Jadi Bahan Tesis, Direktur Pascasarjana pun Datang Menilai



GAMELAN melodi jawa berdenting di jelang satu Suro, atau 20 September 2017 lalu. Semerbak mawar tercium di wisma belakang Taman Krida Budaya Jatim. Seiring dengan selesainya adzan ashar, dua sosok meliuk keluar dari balik pintu berenda melati. Paramudita S.R Arbella dan Sandhidea Cahyo Narpati melenggang dengan indah.
Romansa pernikahan dua seniman tersebut menguasai penonton yang datang. Tatapan mesra mereka berpadu dalam gerakan. Sentuhan lengan Dea melingkar di tubuh Bella. Dikelilingi janur kuning, adegan tarian pernikahan Dea dan Bella pun dimulai. Dengan aksen gerak khas tari Malangan, Dea dan Bella saling mengeksplorasi.
Tak lama, Bella menuju area yang sudah dipasangi cermin. Dari refleksinya, kelompok penari keluar dari berbagai arah. Koreografi payung ditampilkan di hadapan pengunjung. Bella lalu dijemput oleh ayahnya, untuk dituntun ke tempat terbuka. Di sana, dia dinantikan oleh perias untuk persiapan menuju resepsi pernikahannya.
Setelah berbagai koreografi ditampilkan, Dea dan Bella, menuju adegan koreografi tirai ranjang. Simbol kemesraan pasangan, dikemas dalam bentuk koreo, dan ditutup dengan musik sebagai tanda dimulainya prosesi resepsi. Selama prosesi dan pertunjukan, Dea dan Bella memakai dua busana.
Busana pertama, adalah busana untuk tari. Lalu, jelang kirab, Dea sudah memakai setelan jas, sementara Bella mengenakan pakaian adat jawa. Keduanya, bertemu di depan gerbang TKBJ, untuk iring-iringan kirab temanten khas Jawa. Ya, adegan demi adegan yang ditampilkan tampak seperti pagelaran tari.
Namun, pertunjukan ini adalah bagian tak terpisahkan dari pernikahan Dea dan Bella. Lebih khusus lagi, Bella menjadikan perkawinannya, sebagai tesis penciptaan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Judul tesisnya, pemaknaan peristiwa sosial pribadi-pribadi yang terikat proses pernikahan dalam dimensi pertunjukan.
“Setelah koreografi payung, ada koreografi kendi, koreografi stong sunyi, yang eksplorasi gerak didukung eksplorasi seni rupa. Dilanjutkan dengan pemutaran perjalanan prosesi pernikahan saya, mulai dari awal lamaran, pencarian sumber air tujuh rupa hingga resepsi ini,” kata Bella kepada Malang Post, ditemui di kediamannya di daerah Rampal Celaket, sore kemarin.
Konsep menari dalam pernikahan ini, memang baru kali pertama digelar di Malang. Karena, pasangan tersebut adalah sesama penari yang sudah malang melintang di panggung Asia dan Eropa. Sehingga, pertunjukan tari sekaligus resepsi yang diberi judul Kemarau Kemarin Basah, menyajikan perspektif baru dalam pernikahan adat jawa.
“Saya ingin refresh budaya turun temurun adat pernikahan Jawa. Memang, para sesepuh sudah mewariskan adat pernikahan sejak lama. Tapi, sebagai generasi muda saya ingin memaknainya dengan sungguh-sungguh. Saya ingin pernikahan Jawa bisa dimaknai dengan lebih dalam,” jelasnya.
Dia menggambarkan pemaknaannya terhadap tatanan pernikahan Jawa lewat dokumentasi video yang digambarkan di sebuah layar proyeksi. Proses lamaran, midhodareni hingga siraman dijalani secara serius oleh Bella. Bahkan, dia mengunjungi tujuh sumber mata air yang berbeda untuk prosesi siramannya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :