Pemilik Satu Kaki Arif Setyo Budi yang Pantang Menyerah


Sore itu, Malang Post mendatangi Gubuk Cafe yang terletak di kawasan Jalan Gresik, Kota Malang. Sebuah tempat ngopi sederhana yang memiliki harga murah dan banyak dipadati anak muda. Di sebuah meja, terdengar riuh suara beberapa pegawai perbankan yang sedang bermain UNO Stacko, suasana semakin tampak hangat.
Sedikit melangkah ke arah dapur, Malang Post melihat sosok yang tak biasa. Seorang pria menggunakan tongkat sedang sibuk memasak nasi goreng untuk para tamunya. Setelah dilihat, ternyata pria tersebut hanya memiliki satu kaki. Namun, kondisi itu tidak mengurangi kegesitannya.
Pria tersebut adalah Arif Setyo Budi (30). Di usianya yang masih muda, dia pernah mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya harus merelakan kaki kanannya. Dengan semangat, dia tak ragu untuk berbagi cerita kepada Malang Post. "Dulu, saya bekerja di salah satu perusahaan plastik di kawasan Krian, Surabaya. Setelah enam bulan bekerja, tepatnya di tahun 2007, kaki saya masuk ke dalam mesin dan hancur," terang dia.
Setelah itu, Arif harus dilarikan ke Rumah Sakit di Surabaya. Di sana, dia mendapatkan perawatan intensif selama 1,5 bulan. "Selama itu, yang mendampingi saya dengan penuh adalah ibu. Saya mendapat tiga kali operasi. Kemudian, selama satu tahun, setiap satu minggu sekali, saya harus rutin kontrol ke Surabaya," jelas dia.
Setelah dinyatakan sembuh, Arif harus kembali menerima kenyataan pahit. Oleh perusahaan tempatnya bekerja, dia diberhentikan dan diberi pesangon. "Ketika itu, saya tidak langsung menyerah. Saya berpikir, inilah takdir saya dan harus saya hadapi. Saya ikhlas, tidak memikirkan apa-apa lagi," imbuh pria lulusan SMK Nasional ini.
Sekitar tahun 2008, dengan pesangon tersebut, ia langsung membuka warung internet (warnet) di rumahnya yang terletak di kawasan Sukun. "Perlahan-lahan, saya harus membangun semuanya mulai dari nol," tukas dia.
Di sela waktu mengelola warnet, Arif mengaku sering mendapat support dari teman-teman bermainnya. Apalagi, sejak 2005, dia selalu aktif dalam berlatih breakdance. "Setelah kecelakaan, salah satu teman saya mengajak saya main ke tempat latihan. Lama kelamaan, semangat latihan saya muncul lagi. Pelan-pelan, saya mulai ikut latihan breakdance," lanjut dia.
Tiga dari empat bersaudara ini menjelaskan, untuk berlatih breakdance dengan kondisi yang tak sempurna tidaklah mudah. Butuh proses penyesuaian untuk melakukan gerakan-gerakan breakdance yang cenderung ekstrem. "Selama dua bulan, saya menyesuaikan diri. Dalam satu minggu, sebanyak dua hingga tiga kali saya berlatih. Alhamdulilah, sekarang sudah lancar dan terbiasa," beber dia.
Dari beberapa gerakan breakdance yang ada,  seperti foot work (tangan di bawah dengan posisi kaki diputar-putar),  freeze (semacam gerakan headstand, posisi diam dengan kepala di bawah)  dan hand stand (berdiri dengan posisi tangan di bawah) berhasil dikuasainya. "Untuk gerakan dasar tersebut, saya bisa. Kalau untuk gerakan ekstrem, saya perlu waktu bertahun-tahun. Sudah mulai bisa beberapa," imbuh dia.
Perjuangan Arif pun membuahkan hasil, dengan hobinya tersebut, dia berhasil menorehkan beberapa prestasi. Di antaranya juara LA Streetball untuk tingkat Jawa Timur kelas breakdance pada tahun 2011 dan 2012. Selain itu, dia seringkali ikut kompetisi di wilayah lokal sekitar Malang Raya. "Beberapa waktu lalu, saya baru pulang dari Solo untuk menghadiri gathering breakdance se-Indonesia. Saya juga pernah diundang untuk workshop yang diadakan di Jogjakarta yang digelar oleh Duta Besar Amerika," tukas pria yang juga sering melakukan hobi gowes tersebut.
Keterbatasannya tersebut tak membuat dia menyerah. Tahun 2016 lalu, dirinya akhirnya membuka cafe Gubuk Kayu, cafe yang buka setiap hari dari pukul 15.00-23.00 tersebut, dia kelola sendiri. Mulai dari memasak dan menyajikan menu. "Sesekali, saya juga dibantu oleh keluarga dan adik," ujar dia sambil tersenyum.
Namun, masih banyak hal yang ingin dia raih. Arif masih memiliki cita-cita untuk membuka usaha di bidang fotografi dan videografi. "Saya suka dengan dunia foto. Ke depan, saya masih nabung mau buka studio sendiri," kata dia malu-malu.
Selain itu, dalam beberapa waktu mendatang, Arif ingin mewujudkan cita-citanya untuk mendaki gunung. "Saya pengin banget naik gunung. Saya suka traveling. Saya ingin ke Gunung Panderman atau Ranukumbolo. Kemarin sudah ajak teman-teman, saya siap berangkat," papar dia antusias.
Dalam menjalankan hidupnya, Arif juga berpesan kepada generasi muda agar tidak banyak mengeluh dan selalu bersyukur. "Kita harus bersyukur dengan apa yang sudah diberikan kepada kita. Kita tidak pernah tahu apa yang direncanakan oleh Allah. Mengeluh malah menghambat semuanya," tutur dia.
Selama ini, dia tidak pernah merasakan nyeri pada luka kakinya. Ketika nyeri, dia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya. "Paling hanya minum obat pereda nyeri. Kemudian, saya habiskan dengan main game dan berkumpul bersama teman-teman. Saya tidak pernah merasa minder. Saya malah terbuka dengan teman-teman. Saya juga lebih suka berkumpul dengan teman-teman komunitas," pungkas pria yang juga pernah ikut komunitas akar tuli tersebut.(amanda egatya/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...