Mengubah Image Trenggalek Daerah Gaplek


MEWUJUDKAN impian indah. Inilah yang kini tengah diperjuangkan Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak. Tidak mudah. Tetapi, Emil yakin tanah kelahiran orangtuanya, Hermanto Dardak itu bakal segera bisa sejajar dengan daerah lain di Jawa Timur.
Emil sadar betul, modal keilmuan saja tidaklah cukup.  Gelar S1, S2 dan S3 yang disandangnya belum tentu cocok untuk mengembangkan Trenggalek. Meski pun gelarnya diperoleh dengan perjuangan sangat keras di Australia dan Jepang.
Apalagi dengan modal sebagai artis. Sebelum menjadi bupati, Emil lebih dulu dikenal sebagai penyanyi. Trenggalek bukanlah ibukota Jakarta. Trenggalek, kabupaten di ujung barat selatan Jatim ini, sebagian besar wilayahnya merupakan pegunungan kars (kapur). Dari total luas 126.140 hektar, hanya sebagian kecil saja lahannya berupa pertanian. Trenggalek butuh ‘Superman’ agar menjadi lebih makmur.
Lahir di Jakarta, 20 Mei 1980, Emil dilantik sebagai Bupati Trenggalek 17 Februari 2016 berpasangan dengan M Nur Arifin. Berbekal pengalaman dan keilmuannya, Emil pun berusaha keras mewujudkan impian warga Trenggalek.
Tidak saja bermodal keartisan dan gelar sarjananya, Emil juga mengerahkan pengalamannya sebagai enterprenuer. Saat usianya masih sangat muda, 17 tahun, Emil telah dipercaya sebagai World Bank Officer di Jakarta dan Media Analysis Consultant di Ogilvy.
Puncak kariernya ditorehkan saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).
“Mendengar Trenggalek, image yang ada di bayangan orang pasti gaplek. Makanan rakyat yang identik dengan kemiskinan. Image inilah yang akan kita ubah,’’ tutur lulusan Melbourne Institute of Business and Technology ini.
Sektor ekonomi jadi pilihan pertama Emil. Agar lebih focus, Sumber Daya Alam (SDA)Trenggalek dieksplore habis-habisan. Memang terbatas. Tetapi SDA di Trenggalek masih berpeluang besar bertarung di pasar Jatim. Bentuk yang dipilih berupa produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Sasaran Emil cukup tepat. Tetapi, lagi-lagi sejumlah tantangan menghadang niatan Emil. Jatim sebagai provinsi yang padat penduduknya, sudah dikuasai big brand (merek raksasa). Apapun hasil UMKM dari Trenggalek pasti akan berhadapan dengan mereka.
Contoh, Nestle dengan berbagai produk makanan dan minuman. Tidak hanya susu. Tapi juga snack, kembang gula sampai cokelat. Belum lagi kelompok Unilever. Tidak hanya merajai produk kebutuhan rumah tangga. Raksasa bisnis yang berpusat di Amerika ini juga menguasai makanan olahan. Juga ada Danone Group. Kelompok bisnis asal Perancis ini yang kini menguasai pasar air minum mineral, aneka minuman susu dan makanan bayi.
Di atas langit masih ada langit. Di atas kekuatan raksasa, pasti masih ada kekuatan lain. Sadar tidak mungkin melawan big brand dengan mudah, Emil lantas menggunakan kekuasaannya. Melalui political will sebagai kepala daerah, Emil menempatkan UMKM berada di atas punggung para rakasa tadi. Para pemilik merek besar diminta mengangkat UMKM produk Trenggalek.
“Mereka jangan dilawan. Tapi diajak berkawan. Raksasa tidak boleh menginjak yang kecil. UMKM harus standing on the shoulder on the giant (berdiri di pundak raksasa),’’ kata suami artis Arumi Bachsin ini.
Satu demi satu kekuatan UMKM Trenggalek pun dipilah dan dipilih. Tidak hanya pemerintah, peran serta masyarakat pun dituntut lebih aktif.  Sebagai penguat, dilibatkan pihak ketiga untuk  menyempurnakan segalanya. Sistem, kualitas sampai cara memasarkannya.
Kemudian lahirlah Komunal Brand. Merek milik rakyat Trenggalek. Semua kekuatan UMKM diarahkan pada satu jenis merek. Tentunya merek yang menjadi ciri khas warga Trenggalek. Komunal Brand meliputi potensi bidang agro dan non agro.
“Untuk bidang agro, kami fokus di batik. Lalu produk kerajinan melalui laboratorium griya. Sedang untuk makanan, fokusnya susu dan kopi. Kita mau coba dulu, sistem ini (komunal brand) bisa berjalan atau tidak,’’ ujar bapak dua orang anak ini.
Berapa target penjualan yang ingin dicapai?. Emil tidak mau menjawabnya. Jika kualitas produk yang diperdagangkan bagus, penjualan pasti akan besar. Penjualan akan tetap bagus jika kualitas dijaga dan dipertahankan.
Sebagai contoh, batik Trenggalek. Agar bisa bersaing dengan batik-batik dari daerah lain, perlu di-komunal brand-kan. Setelah melalui riset cukup mendalam disepakati bahwa batik asal Trenggalek melebur namanya menjadi satu merek. Yaitu Batik Arumi.
Kerja keras Emil menjadikan Batik Trenggalek bisa bersaing di pasar dalam negeri kini sudah bisa dinikmati. Manajemen Plasa Sarinah Jakarta, memberi ruang untuk Batik Arumi Trenggalek diperdagangkan di plasa terkemuka di Indonesia ini.
“Saya tidak mau bicara target atau angka dulu. Harapan kami, perajin batik di Trenggalek bisa kami sejajarkan dengan perajin batik lain di Indonesia,’’ ujar Emil soal berapa omzet penjualan Arumi Batik di Plasa Sarinah.
Tidak hanya batik. Sebagai gudangnya perajin bambu, Emil tengah merintis komunal brand untuk produk bambu. Karena dari riset menunjukkan, aneka produk bambu Trenggalek sangat diminati warga asing. “Sumpit bambu yang digunakan semua restoran di Bali, mayoritas dari Kecamatan Gandusari,’’ pungkas Emil sumringah. (hary santoso/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...