Mengenal Bripka Wiwid, Penyidik Cantik Unit Resmob Polres Makota


Rambutnya pendek sebahu. Kacamata wrap around berwarna hitam menggantung di antara frame silver, menghiasi wajahnya. Wanita berkulit putih ini memakai seragam hitam Reserse Mobile Polres Makota, lengkap dengan celana PDL tactical berwarna beige. Lencana polisi menggelayut manis di dadanya.
Dengan gerakan mantap, Bripka Marwida SH, menggiring para tersangka. Bripka Wiwid, sapaan akrabnya, menyandang sebuah senapan laras panjang M-16. Bersama para polwan dan polisi lain, dia mengawal proses pemindahan enam tersangka pembunuhan Taman Rolak dari mobil tahanan, ke lokasi reka ulang di kebun singkong.
Tak ada warga yang berani menggoda walaupun Bripka Wiwid menawan. Tampilannya yang sangar, mengesankan keberanian dan ketegasan. Dengan tenang, dia berdiri di antara para polisi pria yang masih sibuk dalam proses reka ulang yang dilakukan para tersangka. Sesudah reka ulang selesai, Bripka Wiwid kembali mengawal proses pemindahan pelaku ke mobil tahanan, untuk diamankan lagi di ruang tahanan Polres Makota.
Selama proses reka ulang, Bripka Wiwid memang mencuri perhatian. Paras polwan kelahiran Pekanbaru, 23 November 1982 tersebut enak dipandang. Dengan senjata laras panjang yang dibawanya, Bripka Wiwid menampilkan sisi lain dari polwan yang tak hanya menang rupawan tapi juga bisa tampil garang.
Kepada Malang Post, Bripka Wiwid bercerita, saat ini dia bekerja di unit yang tiap hari menuntutnya untuk tegas dalam menginterogasi pelaku kejahatan. “Saya saat ini bertugas sebagai Penyidik Unit Resmob Polres Makota, sejak tahun 2015 lalu sampai sekarang. Ini saja sekarang saya lagi pemeriksaan saksi di luar,” jelas Bripka Wiwid dikonfirmasi kemarin.
Sesuai tupoksinya, Bripka Wiwid adalah penyidik lapangan yang punya tugas menindaklanjuti instruksi pimpinannya, dalam pengembangan dan pendalaman perkara kejahatan. Dia punya tugas melakukan penyelidikan, guna kepentingan penangkapan dan pengungkapan tindak pidana. Dia harus menyamar, menyusup dan melakukan pengamatan target tertentu.
Tak heran, nama unit di mana dia bekerja sekarang adalah Reserse Mobile, yang menuntutnya untuk selalu mobiling dan bergerak serta selalu berinteraksi dengan berbagai jenis penjahat. Karena itulah, Bripka Wiwid tidak gamang saat menggendong M-16 sembari mengawal tersangka.
Bahkan, dia mengaku bahwa senjata tersebut adalah favoritnya. “Sebagai penyidik, saya belum perlu pegang senjata. Cuma, di saat-saat yang mengharuskan membawa senjata, pasti bawa. Ada prosedur yang harus dipenuhi, serta serangkaian tes uji penggunaan senpi. Selain M-16 itu, saya suka pistol Glock,” ujar Bripka Wiwid.
Anak kedua dari enam bersaudara tersebut mengatakan, senjata api hanyalah satu dari sebagian kecil kerja polisi. Sebab, bintara polwan angkatan tahun 2002 tersebut mengatakan ada banyak hal mengesankan yang dialaminya selama bertugas. Paling unik, adalah saat dia bergabung dalam tim razia dalam rangka HUT Polwan di Kepulauan Riau.
Kala itu, Bripka Wiwid bertugas di Satlantas Polrestabes Barelang, Kepri pada 2005-2010. “Saat polwan gelar razia lokalisasi, jam 1 malam, saya kejar-kejaran dengan PSK dan waria yang ada di sana. Bahkan, saya sampai panjat-panjat pohon tinggi. Ya nggak takut, karena sudah tugasnya. Kami naik pohon untuk merayu waria dan PSK agar turun dari pohon, hahaha,” kenang Bripka Wiwid.
Selain adu lari dengan pelanggar hukum, istri dari anggota TNI-AD yang kini bertugas di Kodim Kota Malang itu juga mengaku sering trenyuh ketika menjalankan tugasnya di tengah warga. Menurut Bripka Wiwid, pengalamannya bersentuhan dengan berbagai lapisan masyarakat membuatnya semakin humble sebagai polisi.
“Ketika kami datang ke sekolah, kelurahan, kantor-kantor, atau bertemu dengan warga yang tidak mampu, mereka merasa kedatangan polwan membawa rasa aman dan terayomi. Sehingga, saya pun mendapatkan banyak pengetahuan, persaudaraan dan memantapkan jiwa sebagai polwan,” tuturnya.
Lahir dari keluarga polisi, Bripka Wiwid mengawali karirnya sebagai ajudan Kapolres Lubuk Sikaping Polda Sumbar tahun 2002 sampai 2005. Setelah lima tahun berdinas di Satlantas Polrestabes Barelang Kepri, dia akhirnya menjejakkan kaki di Malang dan bergabung di Satlantas Polres Makota, pada 2010-2015.
Setelah itu, dia masuk sebagai penyidik Satreskrim Polres Makota sampai sekarang. Bersama penyidik lain dan di bawah instruksi Kasatreskrim AKP Heru Dwi, Reskrim baru saja menangani kasus besar pembunuhan dan melakukan pengungkapan cepat. Bripka Wiwid mengaku, risiko sebagai polisi selalu ada.
“Keluarga tetap mendukung, terutama suami. Yang penting baik bagi saya serta kesatuan, saya kira keluarga no problem. Karena, ini memang cita-cita saya. Polwan itu gagah, keren dan terampil, apalagi ketika interaksi dengan kriminal,” tambahnya.
Bripka Wiwid berharap, HUT ke-69 Polwan bisa menginspirasi para polwan di seluruh Indonesia untuk semakin profesional, modern dan terpercaya. Dia menganggap polwan sebagai profesi tangguh dan perkasa, karena menjalankan tugas sebagai istri, ibu dari anak-anak dalam rumah tangga, sekaligus menjadi pengayom masyarakat. “Polwan tak hanya berparas cantik, tapi juga harus mempunyai wawasan luas, berpola pikir luar biasa serta harus smart. Dengan demikian, kehadiran polwan di tengah masyarakat lebih bermakna dan dicintai,” tutupnya.(fino yudistira/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...