bayi itu selamat," ujarnya. (dan/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...