magista scarpe da calcio Duo Tunadaksa dan Tunanetra Mencari Nafkah


Duo Tunadaksa dan Tunanetra Mencari Nafkah

Hidup itu keras. Jika ingin bertahan, berjuanglah tanpa kenal lelah. Prinsip itu yang sekarang dilakukan penyandang tunadaksa Agung Widiyanto (27) dan penyandang tunanetra Sugeng Wahyudi (30). Sehari-hari, dua sahabat ini bahu membahu mencari nafkah.
Kerjasama yang bagaimana?. Agung tidak bisa berjalan sedangkan Yudi, sapaan akrab Sugeng Wahyudi, tak dapat melihat. Keduanya tidak ingin terpaku pada kelemahan masing-masing. Dua insan difabel ini memadukan kemampuan yang melengkapi satu sama lain. Mereka mengais rezeki dengan berjualan kerupuk. Setiap hari, berkeliling area Malang sejauh lebih dari 60 Km.
Agung dan Yudi menjadi tim, satu kesatuan yang tak bisa dilepaskan. Agung bertugas duduk di kursi roda sebagai penunjuk jalan, sedangkan Yudi yang tak bisa melihat mendorong kursi roda tersebut. Agung jadi mata Yudi, dan Yudi menjadi kaki bagi Agung.
Ketika matahari belum menunjukkan sinarnya, kedua pria itu sudah bangun terlebih dulu untuk mempersiapkan kerupuk dagangannya di rumah yang mereka kontrak di Jalan Bandulan gang 5 RT 2 RW 3 nomor 713 Kota Malang. Komunitas Rumah Sahabat namanya. Di tempat itu, mereka tidak tinggal berdua saja, karena ada 11 anak-anak jalanan dan beberapa di antara mereka mengalami cacat fisik, yang tinggal di sana.
Sebagai difabel, Agung dan Yudi tidak ingin menyerah pada hidup. Terdengar klise, namun itulah yang ingin mereka tunjukkan pada masyarakat sekitar. Bagi keduanya, bisa meraih penghasilan dari jerih payah dan keringat sendiri adalah sebuah kebanggaan. “Saya tidak mau menengadahkan tangan dengan meminta-minta. Selama masih bisa bekerja, terlepas dari kekurangan fisik yang kami miliki, maka kami akan bekerja,” ujar Agung saat ditemui Malang Post di rumah kontrakannya.
Saat itu, mereka berdua sedang tidak berjualan selama satu minggu, karena baru saja tertabrak sepeda motor saat perjalanan pulang. “Beberapa hari ini kami tidak jualan. Karena kursi roda yang biasa digunakan untuk Agung belum diperbaiki setelah tertabrak motor,” imbuh Yudi.
Dalam sehari-hari, mereka berdua terbiasa berjulan kerupuk dengan berjalan dari Bandulan menuju Kepanjen. Mereka berangkat pukul 04.00 WIB, di saat ayam jago belum berkokok. Bahkan tak jarang mereka pulang hingga tengah malam. “Kami berangkat pagi-pagi dengan harapan kerupuk yang kami beri merek Rumah Sahabat bisa cepat habis dan pulang cepat. Kalau cepat habis, kami pulang jam 18.00 WIB, kalau belum habis ya kadang bisa berjalan sampai Sumberpucung,” terang Yudi bersemangat.
Saat menjajakan dagangan, rute yang dilewati adalah jalan utama yang menghubungkan Malang dengan Kepanjen. Banyak orang tahu, rute tersebut bisa dikatakan ramai dengan lalu lalang kendaraan besar. Panasnya terik matahari, dinginnya malam serta liarnya jalanan mereka lalui karena semangat hidup untuk mandiri. Tak jarang, kedua sahabat itu terjatuh akibat lubang di jalan yang tak terlihat oleh Agung sebagai mata tim.
“Bagi kami itu bukan masalah, yang terpenting kami bisa jualan dan pulang membawa hasil untuk biaya sehari-hari. Kalau ada sisa kami tabung, uang itu untuk membeli alat musik. Sehingga bisa dipergunakan anggota komunitas untuk latihan,” bebernya.
Tak hanya berjualan kerupuk, Agung dan Yudi bersama ke 11 anggota komunitas Rumah Sahabat yang diprakarsai oleh Akhiles Alokako (43) sejak tahun 2008, juga mengembangkan keterampilan secara otodidak dalam bidang musik. Hal itu dilakukan mereka untuk mengisi waktu luang dan menambah pemasukan dari panggilan manggung. “Kami tidak hanya jualan kerupuk, tapi di Komunitas Rumah Sahabat, bersama teman-teman bermain musik. Tujuannya ya untuk membuka lapangan pekerjaan selain berdagang,” ceritanya bangga.
Komunitas Rumah Sahabat merupakan wadah kreatif untuk mengembangkan minat dan bakat anak penyandang cacat dan anak-anak yang berpikiran positif. Karena, lanjut Agung ada banyak anak-anak kurang beruntung di luar  sana yang perlu dibina agar memiliki keterampilan. “Di sini kami sangat terbuka untuk teman-teman yang ingin bergabung dalam mengembangkan keterampilan untuk mandiri. Sebab para penyandang cacat juga bisa berkarya seperti yang lain,” tegasnya.
Komunitas ini, lanjutnya, juga telah menciptkan berbagai lagu, mulai dari pop, keroncong, hingga lagu Jawa. Tak perlu kaget juga bila mereka telah memproduksi CD rekaman, berisi 10 lagu pop Jawa hasil ciptaan dan arensemen dari anggota. “Kami sudah pernah rekaman, beberapa keping CD terjual. Namun juga masih ada ratusan keeping CD yang belum laku,” papar Agung sembari menunjukkan kepingan CD yang tersisa.
Dari apa yang telah mereka kerjakan, terlihat rasa bangga terpancar dari cara bicara dan wajah penuh senyum kedua sahabat itu. “Dengan apa yang telah kami lakukan dan tunjukkan saat ini, adalah bukti jika kekurangan fisik bukanlah halangan untuk menjadi mandiri dan menunjukkan kreativitas yang kami miliki,” tandasnya.(eri/han)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top