Trainer Terapis Spa yang Dipercaya Hotel Berbintang Luar Negeri


Malang Post mendatangi Omah Sehat yang terletak di kawasan Jalan Simpang Wilis, Kota Malang. Sesampainya di sana, disambut wangi khas aroma terapi dan sapaan hangat sang pengelola, Indriya Asmitha (30). Dari tempat ini, puluhan terapis spa telah terbang ke Tiongkok, Turki, Dubai hingga Polandia. 
Kiprah Mitha –sapaan akrabnya,  di dunia massage dan spa sudah diakui oleh kelas internasional. Setiap tahun, Mitha mampu memberangkatkan puluhan terapis spa untuk kebutuhan hotel berbintang luar negeri. Rata-rata, tenagar kerja Indonesia (TKI) yang menjadi terapis di hotel ini mendapatkan gaji bersih antara Rp 7 juta sampai Rp 9 juta. Bisa juga lebih, tergantung skill yang dimiliki. Terapis juga masih berhak commision fee antara 5 persen sampai 7 persen tergantung kebijakan hotel dan negara.
Mereka tidak perlu mengeluarkan dana untuk tempat tinggal, sebab apartemen dan kebutuhan makan sudah disediakan oleh manajemen hotel.  Sebelum menjadi sukses seperti sekarang ini, Mitha sudah cukup banyak jatuh bangun namun tetap gigih berjuang untuk mengejar cita-citanya. Lulus SMK pada 2006, tak terpikir bagi Mitha untuk menjadi terapis spa. Wanita yang sekolah di SMKN 1 Batu tersebut mengaku lebih senang bergelut di dunia kecantikan dan salon. “Ketika itu, saya sekolah ambil jurusan kecantikan. Setelah lulus SMK, selama satu tahun saya kerja di salah satu salon yang terletak di wilayah Batu dan juga Kota Malang,” papar dia.
Selama sekolah, Mitha pernah meraih prestasi menjadi Juara Harapan I tingkat provinsi dalam bidang penataan rambut. Hal tersebutlah yang membuat Mitha akhirnya berkecimpung di dunia salon. Namun, pada akhir 2007, dia diminta sang mama untuk pergi ke Bali. “Ketika itu, mama pengin sekolahin aku di luar negeri. Tapi, nggak tahu gimana caranya. Akhirnya, mama sekolahkan aku untuk menjadi trainer spa di Bali dan aku berangkat ke sana pada 2009,” lanjut dia.
Ternyata, dari Pulau Dewata tersebut karier Mitha dimulai. Perlahan tapi pasti, karier Mitha terus naik hingga akhirnya dia dikirim ke Hawaii untuk menjadi supervisor spa. “Seteah dua minggu training, saya langsung dapat kerja jadi spa trainer. Setelah satu bulan, saya dapat promosi untuk bekerja di salah satu resort berbintang di Hawai. Tanpa pikir panjang, saya langsung ambil kesempatan itu,” papar ibu satu anak tersebut.
Di Hawaii, Mitha mendapat kontrak kerja selama dua tahun dan diawali dengan menjadi supervisor spa. Setelah tiga bulan, kerja keras Mitha membuahkan hasil, dia berhasil menjabat sebagai Asisten Manager. “Setelah dapat satu tahun, saya naik jabatan lagi jadi spa manager merangkap front office dan juga bertanggung jawab terhadap restoran yang ada di resort tersebut,” terang Mitha.
Selama perjalanan karirnya itu, Mitha berhasil membuat produk untuk kebutuhan spa, diantaranya scrub dan minyak pijat yang dibuatnya sendiri dari kulit jeruk dan kelapa. Dalam membuat ‘ramuan’ minyak pijat, dalam satu hari Mitha mampu memeras 40 buah kelapa untuk dibuat minyak. Sedangkan sisa ampasnya, dia campurkan kulit jeruk untuk menjadi scrub. “Ketika itu, sekitar tahun 2010-2012 saya bekerjadi sana dan dapat hasil itu. Produk saya sempat dibantu bos untuk dijual ke Taiwan dan Jepang. Setelah kontrak habis, saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan tidak melanjutkan kontrak lagi,” jelas Mitha.
Sekitar Maret 2012, Mitha akhirnya pulang ke Batu. Namun ternyata, kerja keras Mitha tercium hingga ke Tiongkok. Sekitar Oktober 2012, Mitha mendapat panggilan dari salah satu bos Starwood Hotels yang membawahi beberapa hotel berbintang, seperti Sheraton Hotel. “Akhirnya, saya berangkat ke Beijing selama satu setengah tahun dan dipercaya menjadi Spa Manager. Alhamdulilah, ketika itu saya juga mendapat penghargaan sebagai The Best Employee Care for The Business pada 2013,” lanjut Mitha.
Di sana, kerja keras dan prestasi Mitha pun sempat dilirik oleh salah satu media di Tiongkok dan berhasil menjadi sorotan. “Ketika itu, saya diwawancarai oleh majalah Redstar terkait tentang award sebagai the best employee dan kemampuan saya dalam berbahasa Filipina,” ungkap dia malu-malu.
Setelah berhasil menorehkan prestasi dan mencatatkan namanya di Tiongkok, Mitha akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia sekitar 2013. Ketika pulang, sulung dari tiga bersaudara ini memutuskan untuk membuat usaha sendiri yang berada di daerah Junrejo Batu dengan nama Spa Training Center. “Saya kepikiran agar pahlawan devisa kita ke luar negeri tidak hanya menjadi asisten rumah tangga saja. Tapi, dapat menjadi tenaga ahli yang memiliki skill dan bekerja di hotel bintang lima serta mendapatkan fasilitas serta gaji yang jauh lebih baik ,” ujar dia antusias.
Tak lama kemudian, kerja keras Mitha kembali dilirik oleh Rumah Sakit Baptis, Batu. Di sana, dia dipercaya untuk mengelola konsep medical spa. “Di RS Baptis, saya yang memikirkan konsep dan merekrut karyawan untuk kebutuhan spa. Berawal dari buka training center hingga konseptor medical spa dan memanfaatkan link yang saya punya, akhirnya saya mampu memberangkatkan beberapa orang ke luar negeri untuk menjadi terapis spa untuk hotel yang berada di bawah naungan Starwood Hotels,” imbuh dia.
Mitha mengatakan, setiap tahun, pihaknya mampu memberangkatkan minimal 10 hingga 16 orang untuk bekerja di hotel berbintang tersebut. “Sejak 2013 hingga sekarang, yang sering jadi langganan adalah Tiongkok, Turki, Dubai dan Polandia. Keberangkatannya juga tergantung permintaan hotel, butuh berapa orang,” lanjut wanita yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Spa Batu tersebut.
Seolah tak bisa berdiam diri, Mitha bersama rekan-rekannya, pada tahun 2014 membuka spa di Singashari Resort Batu bertajuk Paras Ayu. Dua tahun kemudian, dia kembali membuka Omah Sehat di wilayah Kota Malang. “Saat ini, sudah ada 15 karyawan yang bekerja dengan saya. Tidak perlu khawatir, jenjang karir pasti ada. Untuk ukuran manager dan supervisor, saya tidak rekrut dari lulusan sarjana. Tapi , saya merekrut karyawan loyal yang mau berjuang dengan saya sejak 2013 itu,” ujar dia.
Wanita yang saat ini sudah menjadi auditor dan assesor spa tersebut juga sering mengajarkan dan mendidik banyak anak-anak SMK hingga ibu rumah tangga untuk membuat produk dari bahan alami yang ada untuk menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Dia mengaku, sering dipanggil ‘ibu dokter’ lantaran dia mengerti tentang anatomi tubuh hingga khasiat bahan alami. “Banyak yang mengira saya dokter, hahaha. Nah, sambil mengajar itu, saya juga memberikan motivasi kepada mereka, meskipun hanya lulusan SMK, jangan malu dan jangan menyerah,” imbuh wanita yang baru-baru ini menbuat konsep untuk Aruna Massage di Desa Bumiaji, Batu tersebut.
Mitha menambahkan, segala kerja keras tidak akan ada yang sia-sia dan pasti akan membuahkan hasil. Baginya, kerja keras, jujur, percaya diri dan memiliki silaturahmi yang baik adalah kunci utama kesuksesan. “Saya dulu nggak kuliah karena kasihan adik-adik. Biar adik-adik saya saja yang kuliah, masa depan mereka masih panjang. Mungkin saya sebentar lagi mau meneruskan kuliah juga, baru kepikiran. Kerja keras tidak mengkhianati hasil,” pungkas dia.(amanda/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...